Mencegah Batuk Rejan atau Batuk 100 Hari Pada Bayi

Mencegah Batuk Rejan atau Batuk 100 Hari Pada Bayi

Batuk rejan, yaitu batuk terus-menerus dalam jangka waktu lama atau batuk 100 hari dapat mengakibatkan sulit bernapas dan kejang pada bayi dan anak.

"<yoastmark

Melihat buah hati diserang batuk terus-menerus hingga sulit bernapas dan kejang, tentu membuat kita khawatir. Batuk ini sebut batuk rejan, pertusis, atau sering juga disebut batuk 100 hari. Bagaimana cara mencegahnya?

Batuk rejan atau batuk 100 hari bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi hingga usia dewasa.. Penyakit ini menular dan banyak terjadi di negara berkembang.

Penyebabnya adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertussis. Bakteri ini menempel pada lapisan saluran udara dalam sistem pernapasan bagian atas dan melepaskan racun yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan.

Mengapa batuk rejan atau batuk 100 hari bisa mengakibatkan kematian?

Batuk rejan dapat menimbulkan kematian terutama pada bayi yang berusia di bawah satu tahun. Batuk yang terus-menerus, serta gumpalan lendir akibat bakteri, membuat bayi kesulitan bernapas yang mengakibatkan berkurangnya pasokan oksigen ke otak serta menimbulkan kejang.

Baca juga: Mengatasi Kejang Demam pada Anak

Sementara pada anak yang lebih besar, dampaknya sedikit lebih ringan, hanya saja batuk yang terus-menerus bisa membuat otot perut terasa sakit dan menyulitkan anak untuk melakukan aktivitasnya. Sesuai namanya batuk 100 hari, penyakit ini baru sembuh sekitar 3 bulan kemudian.

Agak sulit memang membedakan gejala awal pada batuk rejan dan batuk biasa. Namun, ada baiknya kita tetap waspada bila gejala-gejala awal menyerang bayi dan balita bertahan lebih dari satu minggu.

Gejalanya:

Gejala-gejala awal batuk rejan meliputi :

1. Flu atau ingusan
2. Demam ringan
3. Batuk sesekali
4. Apnea, jeda dalam bernapas pada bayi.

Gejala tingkat lanjut

Pada tingkat lanjut, batuk rejan yang berlangsung dalam jangka waktu lama, sehingga sering disebut batuk seratus hari akan menimbulkan gejala seperti :

1. Batuk yang cepat diikuti dengan rejan atau “whoop” bernada tinggi
2. Muntah-muntah
3. Kelelahan

Pada bayi dan anak-anak, muntah memang biasa terjadi ketika terserang batuk. Salah satu berdampak positif dari muntah adalah mengeluarkan lendir yang menutupi saluran pernapasan.

Bagaimana cara menghindari batuk rejan pada bayi dan anak-anak?

Salah satu cara untuk menghindari dampak buruk batuk rejan pada bayi dan anak-anak, yaitu dengan cara memberi vaksin.

Imunisasi ini biasanya diberikan bersamaan dengan dengan pemberian vaksin difteri dan tetanus, yaitu vaksin DPT.

Untuk perlindungan maksimal terhadap pertusis, anak-anak memerlukan lima tembakan DPT. Tiga pertama diberikan pada usia 2,4 dan 6 bulan. Vaksinasi keempat diberikan antara 18-24 bulan. Sedangkan vaksinasi kelima diberikan ketika anak berusia 5 tahun, sesuai jadwal imunisasi IDAI 2014.

Anak-anak yang telah diberi vaksin memiliki daya tahan tubuh yang jauh lebih baik ketika diserang bakteri, sehingga tidak akan mengalami dampak buruk sebagaimana anak-anak yang belum divaksin.

Bagaimana bila anak terkena Pertusis?

Bawalah anak ke dokter agar mendapatkan diagnosa dan pengobatan yang tepat. Dokter mungkin akan memberikan antibiotik. Selain itu, sama seperti pada batuk biasanya, bayi yang sudah menerima MPASI harus menghindari makanan pemicu batuk seperti goreng-gorengan, kacang, makanan yang terlalu berminyak, dll.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat..

Referensi :Wikipedia, Cdc.gov, medicinenet.com

Baca juga artikel menarik lainnya:

7 Cara Menurunkan Demam Secara Alami

Daftar Obat Batuk yang Ditarik oleh BPOM

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner