Musim DBD, Zayka anak Vendryana jadi korban, ini kisahnya

lead image

Hati-hati... kasus DBD pada anak tahun 2019 kian meningkat.

Beberapa waktu lalu, Benzivar Zayka Mavendra anak pasangan Benazio Rizki Putra dan Vendryana mengelami penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga harus dirawat di rumah sakit. Belajar dari pengalaman tersebut, yuk, kita kenali lebih lanjut apa saja gejala DBD pada anak yang perlu diwaspadai

Zayka dirawat di rumah sakit akibat DBD

Melihat anak yang sakit tentu menjadi momen yang menyedihkan bagi setiap orangtua. Begitupun yang dirasakan oleh influencer Vendryana beberapa waktu lalu.

Melalui akun instagram pribadinya, Vendryana menceritakan pengalaman pertamanya saat puteranya yang kerap disapa Zayka dinyatakan positif DBD. Akibat penyakitnya tersebut, Zayka harus dirawat di rumah sakit selama 2 hari dan kehilangan tenaganya selama kurang lebih 1 minggu.

Beruntung, Zayka kuat melewati masa-masa kritis dalam DBD. Tak butuh waktu lama, nafsu makannnya pun berangsur membaik dan kembali aktif berjalan. Berikut ini kisah lengkapnya:

#thestoryofubi – Zayka DBD

Beberapa saat sebelum copot infus. Akhirnya senyum yang ku tunggu-tunggu, joget yang aku kangenin akhirnya datang juga. Alhamdulillah cukup 2 malam ngerasain bobo di RS, total-total seminggu ngerasain anak ini lemes nggak berdaya. Ibu pun lemes liatnya.

Hari pertama Zayka demam, langsung panas 38.2 padahal baru pulang dari mall. Hari ketiga bawa ke UGD karena panas tinggi sampai 40.3. Ibu rasanya belum siap kalau Zayka sampai kejang, tapi alhamdulillah nggak sampai kejang. Cuma usaha banget gimana caranya supaya nggak panik, karena suami malam itu pergi ke beda benua tapi Allah Maha Baik, aku dikasih cobaan sesuai sama kesanggupanku juga. Dikasih support system yang luar biasa juga.

Cek darah pertama, belum bs dikatakan DBD. Jadi boleh pulang, eh pas pulang ibu yang sakit panas sampai 38.8. Kalo dipikir-pikir, pas aku panas itu pas masa kritis DBD Zayka. Sekali lagi Allah Maha Baik, Dia bantu jaga Zayka yang saat itu kondisinya nggak mau makan sama sekali, tiba-tiba jadi mau makan sedikit-sedikit, mau main dan akhirnya melewati masa kritis DBD.

Dengan izin Allah ibu sembuh besokannya (magic asli), tapi panas Zayka naik lagi dan masih lemes. Langsung bawa Zayka cek darah lagi. Kacau bgt hari itu. ada aja hambatannya kayak saat sebentar lagi giliran masuk ke dokter tau-tau dokternya ada operasi, jadi harus nunggu dalam keadaan was2, badan Zayka makin panas, aku masih flu, pikiran udah mulai ngaco. yaudah cuma bisa istighfar aja.

gejala dbd

Setelah dinyatakan positif DBD, dokter kaget karena ternyata udah lewat masa kritis dan untung semua baik-baik aja. Jadi udah dikasih kisi-kisi sama dokter: kira-kira butuh 2 hr lagi utk selesai DBD nya, nanti bakal naik lagi panasnya, bakal turun lagi trombositnya tapi hari kedua semua akan membaik. Subhanallah, Masya Allah, petunjuk Allah ada lewat DSA Zayka, semuanya bener terjadi. Zayka nggak perlu lama-lama di RS, bahkan di hari ke-3 dokter bilang kalo mau pulang silakan aja gapapa, bisa pemulihan di rumah.

Tadinya aku pikir 1 malam lagi, biar bisa istirahat Zaykanya tapi ternyata.. anak ini udah mulai aktif maunya jalan, maunya utak atik infus, waduh udah mulai nggak kondusif. Yaudah bismillah kita pulang aja. dan pas sekali Zayka pulang dari RS, ayahnya pulang dari Afrika #MasyaAllahTabarakallah,” cerita Vendryana dalam akun instagram pribadinya, pada Kamis (17/1).

Waspada! Tahun 2019, kasus DBD meningkat

Beberapa hari lalu, theAsianparent telah menulis artikel berjudul ‘Waspadai perubahan jam aktif nyamuk DBD, kenali waktu-waktunya’.

Di mana penelitian terbaru membuktikan bahwa aktivitas nyamuk menghisap darah yang paling tinggi dilakukan pada petang hari, mulai jam 17.00 -18.00 WIB. Peneliti juga menyebutkan bahwa penelitian ini juga menggunakan umpan orang dalam (UOD) maupun umpan orang luar (UOL).

Penelitian yang dipimpin Dr Syahribulan ini menemukan waktu aktivitas terendah, aktivitas Ae. aegypti dan Ae. albopictus terendah terjadi pada pukul 12.00-14.00 WITA.

“Baik nyamuk Ae. aegypti maupun Ae. albopictus ditemukan menghisap darah pada malam hari pukul 18.00-20.00 WITA,” ujarnya.

Kompas.com juga menyebutkan bahwa tahun 2019 kasus DBD memang kian meningkat dan terus bertambah.

Siti Nadia, Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementrian Kesehatan mengatakan bahwa berdasarkan data sementara yang dihimpun Kementerian Kesehatan dari awal tahun hingga 29 Januari 2019, jumlah penderita DBD yang dilaporkan mencapai 13.683 orang di seluruh Indonesia.

Dari kasus DBD yang terjadi, angka kematian tertinggi terjadi di Jawa Timur, yaitu 47 orang, lalu NTT dengan 14 orang, Sulawesi Utara dengan 13 orang, dan Jawa Barat dengan 11 orang. Total angka kematian yang disebabkan kasus DBD mencapai 133 orang.

Fakta ini tentu saja tidak bisa dipandang remeh. Parents perlu melakukan beragam upaya untuk melakukan pencegahan, dan mengetahui apa saja gejala DBD pada anak.

Berikut beberapa gejala DBD pada anak yang perlu Parents waspadai :

  • Anak mengalami demam tinggi mencapai 40 derajat Celcius atau lebih hingga satu minggu kemudian demam menurun
  • Ruam atau bintik-bintik merah pada kulit
  • Nyeri pada otot, sendi, dan tulang
  • Nyeri pada belakang mata
  • Pusing
  • Rasa lelah yang berlebihan 
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mimisan 
  • Kulit anak mudah memar

Harapannya, dengan mengetahui apa saja gejala DBD pada anak, si kecil bisa segera mendapatkan perawatan terbaik.

Referensi: Instagram Vendryana

Baca juga

Waspada penyakit DBD saat hamil, bisa mengakibatkan kematian janin

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.