Hiiiii... Seorang ibu membuat cokelat dari plasenta anaknya, benarkah ada manfaatnya?

Hiiiii... Seorang ibu membuat cokelat dari plasenta anaknya, benarkah ada manfaatnya?

Makan plasenta bayi yang diolah jadi cokelat, Bunda berani coba?

Beberapa tahun terakhir ada tren makan plasenta, khususnya bagi perempuan yang baru saja melahirkan. Salah satu pesohor yang melakukannya adalah Kim Kardashian dan Kourtney Kardashian. Keduanya mengaku merasakan manfaat setelah mengonsumsi plasenta selepas melahirkan.

Praktik ini memang terdengar aneh, bahkan tidak sedikit yang menganggap mengonsumsi plasenta termasuk tindakan kanibalisme. Meskipun begitu, toh, banyak perempuan yang melakukannya dalam bentuk kapsul atau pil.

Setidaknya hal ini sudah dibuktikan lewat penelitian The Journal of Alternative and Complementary Medicine yang mencatat bahwa dari 153 pasien dan 185 penyedia layanan kesehatan di Amerika Serikat sudah akrab dengan placentophagy. Sebanyak 66 persen pasien telah familiar dengan praktik itu.

Bahkan belum lama ini ada seorang ibu yang membuat cokelat dari plasenta setelah dirinya melahirkan seorang anak lelaki.

Adalah Kiley Whitworth, seorang ibu yang baru saja melahirkan anaknya yang diberi nama Samuel. Setelah melahirkan, ia menyewa doula profesional, seseorang yang memberikan dukungan emosional dan fisik selama kehamilan dan persalinan.

Namun, sang doula juga ikut membantunya melakukan eksperimen aneh ini. Membuat cokelat dari plasenta anaknya.

Ibu yang tinggal di Georgia ini memang mengunggah video saat sedang mempersiapkan plasentanya yang akan diolah lewat apikasi Snapchat. Perempuan berusia 23 tahun ini berbagi resepnya tentang cara membuat cokelat dari plasenta yang diolah menggunakan bahan cokelat putih, dark cokelat, plasenta dan oreo.

Di videonya, ia pun mengklaim bahwa cokelat dari plasenta akan meningkatkan kesehatan setelah proses melahirkan dan ia pun mengungkapkan bahwa cokelat tersebut rasanya lezat.

Baca juga : Menakjubkan! Ternyata begini cara janin menerima makanan dari ibu [Video]

Proses pengolahan cokelat dari plasenta

Lewat video Snapchat bisa terlihat bagaimana mereka mengolah plasenta menjadi coklat. Plasenta yang masih mengandung darah dikukus, kemudian dipotong-potong, dan menempatkannya ke dalam dehidrator untuk mengeringkannya.

Proses pengeringan ini bahkan membutuhkan waktu hingga 16 jam sehingga plasenta berubah jadi tampak gelap dan kehitaman, yang kemudian dihancurkan menjadi bubuk.

Bubuk plasenta tersebut dicampur bersama oreo, setelah itu baru dibentuk menjadi oreo truffels. Proses selanjutnya, adalah melelehkan cokelat yang akhirnya dicampur. Baru setelah itu, cokelat dibentuk menggunakan cetakan hingga olahan tersebut terlihat ‘menggoda’.

Dikutip dari Daily Mail, Kiley mengatakan bahwa keputusannya tersebut ia ambil setelah membaca sebuah flyer tentang enkapsulasi plasenta. Meskipun semula ia ragu karena dianggap kotor,  tapi setelah ia teliti lebih lanjut, terkait apa saja manfaatnya, ia pun memutuskan bahwa ini merupakan kesempatan sekali seumur hidup.

“Bayi hidup dari plasenta. Begitulah cara mendapatkan semua nutrisi dari para ibu, jadi saat Anda melahirkan dan menyingkirkannya, Anda kehilangan semua nutrisi itu,” ujarnya seperti yang diberitakan Daily Mail.

Adakah risikonya makan plasenta sendiri?

Meskipun banyak yang percaya bahwa makan plasenta memiliki manfaat, tapi perlu diketahui bahwa placentophagy yang berasal dari pengobatan Cina kuno ini juga memiliki beragam risiko.

Seperti yang diberitakan Hallo Sehat, sebuah penelitian pada tahun 2015 yang dilakukan salah satu universitas kedokteran di Chicago, menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk menyarankan bahwa mengonsumsi plasenta dapat memberikan manfaat kesehatan bagi ibu.

Tidak hanya itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga membuktikan kalau mengonsumsi plasenta bahkan bisa berbahaya bagi ibu dan bayi. Laporan CDCD mengungkapkan bahwa ibu yang mengonsumsi pil plasenta dapat mengembangkan bakteri kelompok B Streptococcus (GBS) dalam usus yang bisa dioper ke anaknya. Termasuk adanya risiko terkena infeksi.

CDC mengatakan bahwa plasenta perlu dipanaskan sampai 55 derajat celcius selama lebih dari 2 jam untuk bisa membunuh bakteri. Namun bukan berarti plasenta yang dimasak cukup lama akan aman. Pasalnya, logam berat dan hormon dapat berkumpull di plasenta, dan panas tidak akan berpengaruh pada senyawa tersebut.

Sebuah penelitian melaporkan bahwa wanita yang mengonsumsi hidangan plasenta sering mengalami sakit kepala, yang dapat disebabkan oleh logam berat kadmium yang terbentuk di plasenta mereka.

Bagimana pandangan Bunda dengan makan plasenta ini?

 

 

Baca juga:

Makan Ari-ari Bayi Masih Jadi Tren di Beberapa Negara

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner