Haruskah Menjadi Ibu yang Galak untuk Mendisiplinkan Anak?

Haruskah Menjadi Ibu yang Galak untuk Mendisiplinkan Anak?

Haruskah menjadi ibu yang galak untuk membantu anak tumbuh jadi sosok yang displin?

Jadi ibu yang galak, apakah memang ini jadi pilihan yang paling tepat dalam mendidik anak?

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah postingan, di sana menyebutkan bahwa lebih baik dikenal sebagai ibu yang galak agar anak-anak mempunyai tata karma. Setelah membacanya, saya pun jadi berpikir lagi, apa benar tidak ada cara yang lebih baik dalam mengasuh anak selain harus menjadi galak?

Apakah tidak mungkin bagi kita, para orangtua bisa mendisiplinkan anak tanpa menggoreskan luka dalam hatinya?

Menjadi Ibu yang Galak, Apa Benar Efektif?

Haruskah Menjadi Ibu yang Galak untuk Mendisiplinkan Anak?

Apakah tidak mungkin mendampingi tumbuh kembang anak dengan pola pengasuhan yang membuat anak tumbuh dengan bahagia, mandiri, taat pada aturan dan berpendirian?

Terus terang saja, mungkin sama dengan yang dirasakan dan dialami oleh ibu lainnya, pada awalnya saya merasa cukup sulit mengendalikan emosi. Sepertinya ada saja tingkah laku anak yang membuat saya gregetan. Lalu perlahan saya coba belajar tentang beragam pola asuh yang sekiranya bisa saya terapkan.

Saya berusaha untuk selalu mengingat, bahwa 6 tahun pertama kehidupan anak adalah masa yang sangat berharga. Haruskah kita tanamkan dalam hati anak bahwa sesuatu yang ‘galak’ memang mampu membuat mereka jadi lebih baik?

Apa iya, ketika anak-anak dewasa, kita ingin dikenang sebagai sosok orangtua galak?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terus menumpuk di otak saya. Perlahan, saya pun selalu ingin mencari jawaban yang tepat.

Lalu pada akhirnya saya merasa terbantu sekali ketika mengenal sebuah akun parenting @anakjugamanusia, saya belajar banyak dari sana. Yang paling mudah untuk saya lakukan adalah metode memilih dan bersepakat, memang butuh waktu, tapi ini berhasil saya terapkan ke Kavya, anak saya.

Ada beberapa hal yang memang perlu dipahami dan dilakukan dalam membuat kesepakatan dengan anak. Namun, ketika anak sudah bisa berkomunikasi, sebenarnya hal ini sudah bisa dilakukan. Umumnya, sih, memang baru diterapkan pada anak usia 3 tahun.

Namanya membuat kesepakatan, artinya semua peraturan yang akan dijalankan di rumah memang harus dibuat bersama-sama. Misalnya saja dalam penggunaan gawai. Atau hal lainnya seperti nonton TV.

Supaya tidak kebablasan, dan saya merasa kesal kemudian emosi sehingga terlihat menjadi ibu yang galak, upaya pencegahan bisa dimulai dari sini. Saya dan anak mencoba untuk diskusi, mencari jalan tengah dan membuat peraturan.

Biasanya, kalau sudah dibuat bersama-sama, bukan keputusan dari saya sebagainya ibunya, anak cenderung akan ingat dan punya kesadaran untuk melakukannya. Tidak merasa dipaksa.

Saya percaya, sejak kecil anak perlu diajarkan dan memahami hak dan kewajiabannya. Dari sini, ia pun perlahan bisa tumbuh menjadi pribadi yang disiplin.

Risiko Menjadi Ibu yang Galak

Sama seperti orangtua lainnya, saya pun terus belajar untuk menerapkan pola asuh yang tepat pada anak. Jadi orangtua memang perlu belajar terus menerus, ya.

Satu persatu, saya pun mulai belajar pola-pola pengasuhan yang bisa saya terapkan.

Haruskah Menjadi Ibu yang Galak untuk Mendisiplinkan Anak?

Saya sadar, bahwa menerapkan pola pengasuhan juga perlu disesuaikan dalam masing-masing keluarga. Begitu juga melihat kondisi anak. Satu yang pasti, jadi orangtua memang perlu konsisten ketika sudah menerapkan regulasi.

Galak boleh saja, tapi tentunya tepat ada batasan sehingga tidak perlu menimbulkan luka di hati anak. Jangan sampai,  tindakan saya justru menimbulkan luka yang justru bisa memengaruhi  mental dan karakternya di kemudian hari. 

Mendalami Metode Pengasuhan Montessori

Saya pun mencoba mendalami metode pengasuhan Montessori, perlahan saya bisa mengendalikan emosi saya dan kini dapat berusaha untuk selalu merespon beragam perilaku anak dengan positif.

Dari sini saya pahami, bahwa tidak perlu menjadi Ibu yang galak untuk mendisiplinkan anak. Saat perilaku anak tidak sesuai dengan ekspektasi kita maka cobalah cari tahu kenapa itu bisa terjadi, karena semua pasti ada alasannya.

Kita harus belajar memandang dengan sudut pandang anak, agar kita bisa membantu mereka menjadi lebih baik tanpa perlu menghakimi dan menjadi galak.

Bismillah, semoga kita semua selalu dimudahkan dalam mengartikan prilaku anak, tanpa perlu mendapat cap ibu yang galak. Semangat Ayah Bunda.

 

*Ditulis oleh Syamarah, seorang ibu biasa yang sedang membesarkan anak yang luar biasa*

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Semua opini & pendapat dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi milik penulis, dan sama sekali tidak mewakilkan theAsianparent atau klien tertentu.
app info
get app banner