Sepasang remaja kepergok berbuat mesum di parkiran mobil, ini yang harus Parents lakukan untuk mencegahnya

lead image

Bagaimana orangtua harus menyikapi agar anak-anak tidak melakukan perbuatan ini?

Generasi muda tampaknya semakin berani melakukan tindakan di luar batas. Seperti yang dilakukan oleh sepasang remaja di Singapura yang kepergok berbuat mesum di tempat umum.

Berbuat mesum di tempat umum

Seperti yang dilaporkan oleh Stomp, insiden tersebut terjadi tanggal 30 Januari 2018 di Choa Chu Kang North 7, Singapura. Pasangan tersebut dengan berani melakukan hubungan seks di area gedung parkir pada pukul 10 – 11 malam waktu setempat.

Masalahnya, lokasi mereka melakukan perbuatan mesum tersebut dapat dengan mudah dilihat oleh warga yang tinggal di sekitar sana.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/02/berbuat mesum di tempat umum.jpg Sepasang remaja kepergok berbuat mesum di parkiran mobil, ini yang harus Parents lakukan untuk mencegahnya

Kepergok berbuat mesum di tempat umum.

Pasangan tersebut tampaknya berusia remaja. Sang gadis telah melepaskan celana pendeknya, sementara pasangannya memegang kedua kaki gadis tersebut.

Mereka akhirnya pergi setelah seseorang memergoki perbuatan mereka dan meneriakinya.

Pentingnya mengedukasi anak tentang seks

Kejadian di atas memang terjadi di negara tetangga, Singapura. Namun, dengan kondisi negara yang begitu ketat menjalankan peraturan, remaja masih berani melakukan perbuatan mesum di tempat umum.

Entah melakukan perbuatan mesum di tempat umum atau di ruang tertutup, hubungan seks memang sebaiknya tidak dilakukan terlalu dini. Anak-anak harus mengetahui konsekuensinya sebelum melakukan hubungan seks.

Salah satu caranya adalah dengan mengedukasi anak mengenai seks. Jangan lagi menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.

Justru Parents adalah tempat anak bertanya jika ia mengalami kebingungan mengenai hal ini ketimbang ia mengetahuinya dari teman-teman atau dari internet.

Berikut ini panduan edukasi seks sesuai usia anak.

0 – 5 tahun

  • Gunakan nama yang benar untuk menyebut alat kelamin, yaitu penis dan vagina. Meski Parents lebih nyaman mengajari anak dengan sebutan lain (misalnya burung atau malah diganti dengan ‘anu’), anak harus tetap tahu sebutan yang sebenarnya.
  • Bicarakan tentang cara yang baik merawat tubuh agar sehat dan kuat. Hal ini termasuk membersihkan sendiri alat kelaminnya. Katakan pada anak, tak boleh ada orang lain menyentuh alat kelaminnya, kecuali saat ia sakit dan harus ke dokter (yang tetap harus dilakukan dengan pengawasan orangtua).
  • Jangan memaksa anak untuk memeluk dan mencium saudara atau kerabat jika ia tak mau. Ia memiliki kendali penuh atas tubuh miliknya sendiri.
  • Ajak anak membicarakan tentang kebutuhan dan keinginannyaParents harus menghargai dan tak boleh menganggap remeh meski ia masih anak-anak.
  • Minta anak mengulangi kalimat ini: Tidak ada rahasia dalam keluarga kami. Jadi, anak harus mengatakan pada orangtua apa yang ia alami dan rasakan. Dengarkan dengan baik. Jangan sampai Anda membuat anak segan bertanya atau bercerita pada Anda.
  • Lakukan pembicaraan ini sedini mungkin ketika anak sudah bisa diajak berkomunikasi. Ulangi terus pesan-pesan yang ingin Parents sampaikan padanya. Hal ini selain mencegah anak menjadi ‘mangsa’ predator seks, sekaligus menghindari anak mengalami pelecehan seksual yang berakibat kencederungan menjadi aktif secara seksual sejak dini.

Artikel terkait: 3 Video Edukasi yang Wajib ditonton Anak dan Orangtua agar Terhindar dari Kejahatan Seksual

6 – 10 tahun

  • Selalu jawab pertanyaan anak dengan jujur. Jika dalam keluarga Anda terbiasa dengan diskusi terbuka, tentu merupakan langkah yang baik. Namun, anak juga tetap bisa menanyakannya secara pribadi saat mengobrol dengan Anda.
  • Saat anak bertanya bagaimana bayi dibuat, jangan terburu-buru menceritakan tentang bertemunya sel sperma dan sel telur. Jangan panik atau malah marah mendengar pertanyaannya. Tetap tenang dan tanyakan pada anak, sejauh apa yang ia ketahui. Jangan terlalu panjang lebar menjelaskan, tetapi jangan juga menjawab terlalu singkat yang membuatnya justru makin penasaran dan malah bertanya ke tempat lain.
  • Belilah buku-buku tentang bagian-bagian tubuh atau tentang dari mana bayi datang. Pilih buku yang sesuai dengan usianya dan dampingi terus saat anak sedang membacanya. Jika ia memiliki pertanyaan setelah membaca buku, coba ajak anak berdiskusi.
  • Ingatkan lagi bahwa anak tidak boleh menyimpan rahasia dari orangtua. Begitu juga dengan kendali atas tubuhnya.
  • Beberapa anak mungkin mulai tertarik dengan lawan jenis. Jangan marah atau malah meledek jika ia menceritakan tentang teman lawan jenisnya di sekolah. Jadilah pendengar yang baik agar anak tidak sungkan untuk menceritakan apapun masalahnya pada Anda.

11 – 15 tahun

Pada usia ini, diskusi terbuka sudah bisa dilakukan. Usahakan untuk tidak terlalu mengguruinya atau malah marah jika ia menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan seks.

Jadilah teman bercerita yang nyaman bagi anak. Diskusikan juga bahwa hubungan seksual haruslah dilakukan dengan kesepakatan dan penuh kesadaran, bukan karena dipaksa atau karena ketakutan diancam.

Anak juga perlu mengetahui konsekuensi dan tanggung jawab yang mengikuti ketika ia melakukan hubungan seks, misalnya mengenai kehamilan atau penyakit menular seksual.

Semoga informasi ini bermanfaat.

 

Referensi: theAsianparent Singapura, Alphamom, Today’s Parent

Baca juga:

Bagaimana Menjauhkan Anak dari Seks Bebas?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.