Psikolog: "Jangan ajarkan anak kalau semua orang asing itu berbahaya!"

Psikolog: "Jangan ajarkan anak kalau semua orang asing itu berbahaya!"

"Istilah stranger danger itu kini kita ganti dengan stranger safety karena efeknya yang cukup besar untuk anak," ujar seorang psikolog.

“Kalau lagi jalan-jalan, jangan mau diajak ngomong sama orang asing yang nggak kamu kenal, ya. Apalagi kalau sampai dikasih sesuatu. Banyak orang jahat di luar sana.”

“Sekarang tuh banyak penculik, makanya hati-hati sama orang asing. Jangan sampai kamu diculik!”

Kalimat di atas terdengar begitu familiar, ya, Parents? Melepas anak ke dunia luar dan bertemu dengan berbagai macam orang  yang belum dikenal memang bisa menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

Namun bukan berarti, kita sebagai orangtua bisa memberikan label pada orang asing bahwa mereka ‘menakutkan’ dan perlu dihindari, lho! Pasalnya, hal ini justru bisa menimbukan beberapa risiko.

Orang asing semua berbahaya, ini efek negatif yang bisa ditumbulkan

orang asing 4

Parents mungkin pernah mendengar istilah stranger danger. Ya, istilah ini memang banyak digunakan di Amerika Serikat.

Dikatakan oleh Saskhya Aulia Prima, M.Psi., selaku Psikolog Anak dan Remaja, istiah ini mulai muncul karena banyak kasus anak hilang di Amerika Serikat. Namun karena imbasnya yang cukup besar, istilah itu mulai diganti dengan istilah stranger safety.

“Dulu mungkin sejarahnya banyak anak yang hilang jadi di Amerika sehingga sampai ada campaign tentang stranger danger. Cuma itu hanya beberapa kasus ekstrem saja. Kita perlu ingat kalau tidak semua orang asing itu berbahaya.

Karena di saat-saat tertentu, ketika anak hilang misalnya anak justru butuh bantuan orang asing seperti satpam, pertugas informasi di mall, pelayan, dan lain-lain. Itu kan stranger juga. Oleh karena itu, sekarang kita bilangnya bukan stranger danger tapi stranger safety,” ujarnya saat ditemui belum lama ini.

Saskhya pun menceritakan salah satu kasus ekstrem yang ia temui. Di mana seroang anak menjadi sangat takut untuk bertemu dan berbicara dengan orang asing karena selalu dididik untuk tidak berbicara dengan stranger.

“Dulu keluarga besarnya punya pengalaman buruk dengan orang asing. Dengan tetangga. Jadi mereka dimusuhin dan dikerjain. Jadi dari kecil anaknya dididik untuk tidak bicara dengan orang lain hanya boleh dengan orang rumah.

Akhirnya setelah dia berusia 6 tahun, dia jadi nggak mau ngomong sama siapapun. Padahal kan di usia itu dia sudah mau masuk SD. Jadi dia izin ke toilet pun dia nggak berani bilang sama gurunya. Lalu setiap pulang sekolah tuh dia selalu lari cepet ke rumahnya karena jarak sekolah dan rumahnya dekat. Itu terjadi karena dia merasa terancam,” jelas Saskhya.

Sebagai seorang psikolog sekaligus seorang ibu, Saskhya mengingatkan pada para orangtua untuk tidak memberikan kalimat ekstrem pada anak. Salah satunya dengan mengatakan bahwa semua stranger itu berbahaya.

“Makanya saya selalu bilang jangan kasih pesan ekstrem pada anak. Karena anak itu sangat kongkrit. Kalau dia dapat pesan itu yang terekam di otaknya dia adalah pesan itu.

Jadi orangtua sebaiknya berikan pesan yang realistis pada anak, yang bisa dia terima. Salah satu contohnya ya dengan tidak mengatakan semua stranger itu berbahaya. Lebih baik jelaskan, mana perilaku dan situasi yang berbahaya untuk dia,” tegasnya.

Artikel terkait: 10 Cara mendidik anak perempuan agar menjadi pribadi mempesona

Cara mengajarkan anak agar berhati-hati dengan orang asing

Dibandingkan mengatakan pada anak bahwa semua orang asing itu berbahaya. Saskhya lebih menyarankan orangtua untuk membedakan situasi mana yang berbahaya dan tidak berbahaya untuknya.

“Jadi yang diajarkan pada anak itu bukan stranger itu semuanya berbahaya. Tapi bagaimana anak bisa membedakan situasi yang berbahaya dan tidak berbahaya. Karena kan di negara kita atau di negara-negara yang lain, banyak juga stranger yang sebenarnya baik dan hanya ingin menyapa saja. Ketika itu terjadi anak kan harus merespon. Kalau dia tidak merespon nanti jatuhnya bisa ke masalah sopan santun,” jelas Saskhya.

orang asing 3

Lebih lanjut, psikolog dari Tiga Generasi ini memamparkan pentingnya mengenalkan tahapan konsep stranger pada anak.

Dalam hal ini Saskhya juga mengingatkan kalau menjelaskan konsen orang asing pada anak sebenarnya perlu disesuikan dengan usia.

  • Usia 3 – 4 tahun

“Kalau usia 2-3 tahun memang agak susah untuk kita memberikan penjelasan tentang konsep stranger. Usia 4 tahun dia mulai mengerti, ‘Oh stranger itu apa sih? Ya, orang yang gak pernah dia kenal’. Usia 5-8 tahun dia lebih dewasa lagi jadi dia tahu konsep stranger’,” ujarnya.

“Perlu diingat kalau usia 4 tahun sebaiknya anak tetap kita temani ke mana-mana, karena dia masih belum bisa menahan reaksi yang diberikan orang. Misalnya ketika ada yang ngasih permen ya dia akan ambil karena itu kesukaanya.

  • Usia 5- 8 tahun

“Ketika anak telah memasuki usia 5-tahun , orangtua sudah bisa melepas anak. Namun tetap dalam jangkauan orangtua, kayak mainnya ke mana aja dan sama siapa,” tambahnya.

Hal penting lain yang perlu diingat, saat menjelaskan konsep stranger, bahwa orangtua harus menjelaskan seperti apa stranger yang berbahaya dan tidak berbahaya untuk dia.

“Kita ajarin nih stranger seperti apa yang bisa dia minta tolong. Misalnya, orang yang menggunakan seragam. Seperti satpam, polisi, hansip, pelayan, petugas informasi, dan lain sebagainya. Juga ibu-ibu yang sedang membawa anak biasanya tidak berbahaya.

Kita juga bisa mengajarkan pada anak, orang asing yang berbahaya. Misalnya, orang yang mengajak dia pergi tanpa orangtuanya, orang yang memberikan makanan tiba-tiba, orang yang meminta dia merahasiakan sesuatu, dan orang yang minta tolong bantuan. Karena kan dia anak-anak kenapa dia harus membantu orang asing tersebut?,” tegasnya.

Saskhya berharap orangtua bisa menjelaskan secara detail bagaimana bentuk perilaku atau situasi yang tidak aman untuk anak. Bukan bilang bahwa semua stranger itu berbahaya.

“Saat kita memberitahu itu, kita bisa ajak anak untuk mencatat apa saja perilaku dan situasi yang tidak aman untuk dia. Kita juga bisa melakukan roleplay agar anak benar-benar memiliki gambaran.

Ketika melakukan roleplay jangan lupa untuk ajari dia cara menyelamatkan diri dari perilaku dan situasi itu. Misalnya dengan cara menolak yang halus, mencari bantuan pada orang berseragam (polisi, satpam, dll), dan lari ke tempat yang ramai,” tutupnya.

orang asing

Baca juga

Tips Berkomunikasi dengan Mertua Tentang Cara Mendidik Anak Saat Anda Tinggal Bersama

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner