Kenali Herpes Simplex (HSV) Serta Risikonya pada Pasangan dan Anak

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Herpes simplex sering disalahpahami sebagai penyakit menular yang akibatnya sama seperti HIV/AIDS. Sekalipun rentan menular, virus ini tak mengancam nyawa.

Herpes Simplex (HSV) adalah salah sebuah infeksi yang dapat menyebabkan herpes. HSV dibagi menjadi dua, HSV 1 yang menyerang bagian mulut (wajah) dan HSV 2 yang menyerang bagian kemaluan.

HSV akan tampak terlihat seperti luka koreng yang berada di mulut, jari, kemaluan, maupun daerah kulit yang lain. Secara medis, kondisi kedua jenis herpes tersebut adalah sama.

Cara menghindari penularan Herpes Simplex

Virus ini menular lewat pertukaran cairan maupun sentuhan langsung pada area yang terdampak virus. Jika seseorang tertular herpes simplex, maka infeksi virus tersebut akan menetap di dalam tubuh penderita selamanya.

Namun, bukan berarti virus herpes akan terus menerus berpotensi menular. HSV hanya akan menular pada orang lain saat virusnya sedang aktif. Jika virus sedang tidak aktif, maka seseorang akan aman melakukan ciuman maupun berhubungan seksual sekalipun tanpa pengaman.

Aktif dan tidaknya virus ini sangat tergantung dengan kondisi tubuh seseorang. Jika penderita Herpes Simplex sedang kelelahan, maka virus tersebut akan rentan aktif. Sebaliknya, virus tersebut akan ‘tidur’ di dalam tubuh tanpa menular pada orang lain jika kondisi tubuhnya selalu fit dan tidak stres.

Selain itu, jika seseorang dengan virus HSV aktif melakukan kontak fisik dengan orang lain, asalkan bukan pada area yang terpapar infeksi, maka virus tersebut tidak akan menular. Sehingga, jika pasangan Anda memiliki jenis HSV 2 aktif pada kelaminnya saja, Anda tetap aman berpelukan maupun berciuman dengan pasangan asal sama sekali tidak bersentuhan langsung dengan lukanya.

Namun, kadang aktifnya virus tidak selalu ditandai oleh munculnya koreng di mulut dan kemaluan. Sehingga penderita herpes wajib selalu waspada jika tanda lainnya muncul. Misalnya, saat ada luka lecet pada mulut, penis, vagina, maupun rektum.

Penggunaan kondom berbahan latex saat virus sedang aktif akan menghindarkan seseorang terkena herpes simplex dengan prosentase kemungkinan 50%. Biasanya, penularan herpes HSV 2 terjadi karena penderita tidak mengetahui bahwa ia terinfeksi karena kebanyakan memang tak ada tanda khusus penularannya.

“Saat ini belum ada vaksin untuk mencegah penularan HSV, ” kata dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD, seorang Vaksinolog lulusan University of Siena, Italy sekaligus dokter lulusan FKUI.

Sekalipun termasuk penyakit menular yang belum memiliki vaksin khusus, penularan HSV bisa dicegah dengan mengonsumsi obat anti viral yang disesuaikan dengan resep dokter. Meski bukan termasuk penyakit yang dapat mengancam jiwa, meminum obat anti viral saat HSV pasangan sedang aktif akan dapat membantu mengurangi risiko tertular infeksinya.

Orang yang berpotensi terinfeksi HSV

Beberapa orang memiliki potensi terinveksi HSV lebih besar dari yang lainnya. Berikut ini adalah orang yang memiliki potensi besar terinfeksi HSV:

  • Orang yang suka berganti-ganti pasangan
  • Terbiasa melakukan perilaku seksual yang tidak sehat
  • Sudah memiliki penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang lain
  • Memiliki sistem imun tubuh yang lemah

Tanda seseorang mengalami herpes aktif sebenarnya bisa jelas terlihat saat luka koreng maupun lecet bermunculan. Namun, untuk memastikannya, perlu cek ke laboratorium atau bisa juga lewat tes DNA atau PCR.

Famvir, Zovirax, Aciclovir, dan Valtrex adalah beberapa obat yang biasa diresepkan dokter untuk mempercepat pemulihan HSV aktif dan mengurangi rasa perih terutama di sekitar kemaluan. Terutama jika keluhan yang muncul adalah nyeri saat buang air kecil dan gatal.

Salah satu cara untuk mencegah virus aktif juga mengonsumsi obat anti viral dalam periode tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi Aciclovir 500mg dalam jangka panjang tak membuat efek samping tertentu. Jika ada efek samping, pasien maupun pasangan yang tak terinfeksi HSV wajib mengonsultasikannya ke dokter.

Sekalipun herpes sedang aktif, bertukar handuk, duduk di dudukan toilet yang sama, dan berenang bersama tak akan menularkan HSV. Karena HSV hanya akan menular lewat sentuhan kulit pada bagian yang terinfeksi secara langsung.

HSV pada bayi

Umumnya, anak kecil yang tertular virus ini mendapatkannya lewat kecupan orang yang virus HSV-nya sedang aktif. Sekalipun ibu sedang menderita HSV saat kehamilan, risiko janin tertular sangat kecil dan jarang terjadi.

Artikel terkait: Bayi tertular herpes karena dicium tamu.

Hanya saja, ibu hamil yang memiliki HSV 2 akan rentang menularkan herpesnya pada anak saat melahirkan sehingga diperlukan perawatan khusus dari dokter untuk mencegah itu terjadi. Mencegah potensi tertularnya anak dari herpes akan membuat ia tak perlu menanggung beban sebagai penderita herpes permanen.

Perlu konsultasikan ke dokter kandungan dan bidan jika Anda maupun pasangan punya Herpes Simplex jenis apapun, terutama HSV 2. Karena dokter wajib memeriksa secara khusus saat kehamilan maupun melahirkan.

Jika pasangan Anda memiliki Herpes Simplex, bersikaplah tenang dan dukung ia agar dapat mengontrol virusnya saat sedang aktif. Seringkali, penderita herpes simplex tidak jujur pada pasangannya karena takut bila pasangan akan takut tertular dan meninggalkannya, padahal penyakit ini bukanlah virus yang menggerogoti sistem imun tubuh seperti AIDS maupun HIV.

 

Referensi: Herpes, Health Line, Web MD

Baca juga:

Waspadai Cytomegalovirus: Virus yang lebih Berbahaya dari Zika bagi Ibu Hamil dan Bayi

 

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kesehatan