Ternyata ini yang sebabkan Maudy Ayunda berani 'bersuara' dan mengecap pendidikan tinggi

Ternyata ini yang sebabkan Maudy Ayunda berani 'bersuara' dan mengecap pendidikan tinggi

Siapa di antara Parents yang bermimipi memiliki anak seperti Maudy Ayunda? Iya, saya paham, sebagai orangtua memang sudah sepatutnya tidak membandingkan satu dengan yang lainnya. Tapi kalau sekadar berharap si kecil yang bisa tumbuh sepintar Maudy Ayunda, tidak salah, dong? Sebagai orangtua, saya sendiri penasaran, pola asuh seperti apa sih, yang diterapkan sejak Maudy Ayunda kecil?

Biar bagaimana pun, pola asuh serta pendidikan yang didapatkan oleh Maudy Ayunda kecil tentu saja akan memengaruhi pembentukan karakternya yang seperti saat ini. Rasanya, tak salah jika perempuan 19 Desember 1994 ini layak dijadikan panutan generasi milenial.

Belum lama ini, Maudy bahkan baru saja menuliskan kegalauannya karena diterima di dua kampus ternama, Universitas Harvard dan Universitas Stanford, yang keduanya di Amerika Serikat.

Cantik, berbakat, dan pintar. Setidaknya, buat saya pribadi Maudy Ayunda benar-benar jadi sosok perempuan muda masa kini yang sempurna. Mungkin, jadi impian para ibu-ibu yang memiliki anak bujangan, berharap Maudy Ayunda  bisa jadi menantunya? Hmm… bisa jadi.

Tak mengherankan jika kemudian ia pun dipercaya dan didapuk menjadi brand ambasador beberapa produk ternama. Salah satunya adalah obat kumur antiseptik, Listerine yang sedang mengkampanyekan  ‘Ubah Dengan Suara’, sebuah gerakan untuk mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia.

Maudy pun berharap dirinya bisa mengajak anak-anak muda Indonesia untuk peduli pada pendidikan. Ditemui di acara jumpa pers yang dilangsungkan di DoubleTree Hotel, Jakarta Pusat, ia menegaskan bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan terbaik.

“Saya pun tidak pernah menyia-nyiakan pendidikan. Di tengah kesibukan saya di dunia hiburan, saya tetap aktif menjalankan dan menyelesaikan kuliah,” ujarnya.

Bahkan, pelantun lagu Untuk Apa itu mengaku sejak kecil sudah bercita-cita menjadi guru karena memang sangat peduli pada pendidikan. “Saya sangat menyenangi lingkungan sekolah,” ujarnya lagi.

Mendengar pengakuannya, siapa yang tidak takjub? Seorang anak begitu mencintai lingkungan sekolah, sementara tidak sedikit orangtua yang seringkali kerepotan menghadapi anak mogok sekolah.

Sebagai generasi muda, Maudy pun mengaku pentingnya memberikan suara positif untuk lingkungan. Seperti yang ia katakan, cara termudah bisa dilakukan lewat apa yang bisa ia sampaikan di akun media sosial miliknya. 

Faktanya, tidak semua generasi muda bisa speak up, berani menyampaikan buah bibirnya.

Sebenarnya, hal apa yang membuatnya punya pemikiran tersebut? Apakah hal ini terkait dengan pola asuh yang sudah didapatkan Maudy Ayunda kecil?

Maudy ayunda kecil

“Kalau aku evaluasi ke diri sendiri, sepertinya ada dua hal yang selalu diterapkan oleh orangtua aku sejak aku kecil. Dari dulu, orangtua aku khususnya mama tipe orang yang senang sekali ngajak ngobrol. Apalagi kalau ngomongin soal kekayaan interaksi dengan orangtua, aku ini dari kecil kaya akan interaksi.

Dari dulu, sejak aku kecil saat bermain mama aku memang sering melakukan interaksi dengan aku, misalnya bermain role play. Dan sampai sekarang ini, orangtua aku selalu melibatkan anaknya dalam hal problem solving. Bahkan dari hal-hal terkecil.

Misalnya, kalau mau ada acara keluarga lalu mau memutuskan mau menyediakan makanan apa saja. Makanan apa yang cocok dikombinasikan dengan jenis makanan lainnya

Hal ini sih sebenarnya sederhana banget, tapi buat mikirin itu bisa ngabisin 30 menit sendiri, lho. Kenapa harus makanan padang yang dipilih, kenapa nggak makanan lainnya? Ini mungkin hal sederhana, tapi akan terbawa pada diskusi lainnya yang lebih berat dan  penting.

Dari dulu, culture of problem solving di dalam keluarga tuh memang selalu ada di dalam keluarga aku sejak aku masih kecil.

Orangtua aku juga selalu menanamkan pentingnya yang namanya keseimbangan. Dulu aku saat lagi sibuk sekolah, maunya belajar melulu. Lalu saat dapat tawaran  untuk main film, mama juga yang mendorong aku untuk ambil kesempatan.

Waktu itu dalam filmnya Untuk Rena, ia berperan sebagai anak yatim piatu, syutingnya dua bulan di pantu asuhan di Cipanas. Di sana aku bisa dapetin banyak pelajaran. Belajar kerja, belajar tanggung jawab, dan juga di sana kepekaan sosial aku benar-benar diasah.

Dengan banyak anak-anak yang kurang beruntung. waktu itu aku masih 9 tahun dan syuting selama 2 bulan bersama temen-temen di sana. Tidur bareng, main sama kerbau dan main lumpur,

Begitu pulang, aku tuh nangis. How come? Soalnya aku bisa pulang ke rumah yang nyaman, sementara temen-temen aku yang lain masih harus di panti asuhan. Pengalaman pertama aku syuting film itu memang benar-benar memberikan perlajaran berharga buat aku.

Dari sana aku juga bisa belajar apa saja yang bisa aku lakukan untuk membawa perubahan baik untuk orang-orang di sekitar. Dan ini akhirnya bisa terbawa sampai sekarang.”

Mendengar penjelasan bagaimana pola asuh yang sudah didapatkan sejak Maudy Ayunda kecil, saya kok langsung mer-review diri sendiri, apakah sudah menerapkan pola asuh seperti itu pada anak saya?

Setidaknya, saya juga bisa belajar untuk melatih agar anak saya untuk bisa berani menyuarakan pola pikirnya. Bagaimana menurut Parents?

 

Baca juga: 

Peduli pendidikan, 7 artis ini mendirikan sekolah gratis untuk anak kurang mampu

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner