Pakaian adat Sumatera Selatan menjadi salah satu pakaian adat Indonesia yang memiliki tampilan mewah. Apa saja jenis-jenis pakaian adat Sumatera Selatan?
Beberapa pakaian adat Sumatera Selatan di antaranya adalah aesan gede, yang berarti pakaian hiasan pembesar Palembang dan pak sangkong yang berarti pakaian 8 dewa.
Aesan gede dan pak sangkong merupakan pakaian adat Sumatera Selatan yang sarat dengan simbol keagungan. Karena identik dengan kemewahan, dua jenis pakaian tersebut kerap dipakai pengantin ketika acara resepsi pernikahan di Palembang.
Umumnya, pakaian aesan gede dan pak sangkong dipakai pasangan penganti saat puncak dari prosesi pernikahan, yaitu munggah.
Lantas, apa saja sih wujud, ciri khas dan kelengkapan atributnya yang sarat makna dari pakaian adat Sumatera Selatan? Mari ketahui dalam artikel berikut!
Pakaian Adat Sumatera Selatan Aesan Gede
Baju Adat Aesan Gede
Pakaian adat Sumatera Selatan aesan gede didominasi warna merah dengan benang emas dari tenunan kain songket. Unsur keemasan dan gemerlap ini sesuai dengan citra Sumatera di masa lalu yang dikenal sebagai swarnadipa atau pulau emas.
Pengantin perempuan menggunakan busana aesan gede berupa baju kurung warna merah. Baju kurung ini berhiaskan motif bertabur bunga bintang keemasan yang dipadukan dengan kain songket lepus bersulam emas.
Umumnya, busana ini dilengkapi dengan penutup dada, perhiasan dan mahkota dengan untaian bunga.
Sementara itu, pada busana pria berbentuk jubah bertabur bunga emas, celana, dan kain songket serta songkok emas sebagai penghias kepala.
Artikel terkait: Pakaian Adat Sunda, Dahulu Dibedakan Berdasarkan Status Sosial
Makna dan Aksesori Pelengkap Pakaian Adat Sumatera Selatan Aesan Gede
Makna Pakaian Adat Aesan Gede
Setiap detail dan motif pada pakaian adat aesan gede memiliki makna tersendiri dan unik. Apa saja?
Kain Songket Lepus
Kain ini dipakai memiliki motif geometris abstrak dan motif zigzag. Songket lepus merupakan songket tertua dalam sejarah. Makna simbol yang terdapat pada kain songket ini adalah keramahan, ketertiban dan saling menghormati.
Celana Sutra
Merupakan celana panjang yang berbahan sutra. Pada bagian bawahnya terdapat bordiran berbentuk bunga yang mempunyai tangkai dan menjalar panjang. Ini merupakan simbol mentalitas yang sangat gigih dalam menjalani kehidupan.
Kesuhan
Merupakan mahkota yang dikenakan pengantin laki-laki dan perempuan. Kesuhan pada laki-laki berarti seorang laki-laki harus memiliki sifat berani dalam keluarga dan masyarakat.
Sementara, kesuhan pada wanita berarti wanita harus memiliki sifat keibuan, kelembutan dan punya rasa kekeluargaan.
Cempako
Cempako adalah bunga cempaka yang dipakai di kepala. Maknanya agar pengantin menjaga keindahan perilakunya.
Sanggul Malang
Sanggul ini merupakan rambut yang digelung rapi, bermakna perempuan sebagai sosok yang anggun, rapi dan tenang dalam menghadapi sesuatu.
Tebeng Malu
Tebeng malu adalah penutup bagian samping kepala berbentuk bola-bola warna-warni yang dirangkai dan dipasang disamping telinga. Memiliki makna bahwa manusia harus menjaga pandangannya.
Terate
Merupakan hiasan yang digunakan oleh pengantin laki-laki dan perempuan untuk menutupi bagian dada dan pundak. Hiasan ini menggambarkan kemegahan, kesucian, dan kesabaran dalam hal apapun.
Kebo Munggah
Juga disebut kalung tapak jajo, berarti kesuburan dan dipandang sebagai penolak yang jahat jahat.
Selempang Sawit
Selempang sawit berjumlah 2, dipakai menyilang dari bahu kiri ke pinggang sebelah kanan, dan dari bahu kanan ke pinggang sebelah kiri. Hiasan ini memiliki makna bahwa laki-laki dan perempuan harus sejajar.
Keris
Keris yang digunakan pengantin pria keturunan bangsawan diselipkan di pinggang depan sebelah kanan dengan gagangnya menghadap keluar.
Untuk laki-laki yang bukan bangsawan kerisnya diletakkan di bagian pinggang belakang. Hal ini untuk menghormati para raja atau atasan.
Pending
Merupakan bagian dari pakaian adat Sumatera Selatan yang digunakan sebagai ikat pinggang laki-laki dan perempuan berbentuk lempengan. Pending bermakna perempuan dan laki-laki siap untuk menjalani kehidupan.
Gelang Palak Ulo
Gelang ini dikenakan oleh pengantin perempuan di lengan adalah gelang emas 24 karat bertabur berlian dengan bentuk ular naga bersisik dan berpulir.
Sapu Tangan Segitigo
Sapu tangan ini terbuat dari beludru berwarna merah yang salah satu sisinya bertabur kelopak bunga melati dari emas.
Memiliki makna ketegaran dan ketenangan hidup.
Cenela
Merupakan sejenis sandal yang dipakai oleh kedua mempelai pengantin, biasanya berwarna senada dengan atasan. Cenela memiliki makna dalam melangkah harus mempunyai pelindung diri, yakni agama.
Artikel terkait: Mengenal Pakaian Adat Aceh yang Dipengaruhi Ragam Budaya
Pakaian Adat Sumatera Selatan Pak Sangkong
Pakaian Adat Pak Sangkong
Meski atribut pada busana aesan gede dan pak sangkong memiliki kemiripan, aesan gede identik dengan kemewahan, sedangkan pak sangkong tampak anggun.
Pengantin pria memakai songket lepus sulam emas yang dipadukan dengan jubah motif bunga emas, selempang dan celana. Serta dilengkapi dengan hiasan kepala berupa songkok emas.
Sementara itu, pengantin perempuan memakai baju kurung atau dodot berwarna merah bermotif taburan bintang emas. Hiasan kepala berupa mahkota pak sangko, teratai penutup dada, serta kain songket bersulam emas.
Artikel terkait: Ragam Baju Adat Papua yang Unik dan Masih Tetap Lestari
Makna dan Aksesori Busana Pak Sangkong
Makna dan Aksesori Busana Pak Sangkong
Hiasan kepala berupa pak sangkong dipakai di kepala bagian kening.
Pada mahkota terdapat motif hias bunga teratai dan setangkai bunga mawar, serta motif dasar berbentuk lingkaran.
Bunga teratai merupakan simbol dari kesucian. Bunga mawar adalah simbol dari kekeluargaan, juga matahari dan bulan.
Sementara motif hias berbentuk lingkaran merupakan simbol dari benda angkasa matahari yang bermaksud sebagai kepercayaan terhadap Tuhan.
Secara keseluruhan, mahkota pak sangkong merupakan simbol dari kesucian dan kepercayaan terhadap Tuhan.
Busana pak sangko dikenakan bersama dengan kain songket, yang merupakan ciri khas dari pakaian adat Sumatera Selatan.
Motif kain songket secara simbolis menunjukkan bahwa masyarakat Palembang ramah, tertib dan saling menghormati satu sama lain.
Umumnya dodot juga memiliki motif senada dengan kain songket.
Ini menyimbolkan bahwa kedua pengantin sebagai makhluk sosial, harus ramah, tidak boleh sombong.
Selain itu pengantin juga harus saling menghormati sesama manusia dan menjaga ketertiban
Jubah yang dikenakan merupakan akulturasi dari budaya Arab. Berupa baju panjang bertabur motif bunga teratai yang digambarkan seolah mengapung di air.
Teratai sendiri melambangkan kebahagian pengantin yang telah menikah.
Rompi digunakan bermotif tunas tumbuhan dengan pola geometris zig-zag. Tunas adalah simbol agar manusia bermanfaat bagi yang lainnya, sementara motif zig-zag bermakna sama dengan motif songket dan dodot.
Baju kurung pada pengantin wanita mendapatkan pengaruh dari budaya Melayu-Islam. Agar senada, baju kurung harus bermotif sama dengan jubah pengantin laki-laki.
Bermotif taburan bunga sebagai simbol bahwa pengantin perempuan juga sedang berbahagia atas pernikahannya.
Itulah pakaian adat Sumatera Selatan dan maknanya. Semoga informasi di atas bermanfaat ya Parents!
Baca juga:
8 Pakaian Adat Sumatra Utara Beserta Filosofinya yang Unik, Apa Saja?
Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.