Anaknya meninggal karena sepsis akibat penggunaan pembalut, sang ibu berikan peringatan

lead image

Remaja 13 tahun meninggal karena TSS yang diakibatkan tampon, sang ibu memberikan peringatan akan gejala TSS pada semua orangtua lainnya.

Toxic shock syndrome (TSS) adalah penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri staphylococus aureus atau bakteri streptococus yang masuk ke aliran darah, berkembang biak kemudian menimbulkan racun dalam darah. Gejala toxic shock syndrome mirip dengan demam biasa, sehingga sering diabaikan hingga terlambat. 

Seorang ibu yang kehilangan putrinya akibat sepsis yang diakibatkan penggunaan tampon, memohon pada semua orang agar mewaspadai bahaya tampon. Terutama tanda-tanda toxic shock syndrome yang diakibatkan oleh penggunaan tampon. 

Tampon adalah pembalut berbentuk silinder yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menyerap darah menstruasi. Tampon banyak digunakan oleh mereka yang ingin aktivitasnya tidak terganggu oleh darah haid, seperti berenang.

Sayangnya, banyak yang tak menyadari bahaya tampon yang bisa menyebabkan kondisi mematikan seperti toxic shock syndrome (TSS).

Meski tampon tidak umum digunakan di Indonesia, namun sebagai orangtua kita perlu tahu bahaya penggunaan pembalut yang bisa menyebabkan Toxic shock syndrome.

Remaja 13 tahun meninggal karena toxic shock syndrome

Jemma-Louise Roberts, remaja berusia 13 tahun sangat suka berenang. Dia bergabung ke salah satu klub renang di dekat tempat tinggalnya, dan menggunakan tampon agar latihan renangnya tidak terganggu. 

Saat sedang liburan bersama keluarganya, Jemma tiba-tiba sakit dengan gejala diare dan muntah. Saat dibawa ke dokter, Jemma diagnosis mengalami sakit perut yang diakibatkan virus yang biasa muncul pada musim dingin. Diapun kembali dibawa pulang. 

Namun, kondisi Jemma terus memburuk sehingga keluarganya membawa Jemma ke rumah sakit. Saat itulah, baru diketahui alasan sebenarnya mengapa Jemma sakit, ia terkena toxic shock syndrome yang diakibatkan oleh bakteri dari penggunaa tampon. 

Seminggu kemudian, Jemma menghembuskan napas terakhirnya akibat perdarahan di otak, gagal jantung dan paru-paru. Tes darah Jemma mengungkap adanya bakteri  staphylococcus yang sering menjadi penyebab sepsis dan TSS.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/10/bahaya tampon.jpg Anaknya meninggal karena sepsis akibat penggunaan pembalut, sang ibu berikan peringatan

Tidak ada yang menyangka gadis ceria ini terkena gejala toxic shock syndrome hingga akhirnya meninggal.

Artikel terkait: Balita meninggal karena sepsis, ayahnya memberi peringatan pada semua orang

Permohonan sang ibu untuk mewaspadai gejala toxic shock syndrome

Kepergian Jemma tentunya memberikan duka mendalam bagi keluarganya, terutama orangtua Jemma. Oleh sebab itu, mereka membagikan kisah Jemma agar semua orang sadar akan bahaya TSS.

Diane Roberts, ibuna Jemma berkata, “Mimpi Jemma adalah agar ia bisa mengajar renang pada anak-anak yang lebih kecil. Dia suka membantu orang lain, dan murah senyum.”

Diane memberi peringatan pada semua orang, tentang tanda-tanda TSS yang sering diabaikan. Padahal akibatnya bisa mematikan. 

“TSS dulu sering dibicarakan di tahun 80-an, namun sekarang jarang orang mengetahuinya. Saya dan suami saya tidak pernah mendengar soal TSS. Jika ada beberapa ayah yang membaca soal tanda-tanda ini, dan melihat anaknya mengalami gejala yang sama, itu bisa menyelamatkan nyawa putri mereka,” tutur Diane. 

Gejala awal TSS meliputi tanda-tanda flu, mulai, muntah dan diare. Lalu akan muncul ruam di tubuh dan bisa mengakibatkan kerusakan organ bila tidak segera ditangani.

Aaron Glatt, MD, juru bicara Infectious Diseases Society of America mengatakan, “Pada dasarnya tampon aman digunakan. Tapi hindari tampon dengan daya serap tinggi, karena wanita cenderung memakainya lebih lama.”

Tampon atau pembalut lain harus diganti setiap 4-6 jam sekali, agar tidak ada bakteri dari darah mens yang kembali ke tubuh kita.

Gejala toxic shock syndrome

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/10/tampons shutterstock large.jpg Anaknya meninggal karena sepsis akibat penggunaan pembalut, sang ibu berikan peringatan

Tampon bisa menyebabkan gejala toxic shock syndrome terjadi.

TSS adalah kondisi yang cukup langka, setiap tahunnya, TSS hanya menimpa 1 dari 100.000 wanita yang menggunakan tampon.  Meski demikian, TSS sangatlah fatal, bisa berujung kematian bila tidak ditangani sejak dini, saat gejala awalnya baru terlihat.

TSS bisa menimpa siapa saja, laki-laki, perempuan dan anak-anak bisa mengalami TSS. Bakteri penyebab TSS bisa masuk ke dalam aliran darah melalui luka yang dibiarkan terbuka dan tidak diobati dengan baik sehingga mengalami infeksi dan menyebabkan bakteri masuk ke dalam darah.

Penyebab lainnya:

  • Penggunaan tampon. Banyak kasus TSS terjadi disebabkan oleh tampon yang dibiarkan terlalu lama dalam tubuh tanpa diganti, terutama tampon dengan daya serap tinggi.
  • Penggunaan kondom perempuan yang dimasukkan ke dalam vagina
  • Luka terbuka di tubuh seperti luka teriris pisau, luka bakar, gigitan serangga atau luka bekas operasi yang tidak dirawat dengan baik sehingga mengalami infeksi.
  • Mengalami infeksi bakteri staphylococcal atau streptococcal seperti radang tenggorokan.

Gejala Toxic shock syndrome terjadi secara mendadak dan langsung membuat kondisi tubuh memburuk.

  • Demam tinggi hingga 39 derajat celcius
  • Gejala mirip flu seperti sakit kepala, meriang, sakit tenggorokan, batuk
  • Otot terasa kaku
  • Diare
  • Tekanan darah rendah
  • Mual dan muntah
  • Mata, bibir dan lidah memerah
  • Kejang-kejang
  • Sulit bernapas
  • Ruam di kulit yang menyebar seperti luka bakar

Bila anak Anda mengalami gejala di atas, segeralah hubungi dokter dan minta dia melakukan pemeriksaan TSS untuk memastikan bahwa Anda tidak mengalami infeksi ini.

Semoga bermanfaat.

 

 

Sumber referensi: Manchester Evening News, theAsianparent Singapura, Dokter Sehat

Baca juga: 

Anak 4 tahun terkena sepsis akibat mencoba sepatu baru, sang ibu beri peringatan

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.