Suami tewas jadi korban teror bom, begini curahan hati sang istri

lead image

Peristiwa kehilangan orang yang dikasihi tentu tak akan mudah bagi siapapun.

Hingga tulisan ini dimuat, jumlah korban meninggal akibat ledakan bom di tiga gereja di Surabaya mencapai 14 orang. Salah satu korban bom Surabaya bernama Aloysius Bayu Rendra Wardana yang meninggal setelah sebelumnya sempat menghalangi teroris masuk ke dalam gereja.

Bayu merupakan koordinator relawan keamanan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB) yang sehari-harinya berprofesi sebagai fotografer. Minggu pagi 13 Mei 2018, ia menjalankan tugas seperti biasanya untuk membantu menjaga keamanan gereja.

Sebelum berangkat, Bayu bahkan sempat meng-update status di WhatsApp story seperti yang dicuitkan oleh salah seorang rekannya di akun Twitter @_fransiskancis.


Minggu pagi itu, Bayu menghadang sebuah motor yang nekat menerobos masuk ke halaman gereja. Ternyata, pengendara motor serta penumpang di belakangnya adalah dua pelaku yang membawa bom.

Karena dihadang oleh Bayu, bom tersebut akhirnya meledak di depan pagar gereja. Akibatnya, Bayu meninggal di tempat dan tubuhnya hancur akibat ledakan bom.

Bayangkan jika motor tersebut tidak dihalangi oleh Bayu, mungkin korban yang jatuh di dalam gereja akan semakin banyak.

Istri dari korban bom Surabaya mengungkapkan dukanya

Kepergian Bayu meninggalkan istri bernama Monique Dewi Andini serta dua orang anak, satu berusia balita dan satu masih bayi. Monique pun mengungkapkan kesedihan atas peristiwa ini dengan mengunggah foto keluarga disertai curahan hati.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/05/korban bom Surabaya aloysius bayu rendra.jpg Suami tewas jadi korban teror bom, begini curahan hati sang istri

Hai Aaron dan Alyssia, suatu saat ketika kalian besar nanti dan ditanya oleh sekelilingmu, mana papamu. Kalian dengan bangga akan menjawab, papaku di surga dengan Allah Bapa karena dia jadi martir di gereja.

#masihberduka #selamatjalanmasbayu

Warganet ikut berduka atas kepergian Bayu yang menjadi korban bom Surabaya

Ucapan dukacita terus mengalir, terutama untuk memberi dukungan pada Monique dan kedua anaknya. Salah seorang teman kuliah Monique bernama Yuditia Prameswari juga mengungkapkan kesedihannya dalam sebuah postingan.

Ibunda Bayu, Rosalia Siswaty, mengunggah foto anaknya disertai dengan caption yang membuat hati pilu.

Warganet masih terus mengucapkan dukacita pada postingan terakhir di akun Instagram milik Bayu: @kokoitem.

Selamat jalan, Bayu… Pengorbananmu menjadi inspirasi bagi kami untuk mengajari anak-anak bagaimana menjadi sosok yang pemberani serta tidak egois.

 Bagaimana menjelaskan pada anak jika ayahnya meninggal?

PR terberat bagi Monique setelah kepergian Bayu mungkin adalah memberikan penjelasan kepada kedua anaknya ke mana ayah mereka pergi. Tidak mudah memberikan pemahaman pada balita mengenai konsep kematian.

Menurut psikolog Jovita Ferliana kepada Health-Liputan6.com, balita biasanya sudah bisa merasakan kehilangan ketika salah satu orangtuanya meninggal. Apalagi jika anak setiap hari bertemu dengan ayahnya.

Saat anak menanyakan keberadaan ayah yang sudah meninggal, sebaiknya orang dewasa yang ada di sekitar anak menjawab dengan jujur bahwa ayahnya sudah tiada. Tidak perlu membohongi anak dengan mengatakan ayah bekerja di luar negeri misalnya.

“Orangtua harus memberitahu yang benar. Kalau membohongi anak, itu bisa berakibat fatal. Kalau anak tahu dari orang lain, ia akan kehilangan kepercayaan pada figur yang membohonginya itu,” ujar Jovita.

Bila anak bertanya ke mana ayah pergi atau mengapa ayah tak pulang-pulang, katakan bahwa ayah sudah meninggal. Lalu, ajak anak untuk mendoakan yang terbaik untuk ayah.

Tidak perlu menjelaskan rinci jika anak tidak bertanya lebih lanjut. Yang penting Anda sudah memberikan jawaban sebenarnya dan pemahaman yang sesuai usia anak.

 

Referensi: Liputan6.com, Tempo, Detik

Baca juga:

Selamat jalan malaikat kecil… 2 Bocah jadi korban teror bom Surabaya