Hal-hal Yang Dirisaukan Ibu Menjelang Kelahiran Anak Pertama

Hal-hal Yang Dirisaukan Ibu Menjelang Kelahiran Anak Pertama

Galau menjelang kelahiran anak pertama? Tenanglah Bun, karena Anda tidak sendiri.

Kehadiran buah hati, apalagi anak pertama, adalah anugerah tak ternilai bagi setiap pasangan. Akan tetapi, ada sekelompok perempuan yang terlalu paranoid ketika memikirkan dampak memiliki anak bagi kehidupan mereka.

Pemikiran seperti ini bukan hanya akan membuat seorang perempuan menjadi ragu menerima kodratnya sebagai ibu, namun juga menjauhkan kemungkinan kelahiran anak pertama, kedua dan seterusnya dalam sebuah keluarga.

Kegalauan apa sajakah itu? Inilah beberapa di antaranya:

Anak pertama bikin galau, berikut kekhawatiran Ibu jelang kelahiran anak pertama

1. Galau anak pertama apakah bayiku akan aman?

Ketika memandangi anak pertama mereka yang masih berwujud bayi mungil, wajar jika para ibu merasa mereka sangat rapuh dan khawatir terhadap keselamatannya.

Anda berpikir demikian karena merasa belum berpengalaman. Kenyataannya, naluri keibuan Anda akan menuntun Anda ke jalan yang benar dan merawat bayi tak akan menjadi sesulit yang Anda bayangkan.

2. Bagaimana jika ASI-ku tidak lancar untuk anak pertama?

Banyak forum di dunia maya dan dunia nyata dibuat untuk mempromosikan manfaat ASI, dan Anda tak pernah absen menghadiri semuanya. Namun itu semua tak berhasil menghapus kekhawatiran Anda terhadap kemungkinan ASI yang tidak lancar, dan kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi ketika kelahiran buah hati pertama semakin dekat.

Berkonsultasi pada konsultan laktasi tentang cara-cara melancarkan ASI dapat mengatasi rasa khawatir Anda.

3. Apakah aku ibu yang baik?

Ini adalah pertanyaan yang biasa menjadi sumber kegalauan para ibu ketika ‘hari H’ semakin dekat. Satu-satunya orang yang tepat dimintai saran tentang hal ini siapa lagi kalau bukan Ibu Anda sendiri!

Mintalah beliau bercerita tentang pengalamannya ketika melahirkan dan mengasuh anak pertama. Anda akan tahu bahwa semua ibu juga pernah merasakan hal yang sama dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

4. Bagaimana kalau dia rewel terus?

Bayi menangis terus menerus, sementara luka-luka karena persalinan belum sembuh benar. Siapa yang nggak stres dibuatnya? Tapi anak pertama yang Anda nantikan belum lahir dan hal yang Anda khawatirkan belum tentu terjadi.

Jadi buanglah pikiran-pikiran negatif semacam ini jauh-jauh, Bunda. Lebih baik Anda mulai menjalin hubungan yang baik dengan ibu mertua, kerabat atau tetangga, sehingga Anda tahu kemana akan meminta bantuan jika sudah benar-benar tak sanggup menenangkan bayi Anda suatu saat nanti.

5. Bagaimana jika aku tak bisa ke mana-mana?

Kebahagiaan memiliki buah hati untuk pertama kalinya memang tak terkatakan. Akan tetapi, bisa saja seorang ibu baru merasa kehadiran bayi membuatnya tak bisa melakukan hal-hal yang dulu disukainya. Menjadi ibu bukan hanya masalah kesiapan materi, tapi juga keikhlasan hati Anda untuk berkorban.

Masa' sih Anda nggak jatuh hati pada malaikat mungil ini?

Masa’ sih Anda nggak jatuh hati pada malaikat mungil ini?

Dulu saya pun pernah merasakan hal semacam ini ketika anak pertama saya lahir. Saya merindukan teman-teman dan kampus, karena anak pertama saya lahir ketika saya masih kuliah.

Saya memang beruntung bisa bepergian jauh-jauh dan meneruskan kuliah di kota lain karena orang tua bersedia mengasuh anak saya. Sekarang anak saya sudah ABG, dan kadang saya menyesal mengapa saya dulu terlalu sibuk sehingga kehilangan momen menyaksikan pertumbuhannya.

6. Bagaimana dengan bentuk tubuhku?

Banyak ibu yang baru saja melahirkan anak pertama merasa tidak bahagia melihat perubahan bentuk tubuh mereka. Perut yang berkerut dan menggelambir, belum lagi berat badan yang naik tak terkendali, semuanya bisa membuat para ibu baru minder di hadapan suami.

Olahraga secara teratur adalah solusi tunggal untuk masalah ini. Anda dapat menemukannya pada sub topik Pasca Melahirkan.

7. Bagaimana dengan karirku?

Keraguan ini pasti dirasakan oleh setiap calon ibu yang bekerja di luar rumah, apalagi oleh mereka yang telah menggeluti pekerjaannya sejak dari nol dan berhasil mencapai posisi cukup tinggi di kantor.

Bicarakanlah dengan pasangan tentang pembagian tugas mengasuh anak. Atau Anda akan melibatkan pihak lain seperti kerabat atau asisten rumah tangga untuk menjaganya selama Anda bekerja. Anda juga bisa berbicara dengan atasan dan meminta pendapatnya jika Anda bekerja dari rumah.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.

Baca juga artikel menarik lainnya:

6 Gerakan Senam Pasca Melahirkan

Mengatasi Baby Blues, Sindro Pasca Melahirkan

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner