Anaknya di-bully, ayah murka dan kasih pelajaran ke bocah 10 tahun hingga patah tulang

Anaknya di-bully, ayah murka dan kasih pelajaran ke bocah 10 tahun hingga patah tulang

"Karena kamu sudah mem-bully anakku, akulah yang akan membalaskan dendamnya."

Seorang Ayah asal Singapura murka ketika mengetahui anaknya menjadi korban bullying di sekolah secara berulang. Ia kemudian menyerang pelaku bully yang masih berusia 10 tahun, hingga mengalami patah tulang.

“Karena kamu telah mem-bully anakku, sekarang saya bisa mem-bully kamu”, ia mengucapkan tepat saat mendorong pelaku bully yang malang ini ke tembok.

Balas dendam karena anak menjadi korban bullying di sekolah, ia membuat anak usia 10 tahun alami patah tulang

Menurut pengacara ayahnya (Tan Chin Tai), anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar kelas 4 telah mengalami bullying di sekolahnya selama lebih dari 2 tahun lamanya.

Anak ini ternyata sering mem-bully anak Tan dengan kata-kata kasar termasuk juga menghina ibunya. Tak hanya itu, ia juga mengancam untuk memukul teman-temannya yang lain jika berbicara dengan putra Tan.

Menurut pengacara Tan, sebelumnya ia sudah melaporkan tindakan ini ke guru putranya, namun tak ada satupun tindakan nyata yang diambil untuk permasalahan ini. Semakin hari bullying terhadap putra Tan kian memburuk, hingga ia berpikir untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain.

Pada tanggal 7 Juli 2017, Tan melihat pelaku bully ketika menjemput anaknya di sekolah sekitar pukul 1:15 pm. Ia mendekati anak itu, lalu mengangkatnya lalu mendorongnya ke dekat tempat sampah. Kemudian ia menghimpitnya ke tembok dan melampiaskan amarahnya.

“Hanya karena ukuran tubuhmu lebih besar, kamu pikir boleh menindas orang lain. Karena kamu sudah mem-bully anakku, sekarang sayalah yang akan membalasnya”, teriaknya kepada bocah malang itu.

Setelah kejadian itu, korban merasakan sakit di bagian kiri dadanya dan memeriksakannya segera ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan x-ray menunjukkan ia mengalami patah tulang di salah satu rusuknya.

Ia dipulangkan dari rumah sakit di hari yang sama dan diberi obat nyeri oleh dokter.

Insiden ini tentu tak juga membuat hidup putra Tan di sekolahnya membaik. Bahkan, cercaan dari teman-teman lain datang lebih parah. Sebab korban menyebarkan siapapun yang bermain dengannya, akan mengalami patah tulang yang sama seperti yang dialami korban.

korban bullying di sekolah

Ayah membalaskan dendam korban bullying di sekolah: apakah ini tindakan yang tepat dilakukan?

Pada 29 April 2019, Tan Chin Tai dipenjara selama 7 minggu lamanya karena melakukan kekerasan terhadap anak-anak.

Jaksa penuntut umum menggarisbawahi, ada alasan mengapa kita tak bisa mencari keadilan dengan cara sendiri.

“Kasus ini terjadi ketika orang dewasa mengambil keuntungan dari korban yang lemah.” ungkapnya.

Ia kemudian juga menambahkan, sebaiknya Tan melaporkan permasalahan ini kepada guru konseling atau kepala sekolahnya dan bukan malah menyerang pelaku seperti itu.

Hakim distrik, Christopher Tan berpendapat kasus bullying dan perselisihan  di sekolah sudah sangat umum terjadi. Namun bukan berarti kita bisa membenarkan perilaku orang dewasa yang datang ke sekolah mengancam keselamatan anak-anak, hanya karena merasa anak kita diperlakukan tidak adil.

Coba bayangkan berapa banyak orangtua yang ingin sekali membalaskan dendam anak-anaknya yang menjadi korban bullying di sekolah jika kita membenarkan hal ini terjadi?

Hal yang perlu dilakukan saat anak menjadi korban bullying

Koordinasi dengan pihak sekolah

Mengetahui anak menjadi korban bully tentu saja membuat hari orangtua ikut terluka. Namun, hal yang perlu dilakukan adalah mengajak pihak sekolah untuk mencari solusi bersama. Harapannya, suasanya di sekolah pun bisa kembali nyaman.

Melatih anak untuk tidak diam

Sebagai korban bullying, memang tidak mudah menghadapi pelaku bullying yang merasa memiliki power. Untuk mencegah hal yanglebih buruh terjadi, selalu ingatkan pada anak untuk bisa mengutarakan perasaannya.

Katakan jika memang dirinya tidak nyaman. Latih anak untuk bisa memberikan respon yang tepat, dengan mengatakan, “Diam…”, “Aku tidak suka…”, “Berhenti mengejek aku,”

Setidaknya dengan memberikan respon, anak sudah bisa memberikan reaksi yang tepat.

Lapor pada pihak berwajib

Jika pihak sekolah tidak memberikan respon untuk melakukan mediasi, dan kondisi bullying semakin parah, tidak ada salahnya untuk melaporkan pada pihak berwajib.

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner