Tak terima anaknya dianiaya guru PAUD, orangtua ini melapor ke polisi

Tak terima anaknya dianiaya guru PAUD, orangtua ini melapor ke polisi

Seorang guru PAUD, tega aniaya anak didiknya yang masih berusia 3 tahun. Korban menderita memar di beberapa bagian tubuhnya.

Setiap orangtua tidak akan rela jika anak mereka disakiti orang lain. Sayangnya, seorang guru pra-sekolah atau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), tega aniaya anak didiknya yang masih berusia 3 tahun. Berikut kisah lengkap guru aniaya murid tersebut!

Guru aniaya murid PAUD

guru aniaya murid

Seorang guru dari sebuah pra-sekolah di Singapura, tega menganiaya seorang siswanya yang masih berusia 3 tahun. Aksi kejam sang guru ini, diketahui setelah orangtua korban menemukan memar pada tubuh putranya.

Sang ayah, Zhao, mengatakan anak laki-lakinya menolak untuk pergi ke sekolah setelah orangtuanya menemukan memar di tubuh sang anak. Beberapa hari kemudian, bocah tersebut berkata bahwa dia ‘takut dengan gurunya’.

Artikel terkait: Anak 3 tahun dianiaya oleh gurunya, ini curhatan sang ibu

Zhao yang berprofesi sebagai fotografer ini, mengatakan bahwa ia mulai menemukan memar di tubuh anaknya pada pada 14 Agustus lalu. Saat mereka sedang makan malam, istri Zhao menyadari adanya beberapa memar pada kaki dan daerah perut putra mereka.

Pasangan suami-istri itu menghubungi pihak PAUD untuk mengadukan hal ini. Karena mereka tidak dapat memperoleh jawaban dari sekolah pada saat itu, pasangan itu memutuskan untuk membuat laporan ke polisi.

Zhao dan istrinya juga membawa putra mereka ke KK Women’s and Children’s Hospital Singapura. Dokter mengatakan memar di tubuh anak itu, tidak mungkin disebabkan oleh insiden saat anak itu bermain.

Kini masalah guru aniaya murid yang menimpa anak Zhao ini sedang dalam penyelidikan pihak kepolisian

Nasib guru aniaya murid di Singapura

guru aniaya murid

Pihak PAUD menyatakan bahwa guru yang melakukan tindak kekerasan tersebut telah diberhentikan sementara dari tugasnya, sambil menunggu laporan kejadian resmi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.

Pihak sekolah juga akan tegas dalam menghadapi masalah ini, dan pihak sekolah akan bekerja sama dengan orangtua korban dan polisi.

The Early Childhood Development Agency (ECDA) Singapura sedang menyelidiki masalah ini. ECDA mengatakan bahwa kasus ini harus ditangani secara serius.

“Pra-sekolah diharuskan untuk melapor ke ECDA untuk setiap insiden yang berdampak pada keselamatan anak-anak dan staf. ECDA akan menindaklanjuti setiap dugaan insiden kekerasan terhadap anak. Kami akan rutin melakukan kunjungan mendadak ke pra-sekolah untuk wawancara dan verifikasi catatan,” ungkap perwakilan ECDA.

Tanda-Tanda anak mengalami kekerasan

bullying adalah

Anak-anak dan remaja sering kesulitan untuk menceritakan perlakuan buruk yang mereka terima kepada orangtua mereka. Jadi mengetahui tanda-tandanya dapat membantu orangtua menyadarinya lebih cepat.

Anak-anak yang menerima kekerasan mungkin:

  • Sering memiliki memar di tubuh
  • Tidak dapat menjelaskan penyebab memar di tubuhnya.
  • Mengarang cerita tentang penyebab memar, namun cerita yang mereka sampaikan terdengar tidak masuk akal atau terus berubah
  • Tidak mau pulang ke rumah
  • Takut bertemu dengan pelaku
  • Menunjukkan tanda-tanda trauma emosional, seperti ketakutan, kemarahan dan sulit mempercayai orang lain
  • Sedih atau tertekan
  • Melukai diri sendiri
  • Mengalami mimpi buruk atau sulit tidur
  • Sulit berkonsentrasi.

Anak-anak yang sering melihat kekerasan (bukan korban) juga bisa menunjukkan tanda-tanda di atas.

Apa yang harus saya lakukan jika saya mencurigai adanya kekerasan terhadap anak?

Jika Bunda curiga bahwa seorang anak menerima kekerasan fisik, kekerasan seksual dll, Bunda bisa melaporkannya pada:

  • Lembaga perlindungan anak
  • Polisi
  • Rumah sakit.

Bunda mungkin tidak yakin 100% bahwa anak tersebut menerima kekerasan, tetapi tidak ada salahnya untuk melapor sebelum terlambat. Pihak berwenang akan memeriksa dan memastikan hal tersebut.

Lebih baik tetap melaporkan meski tidak yakin, daripada membiarkan seorang anak terus menjadi korban kekerasan.

Jika Bunda menjadi orangtua dari anak yang menerima kekerasan, jangan pernah mengancam pelaku atau main hakim sendiri. Biarkan pihak berwenang melakukan pengadilan atas tindakan pelaku.

Jika anak yang menerima tindak kekerasan terlihat trauma, pastikan Parents mengajak anak tersebut untuk berkonsultasi pada dokter atau psikolog.

Semoga kejadian ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak, dan semoga informasi di atas bermenfaat!

***

Anda bisa bergabung dengan jutaan ibu lainnya di aplikasi theAsianparent untuk berinteraksi dan saling berbagi informasi terkait kehamilan, menyusui, dan perkembangan bayi dengan cara klik gambar di bawah ini.

Tak terima anaknya dianiaya guru PAUD, orangtua ini melapor ke polisi

Sumber: Asiaone

Baca juga:

Kekerasan Terhadap Anak – Anda pun Bisa Jadi Pelakunya!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner