5 tanda anak memiliki kecerdasan emosional, si kecil sudah punya belum, Bun?

lead image

Ketahui yuk, ciri dan bagaimana cara meningkatkan kecerdasan emosional si kecil!

Kecerdasan emosional anak menjadi salah satu hal penting bagi perkembangan dan masa depan si kecil.

Emotional Intellectual Quotient (EQ) menggambarkan mengenai kemampuan seseorang dalam mengatur emosi dengan cara yang sehat. Anak yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi akan bisa mengelola emosinya, menerima diri dan orang lain, serta bisa lebih empati pada orang lain dan lingkungan. 

Pentingnya kecerdasan emosional anak

Para ahli perkembangan anak sepakat bahwa kecerdasan emosional memiliki peran vital pada perkembangan kepribadian yang menentukan kesuksesannya di masa mendatang.

American Journal of Public Health menyebutkan bahwa balita yang memiliki kecerdasan emosi sejak dini bisa lebih sukses di masa mendatangnya. Sebuah studi yang dilakukan selama 19 tahun membuktikan bahwa anak dengan EQ tinggi akan lebih bisa bekerjasama dan mengikuti arahan. Hal inilah yang membuat mereka nantinya bisa memperoleh gelar sarjana dan memulai pekerjaan sebelum usianya 25 tahun.

Selain itu, anak dengan kemampuan EQ yang lebih tinggi juga diketahui memiliki risiko lebih ringan mengalami kecemasan dan depresi. Mereka akan lebih terbiasa mengelola emosi dalam diri dan hubungan dengan lingkungan di sekitarnya.

Seseorang dengan kecerdasan emosional akan mampu mengelola hubungan personal maupun profesional.

Meskipun begitu, bukan berarti menganggap remeh kecerdasan intelektual karena keduanya seharusnya berjalan beriringan agar si kecil bisa meraih kesuksesan dengan rasa bahagia dalam hidupnya. 

Untuk mengetahui apakah si kecil telah memiliki kecerdasan emosional yang baik atau belum, Parents bisa memerhatikan beberapa perilaku si kecil dalam keseharian. Namun, penting untuk diingat bahwa dalam pembentukan kecerdasannya emosional tentu saja dipengaruhi oleh pola asuh orangtua.

Kecerdasan emosional anak

Kecerdasan emosional anak

5 Ciri kecerdasan emosional anak

Umumnya, jika si kecil telah memiliki kecerdasan emosional yang baik akan menampakkan beberapa perilaku seperti di bawah ini:

1. Mampu mengenali emosinya sendiri

Salah satu parameter anak yang cerdas secara emosi ialah bisa mengenali emosi itu sendiri, khususnya emosi yang dirasakannya. Anak mungkin akan terbiasa mengungkapkan perasaan dan emosi dasar terlebih dahulu, baru berkembang menjadi lebih kompleks seiring bertambahnya usia.

“Aku sedih, Bunda”, “Aku merasa marah”, itulah beberapa contoh emosi dasar yang sudah bisa diungkapkan oleh balita. Oleh karena itu penting untuk melatih anak agar bisa mengidentifikasi perasaan yang ia rasakan.

2. Jadi pendengar yang baik

Si kecil seringkali menjadi tempat cerita teman-temannya? Berbahagialah, karena tandanya ia sudah memiliki potensi cerdas secara emosi.

Kepercayaan teman-temannya padanya bisa menandakan bahwa si kecil memiliki nilai sebagai pendengar yang baik. Seorang anak yang menjadi pendengar serta problem solver yang baik biasanya memiliki rasa empati yang tinggi pada sesama.

3. Berinisiatif melakukan kebaikan pada orang lain

Kecerdasan emosional anak

Kecerdasan emosional anak

Selain mampu mengidentifikasi emosi dalam dirinya sendiri, anak dengan kecerdasan emosi akan lebih mampu responsif dalam berbuat kebaikan kepada orang lain. Bahkan, tanpa disuruh atau diminta, ia akan berinisiatif melakukannya sebagai bagian dari panggilan hatinya.

Mereka memahami etika dalam bersosialisasi dan melakukan pertolongan agar lingkungannya merasa nyaman dan terbantu. Misalnya, ketika si kecil secara sigap membangunkan temannya yang terjatuh, maka Parents perlu berbangga karena si kecil memiliki potensi besar cerdas secara emosi.

4. Mampu menjadi penengah di antara orang lain

Seperti orang dewasa, kehidupan berosisoalisasi pada anak pun fluktuatif dan banyak konflik walaupun tidak sekompleks ketika dewasa. Pertengkaran pada anak sudah biasa, namun menjadi luar biasa bila dalam situasi tersebut si kecil bisa berinisiatif untuk berdamai.

Tandanya, ia memang sudah cerdas secara emosi. Ketika anak berani menjadi penengah, misalnya, ia pun telah menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan dalam memahami emosi dan hubungan, menandakan dirinya memiliki kecerdasasan emosional.

5. Memahami dampak perilakunya pada perasaan orang lain

“Aku tidak akan melawan Bunda, karena aku tahu Bunda akan sedih,” ujar seorang anak pada ibunya.

Parents, ucapan sejenis ini bisa menjadi tanda bahwa anak telah memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Bisa memahami dampak perilakunya pada lingkungan, menjadi ciri kecerdasan yang sudah semakin meningkat pada anak. Namun tentunya kecerdasan ini tidak bisa begitu saja terjadi karena diperlukan beberapa pembiasaan melalui pola asuh yang tepat.

Pola asuh yang seperti apa?

Pola asuh untuk meningkatkan kecerdasan emosional anak

Kecerdasan emosional anak

Kecerdasan emosional anak

1. Jadi role model

Parents tentu saja menjadi guru pertama anak untuk belajar. Oleh karenanya, hendaknya Parents bisa menjadi  role model bagi anak untuk bisa cerdas secara emosi. Ingat saja, bahwa pada prinsipnya anak butuh contoh yang konkret sehingga ia bisa menirunya.

Misalnya, perlihatkan bagaimana Parents bisa memperlihatan empati pada berbagai kesempatan. Anak akan belajar dari sikap Anda dalam keseharian melalui perilaku yang akan berlanjut menjadi kepribadian yang menetap.

2. Ubah mindset

Masih berpikiran bahwa kecerdasan intelektual adalah segalanya? Bila ya, cobalah ubah mindset menjadi lebih kompleks dan terbuka. Pola pikir seperti ini tentu saja akan memengaruhi perilaku pengasuhan yang akan membentuk pola pikir, kepribadian, dan kecerdasan emosional anak.

Tetaplah coba seimbangkan dengan memberikan stimulasi secara menyeluruh, mulai dari kecerdasan intelektual, emosional, juga spiritual seingga si kecil tumbuh menjadi manusia yang memiliki kecerdasan secara holistik dan memiliki karakter positif.

3. Menjadi pendengar yang aktif

Salah satu cara membantu membentuk kepribadian anak yang penuh empati serta menjadi pendengar yang baik, tentu saja Parents sebaiknya menjadi pendengar aktif bagi anak. Cobalah untuk selalu responsif mendengarkan ceritanya.

Saat mendengarkan, posisikan mata sejajar dengan si kecil agar ia merasa nyaman. Jangan sampai si kecil bercerita sambil tertenggak ke atas. Buatlah suasana sesantai mungkin agar ia tahu bahwa ia didengarkan dan memiliki nilai yang berharga bagi orang di sekitarnya, khususnya di mata orangtuanya.

4. Berikan apresiasi setiap kebaikannya

Biasakan untuk selalu memberikan apresiasi setiap pencapaian kebaikan yang dilakukan. Jangan ragu untuk mengucapkan terimakasih bila ia berhasil menyelesaikan tugas yang telah diberikan.

Sebelum tidur Parents bisa saling terbuka mengenai hari-hari bersamanya. “Bunda bangga karena kamu hari ini sudah jadi anak baik karena sudah melakukan……, tapi tadi Bunda sedih karena kamu….”.

Lakukan secara rutin agar si kecil bisa semakin mengenal rasa empati orang-orang di sekitarnya dan berkembang menjadi pribadi yang diharapkan.

Semoga bermanfaat.

 

Sumber : netmums.com, urbanmommies.com, verywellhealth.com

 

Baca Juga :

Parents, ini caranya mengendalikan emosi anak sesuai tahapan usia

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner