Ibu dengan HIV/AIDS ini melahirkan 2 anak sehat, seperti ini kisahnya

lead image

Bagaimana kisahnya membesarkan 2 anak yang HIV negatif?

Parents tentu telah memahami bahwa penderita HIV dan AIDS memiliki hak sama untuk bisa menikmati hidup di tengah masyarakat. Bahkan, penderita HIV dan AIDS bisa menikah, memiliki anak sehat dan tidak terinfeksi HIV/AIDS.

Tidak percaya? Dalam rangka memperingati Hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember kemarin, theAsianparent ingin berbagi kisah perjuangan seorang ibu yang membesarkan kedua putranya. 

Adalah, BVN, seorang ibu, penderita HIV /AIDS yang membuktikan bahwa meskipun ia terinfeksi HIV/AIDS selama 16 tahun, ia bisa melahirkan dua anak sehat. Virus itu BVN dapatkan lewat penularan jarum suntik ketika ia pernah menggunakan obat terlarang.

Tidak bisa dipungkiri, dengan status HIV/AIDS yang melekat pada dirinya, perempuan berusia 37 tahun ini telah melewati perjalanan hidup yang penuh warna.

Namun, semua kesulitan yang menghadang berhasil ia lewati, demi membesarkan kedua buah hatinya. Kalimat, “Once you choose HOPE, anything is possible,” ibarat sebuah ‘mantra’ yang selalu ia ingat dalam menjalani hidup ini. Dengan adanya harapan, kita tentu bisa melihat ada cahaya di tengah kegelapan.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/Screenshot 254.jpg Ibu dengan HIV/AIDS ini melahirkan 2 anak sehat, seperti ini kisahnya

Berikut kutipan wawancara theAsianparent Indonesia, dengan BVN seorang ibu dua orang anak, penderita HIV/ AIDS

Tahun berapa, didiagnosis poistif HIV/ Aids?

Waktu itu awal tahun 2002.

Masih ingat nggak apa, apa yang pertama kali terbersit di benak pertama kali ketika mendengar kabar bahwa Anda positif penderita HIV/ AIDS?

Hmm, pertama-tama, yang terbersit saat itu adalah pikiran, ‘Oooh… berarti hidup saya sudah nggak akan lama lagi. Cita-cita di masa depan tinggal mimpi saja. Jadi percuma juga kalau saya berhenti pakai pakai drug – mending terusin aja.  Toh, sudah hancur juga hidup gue.’

Tapi hingga pada satu titik, saya memutuskan untuk berhenti, dan memulai untuk hidup ‘bersih’.

Setelah dinyatakan positif menjadi penderita HIV/ AIDS, kemudian memutuskan untuk menikah apa yang membuat Anda dan pasangan yakin merencanakan kehamilan?

Actually dari 2002 sampai 2009, saya sudah menetapkan dalam hati kalau nggak mau punya anak. Karena apa? Ya, karena saya nggak mau anak sampai terinfeksi juga.

Walaupun sejak tahun 2006, saya sudah aktif berkegiatan sosial di beberapa LSM yang peduli dan menangani program pencegahan, perawatan, pengobatan untuk pecandu narkoba & OdHA (orang dengan HIV/AIDS). Kemudian, masuk tahun 2010, entah wangsit dari mana… tiba-tiba saya malah mau punya anak.

Tentunya dengan harapan anak saya nantinya bisa nerusin perjuangan ‘to end stigma negatif pada OdHA & pecandu. Juga selalau ada yang kirim doa buat saya kalau memang saya sudah ‘berpulang’ ke akhirat. Alhamdulillah doa terkabul, September 2011 lahirlah anak pertama, dan statusnya sudah dicek kalau memang HIV negatif.

Oh ya, apakah pasangan juga sama-sama dengan kondisi positif HIV/ AIDS?

Ayah dari anak yang pertama HIV negatif. Namun kami pisah tahun 2016 kemarin dan nggak lama aku ketemu dengan almarhum ayah dari anak yang kedua. Kami sama-sama HIV positif, namun Tuhan lebih sayang dengan dia, hingga akhirnya disudahi tugasnya di dunia. Tepat tahun baru 2018, sebulan sebelum anak kami lahir, ia meninggal.

Dengan status HIV/ AIDS, saat merencanakan kehamilan pemeriksaan apa yang harus dijalankan ketika itu?

Yang pasti pemeriksaan kehamilan pada umumnya atau prenatal, seperti USG, ditambah cek lab untuk cek kekebalan tubuhku seperti apa (tes CD4/CD8).

Treatment seperti apa yang harus dilakukan selama kehamilan, khususnya sebagai langkah agar janin tidak tertular dengan HIV AIDS?

Untuk hal ini saya mengikuti program yang disebut PMTCT (Prevention Mother to Child Transmitions), terapi obat Antiretroviral (ARV) mulai dari awal kehamilan, proses persalinan dengan Sectio/Caesar & tidak memberikan ASI pada bayi.

Bagaimana dengan proses menyusui? WHO juga merekomendasikan agar ibu dengan HIV/AIDS tetap memberikan ASI, apakah hal ini dilakukan juga?

Sebetulnya rekomendasi WHO terkait pemberian ASI ekslusif oleh ibu yang positif HIV sudah dirilis sejak 30 November 2009. Dengan syarat ibu dan bayi diberi obat antiretroviral selama periode menyusui dan sampai bayinya berusia 12 bulan.

Tapi memang di negara kita baru mulai diterapkan, kalau tidak salah tahun 2013. Namun pilihan ini tentu memang akan kembali lagi ke masing-masing individu. Kalau saya, dari anak pertama dan kedua memang memilih untuk tidak menyusui karena masih ada kekhawatiran untuk kemungkinan menularkan HIV pada anakku.

Alhamdulillah kedua jagoan saya ini sudah di tes semua, dan hasilnya semua HIV negatif.

Ada hal yang ingin disampaikan buat masyarakat khusus para orangtua terkait dengan hari AIDS 1 Desember kemarin?

Saya sangat berharap masyarakat, khususnya para orangtua untuk tidak pernah bosan belajar dan menggali pengetahuan tentang kesehatan.

Dengan memiliki informasi yang jelas dan tepat khususnya terkait HIV/AIDS, kita jadi tahu bagaimana untuk mencegah – mengobati – merawat dengan benar. Hingga akhirnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA atau penderita HIV dapat hilang.

Karena sebenarnya HIV/AIDS bisa dialami siapa saja. Bahkan bayi sekali pun punya risiko untuk tertular. Terlepas dari perilaku dan pola hidup yang dianggap ‘tidak baik’.

Saat ini, WHO pun mengimbau, ketauhilah status HIV kita sedini mungkin – untuk masa depan dan generasi penerus yang lebih baik.

Terakhir untuk para orangtua, yang memiliki anak HIV+, jangan bersedih, dan tidak perlu malu. Ayo bangkit bersama. Once you choose HOPE, anything is possible.

Gunakan kondom, sebagai langkah awal terhindar dari HIV/AIDS 

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/kondom.jpg Ibu dengan HIV/AIDS ini melahirkan 2 anak sehat, seperti ini kisahnya

Mengingat sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah penularan inveksi HIV/ AIDS, penting bagi kita semua untuk mengetahui beberapa upaya untuk mencegah penularan. Sebenarnya ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk mengindari terinfeksi dari HIV/ AIDS. 

Pertama, sama seperti yang dikatakan BVN, penting bagi kita semua untuk memiliki informasi yang benar terkait dengan HIV/AIDS. Cari tahu, apa saja yang bisa menyebabkan penularan, cara mencegah, dan memahami mana persepsi yang benar dan salah.

Selain itu, salah satu cara menekan penularan HIV/AIDS tentu saja dengan menggunakan kondom yang baru setiap kali berhubungan seks, terutama jika memang ada risiko tinggi tertularnya HIV/AIDS.

Dihubungi secara terpisah, dr. Merwin Tjahjadi Sp.OG dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya menegaskan bahwa kondom memang merupakan sarana pencegahan HIV yang paling efektif dengan tingkat keefektifan mendekati 96-99%. Syaratnya, tentu saja memang harus dilakukan dengan disiplin dan digunakan dengan benar.

Diceritakan oleh BVN, aktivitas seksual yang ia lakukan memang selalu mengandalkan kondom agar tidak menularkan pada pasangan. Namun, ketika merencanakan kehamilan, sebagai ODHA dirinya harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Dokter kemudian akan memintanya rutin melakukan tes Cluster Differentiation 4 (CD4) untuk mengontrol jumlah sel darah putih. 

“Idealnya untuk memiliki anak pada perempuan HIV+ sebaiknya dianjurkan untuk mengikuti program PMTCT, jadi si calon ibu sudah mengonsumsi obat Antiretroviral dan virus telah dinyatakan tidak terdeteksi/undetectable melalui tes lab ‘viral load/penghitungan jumlah HIV dalam darah’. Otomatis calon ibu memiliki jumlah CD4 yang mumpuni untuk menjaga imunitas tubuhnya”

“Lalu disarankan untuk berhubungan dengan melepas kondom dengan pasangan di saat masa subur/menggunakan sistem kalendar. Karena pada masa subur ini, imunitas calon ibu juga lebih tinggi dan kemungkinan menularkan HIV ke pasangan (yang HIV negatif) menjadi sangat kecil,” paparnya.

dr. Merwin Tjahjadi menambahkan, prinsip untuk pasangan suami istri dengan HIV/ AIDS yang sedang merencanakan kehamilan sebenarnya adalah dengan menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh sampai serendah-rendahnya dulu, atau bahkan tidak terdeteksi dengan pengobatan ARV.

“Dan tentunya, perlu menjaga daya tahan tubuh sebaik-baiknya. Mengenai metode kehamilannya memang bisa melalui proses alamiah,” tegas dr. Merwin.

Mirisnya, lewat data yang dikeluarkan oleh DKT Indonesia, ternyata 49% wanita Indonesia dan 55% pria di Indonesia yang tahu bahwa membatasi hubungan seksual hanya dengan satu pasangan dan juga menggunakan kondom secara konsisten dapat menurunkan risiko penularan HIV.

Padahal, data Kemenkes RI menyebutkan bahwa kejadian kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan hingga Juni 2018 sebanyak 301.959 orang. Sebanyak 76,2 persennya atau 3 di antara 4 orang yang terkena HIV di Indonesia disebabkan karena hubungan seksual yang tidak terproteksi.

Sebuah penelitian dari National Institutes of Health membuktikan bahwa penggunaan kondom memang efektif tetap memberi perlindungan sepuluh kali lebih baik daripada tidak menggunakan sama sekali.

Artinya, walaupun kondom bisa mengurangi kemungkinan tertularnya HIV namun risiko memang tetap akan ada, karena kondom tidak bisa memberikan jaminan melindungi secara 100%.

Oleh karena itu selain menggunakan kondom, mencegah agar tidak tertular, tentu saja diperlukan kesadaran diri sendiri untuk selalu setia dengan satu pasangan saja sehingga tidak melakukan seks bebas dengan berganti-ganti pasangan seksual.

Selain itu, penting bagi orangtua untuk mengajarkan pendidikan seks pada anak secara dini dengan menekankan untuk tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah.

Kalau bukan diri kita sendiri yang memulai untuk mengubahnya? Lalu siapa lagi? Oleh karena itu, #ubahhiduplo mulai dari sekarang.

 

Baca juga:

Wow, Seorang Anak Pengidap AIDS Dinyatakan Sembuh oleh Dokter!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.