Kenapa anak sering berhalusinasi saat demam tinggi? Ternyata ini penyebabnya!

lead image

Anak Anda pernah demam tinggi lalu mengalami halusinasi atau kerap mengigau? Apa penyebabnya dan bagaimana menangani kondisi ini?

Anak demam tinggi sering kali diindentikkan dengan halusinasi atau kerap mengigau. Apakah anak Anda pernah mengalaminya, Parents?

Bingung, khawatir, cemas, dan sedih. Tentu perasaan ini bercampur jadi satu saat melihat anak demam tinggi yang menyebabkan ia berhalusinasi.

Tidak sedikit orang yang kemudian menganggap bahwa anak yang demam tinggi dan mengalami halusinasi dianggap menjadi lebih sensitif kemudian bisa melihat ‘sesuatu’ yang gaib.

Pertanyaannya, apa benar? Bagaimana kondisi demam tinggi  dan berhalusinasi yang dialami anak ini dilihat dari kacamata medis?

Beberapa tahun lalu saya sempat merasa begitu kalut lantaran melihat anak saya yang mengalami demam tinggi, kemudian mengigau sepanjang malam. Mengoceh segala hal.

Penyebabnya ketika itu anak saya baru saja operasi usus buntu, namun ternyata disusul dengan penyakit demam berdarah yang ke-2 kali. Ketika itu, demam tinggi hingga mencapai 40 derajat celsius.

Untuk mendapatkan jawaban, saya pun akhirnya bertanya pada dr. Meta Hanindita Sp.A. Pertanyaan pertama yang saya ajukan tentu saja pertanyaan mendasar, “Mengapa anak demam tinggi sering kali berhalusinasi?”

Sejak awal, dokter anak yang sering kali memberikan edukasi lewat akun Instagramnya ini menegaskan kalau persepsi halunsinasi yang dimaksud harus disamakan terlebih dahulu.

“Kalau di medis, mengigau saat anak demam tinggi ini disebut sebagai delirium bukan halusinasi. Termasuk kalau sedang demam seperti ngerasa atap rumah turun terus, atau lantai rumah seperti muter-muter, atau merasa lihat dinding kamar kaya jalan mepet kita. Sementara kalau halusinasi merupakan gangguan otak dan sistem syaraf pusat yang disebut dengan common phenomenon of insanity,” paparnya.

Lebih lanjut, dr. Meta mengatakan bahwa kondisi delirium yang dirasakan saat anak sedang demam tinggi  sifatnya temporari saja.

“Biasanya kalau penyebabnya teratasi, ya akan hilang, dan munculnya mendadak banget. Gejalanya confusion, disorientasi, nggak bisa konsentrasi, kecemasan, dan kadang ya itu tadi semacam halusinasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, dikatakan dr. Meta bahwa kondisi delirium pada anak memang sering terjadi karena anak mengalami infeksi.

“Infeksi apa saja? Macam-macam infeksi, misalnya encephalitis, meningitis, infeksi saluran kemih, pneumonia, typhoid, dan lainnya. Kondisi delirium ini dapat terjadi 10-30% pada pasien dewasa,  80% di antaranya terjadi di ruangan ICU.”

Bagaimana dengan delirium pada anak-anak?

“Delirium pada anak dengan penyakit kritis ini memang dapat terjadi, di mana 20%-30% anak, lebih sering pada anak usia lebih muda. Kondisi ini tergantung dari derajat keparahan penyakit. Ini tapi juga terjadi pada penyakit non kritis, ya. Untuk penyakit non kritis, saya memang belum bisa menemukan penelitiannya.”

dr. Meta pun memberikan beberapa kiat cara menenangkan anak demam tinggi yang gelisah hingga mengalami delirium.

“Selalu dampingi anak pada kondisi ini. Ciptakan suasana menenangkan buat anak, lampu temaram, nyalakan musik lembut, semprotkan aroma yang familiar bagi anak. Selain itu, Anda bisa meletakkan mainan atau selimut favorit, atau foto keluarga di sebelah tempat tidur anak. Jika anak gelisah, pindahkan kamar yang lebih tenang.”

Perlu diketahui bahwa ada beberapa kondisi saat anak-anak memiliki risiko tinggi mengalami delirium. Apa saja?

  • Anak dengan keterlambatan perkembangan
  • Anak yang membutuhkan tambahan oksigen
  • Anak di usia 2-5 tahun
  • Anak yang mengalami demam di atas 40 derajat celcius

Jadi bagaimana Parents, semoga penjelasan dr. Meta ini bisa membantu, ya. Anda pun tidak perlu menduga-duga saat anak sedang demam bisa melihat ‘sesuatu’. 

 

Baca juga:

Cara Ampuh Mengatasi Demam Pada Bayi Tanpa Perlu ke Dokter

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.