Ini Bukti Bahwa Menyusui Adalah Pekerjaan Berat yang Tak Bisa Diremehkan

lead image

Walau sudah banyak artikel yang membahas pengorbanan seorang ibu, tetap saja ada yang belum paham bahwa menyusui adalah pekerjaan berat. Ini buktinya.

Menyusui adalah pekerjaan berat dengan jam kerja tak terbatas dan upah yang sangat sedikit. Sayangnya, tak banyak orang menyadari hal ini karena merasa bahwa menyusui adalah hal wajar yang dilakukan para ibu.

Penghargaan dari orang sekitar pada ibu menyusui, sudah cukup menghibur lelah dan penatnya pekerjaan tersebut. Apalagi jika bayi tumbuh dengan sehat dan ceria, maka itu akan jadi hiburan paling ampuh untuknya.

Jika diibaratkan sebuah perusahaan, mungkin ibu adalah seorang pegawai serba bisa yang bekerja tanpa lelah, mengabdi pada bos kecil yang selalu menuntut untuk dilayani.

Ayah, kadang hanya berperan setara manager yang ikut menyuruh ibu untuk melakukan pekerjaan lain atau sekedar mengawasi saja.

Sebenarnya, sudah jelas bahwa menyusui adalah pekerjaan berat. Tapi, masih ada saja orang yang memandang remeh, atau bahkan tak sadar dengan fakta tersebut.

Penjelasan berikut akan membuat semua orang sadar, bahwa menyusui bukanlah pekerjaan mudah yang bisa diremehkan.

1. Kapanpun, dimanapun bayi ingin menyusu, ibu harus siap melayani

Jika diibaratkan dengan pekerjaan, yang berperan sebagai bos di sini adalah bayi. Kapanpun ia mau menyusu, ibu harus selalu siaga. Tak peduli bahwa ibu sudah lelah, mengantuk, bahkan di saat produksi ASI-nya sedang tipis.

Tidak ada shift khususnya. Pagi, siang, malam, hingga dini hari pun ibu harus bekerja tanpa henti di bawah tekanan. Bahkan, tingkat stres yang dialami oleh ibu menyusui pun lebih berat dari tekanan deadline orang yang bekerja di kantor.

Sebagai gambaran, pada pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 tentang ketenagakerjaan, pemerintah mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Pemerintah membatasi jam kerja karyawan hanya 40 jam dalam satu minggu, jika lebih dari itu, maka dihitung sebagai lembur.

 

Sekarang, jika seorang ibu menyusui setiap hari dengan jam kerja tak terbatas, maka, perusahaan mana yang sanggup membayarnya?

Itu baru urusan ASI. Belum soal mengganti popok, minta gendong, dan kerewelan bayi lainnya. Apalagi, si bos kecil ini juga bisa lebih menuntut dari bos manapun, dengan tangisan dan suara kerasnya saat keinginan dia tidak terpenuhi.

2. Bekerja memeras darah dan keringat

Jika ada perusahaan yang sampai membuat pekerjanya memeras darah dan keringat, pasti perusahaan tersebut akan ditegur oleh Kementerian Ketenagakerjaan karena telah mengeksploitasi karyawan. Apalagi jika dibayar di bawah UMR.

Seorang ibu terbiasa mengeluarkan banyak keringat ketika merawat anaknya. Mengalami puting lecet sampai berdarah karena si bos kecil terlalu semangat menyusui pun sudah biasa.

Artikel Terkait: Penyebab dan Cara Mengatasi Puting Lecet Saat Menyusui

3. Tambahan pekerjaan saat growth spurts

Masa growth spurts atau percepatan tumbuh kembang bayi akan membuat pekerjaan ibu makin berlimpah. Selain lebih sering kelaparan, anak juga makin lincah. Hal ini jelas membuat tenaga ibu makin terkuras.

Baca: Growth Spurts (Percepatan Pertumbuhan) pada Balita

4. Tidak ada promosi jabatan

Menjalani pekerjaan sebagai seorang ibu tidak akan pernah mengalami promosi jabatan. Kalau anak sehat dan ceria, maka kebahagiaannya akan lebih dari naik pangkat jabatan di kantor.

Syukur-syukur kalau suami memberi bonus berupa kesempatan piknik dan me time setelah bekerja setiap hari menyusui anak dengan ekslusif.

5. Tingkat stres tinggi

Selain soal post partum depressionibu rentan alami D-Mer. Belum lagi, jika ada masalah rumah tangga lainnya yang jadi beban ibu dan membuat tingkat stres jadi makin tinggi.

Sebenarnya, tugas sebagai ibu memang tidak bisa disamakan dengan pekerja kantoran. Tapi, karena masih banyak yang menyepelekan, maka harus dibuat gambaran pekerjaan yang mirip agar bisa dipahami.

Agar dapat menyusui dengan lancar, seorang ibu menyusui harus bahagia. Tanpa lingkungan yang mendukung dan berbagai pemakluman lainnya, maka ibu akan merasa bahwa menyusui adalah pekerjaan berat yang sangat menguras tenaga.

 

Referensi: Romper, Gajimu, Huffington Post.

 

Baca juga: 

Penelitian: Dukungan pada Ibu Menyusui Membantu ASI Eksklusif Menjadi Lebih Efektif