Stop beri gadget pada balita, ini pesan dokter anak

lead image

Dalam laporan terbaru, para dokter anak mengungkap dampak negatif gadget bagi anak lebih daripada yang orangtua bayangkan. Seperti apa? Baca selengkapnya

Cara paling mudah untuk membuat bayi atau balita anteng adalah dengan membiarkannya bermain smartphone milik kita. Hayooo, apakah Parents salah satunya? Sekarang, sepertinya kita harus berpikir dua kali sebelum melakukannya. Dalam sebuah laporan klinis terbaru, para dokter anak memaparkan dampak negatif gadget bagi anak. Mereka mengimbau para orangtua untuk tidak memberikan balita peralatan atau mainan digital, karena akan menghambat tumbuh kembangnya. 

Jangan sepelekan dampak negatif gadget bagi anak

dampak negatif gadget bagi anak - poin 1

Dalam laporan klinis yang dikeluarkan pada tanggal 3 Desember oleh American Academy of Pediatrics (AAP), para dokter menggarisbawahi dampak negatif gadget bagi anak, meski mainan tersebut “didesain untuk anak kecil” sekalipun.

Mengapa?

Karena menurut laporan klinis tersebut, mainan atau alat elektronik tersebut sama buruknya dengan mendudukkan anak di depan TV agar mereka anteng. Dampak negatif gadget bagi anak, termasuk pengaruhnya pada perkembangan anak, merupakan hal yang harus dianggap serius oleh para orang tua.

Peringatan untuk orang tua mengenai dampak negatif gadget bagi anak

Dalam usia balita, anak Anda memasuki fase yang penting dalam tumbuh kembangnya: bahasa dan komunikasi, kognitif, emosi, dan fisik. Dengan memberikan mereka screen time dan kurangnya waktu bermain yang aktif atau imajinatif, area-area perkembangan yang penting ini akan terpengaruh.

“Mainan berbentuk fisik (dan juga buku) memberikan interaksi yang hangat dan kaya akan percakapan serta waktu yang berkualitas antara orang tua dan anak,” tutur salah satu penulis dari laporan tersebut, Dr. Alan Mendelsohn dari New York University School of Medicine and Bellevue Hospital Center di New York City.

“Hal yang sama tidak diberikan oleh gadget, yang justru menghalangi interaksi tersebut. Sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali bukti bahwa screen time bermanfaat untuk anak berusia di bawah 2 tahun,” lanjutnya.

Namun, meskipun panduan AAP secara jelas mengatakan bahwa anak-anak di bawah usia 2 tahun tidak boleh memiliki screen time sama sekali, baik itu TV, gadget atau mainan elektronik, para orangtua seringkali tidak mengindahkannya. 

Dalam laporannya yang diterbitkan di Pediatrics, Mendelsohn dan koleganya menulis bahwa para orangtua seringkali memberikan gadget dan mainan yang menurut mereka edukatif. Padahal faktanya, tidak sama sekali. Mereka tidak bisa dibandingkan dengan belajar yang sesungguhnya secara fisik. 

Salah satu contohnya dipaparkan oleh Dr Anay Bhalarao:

“Ketika anak Anda ingin mengetahui di manakah Australia pada globe, ada banyak pembelajaran aktif di sini. Apakah ia berada di belahan bumi utara atau selatan? Bagaimana posisinya dibanding benua lain? Dan jika anak Anda tidak menemukannya ketika memutar globe sekali. ia akan menemukannya lagi setelah memutarnya sekali lagi.

Hal ini membantu anak belajar mengasosiasikan benda; bahwa bumi itu bulat, bagaimana siang dan malam terjadi. Si anak juga akan membangun orientasi spasial, di mana sebuah benda adalah tiga dimensi ketika ia bermain menggunakan mainan fisik. 

Ketika Parents menggunakan layar untuk tujuan yang sama, hal-hal kecil dalam pembelajaran ini tidak didapatkan.”

Apakah ini berarti Anda tidak boleh menggunakan gadget sama sekali? Boleh saja, namun ada syaratnya

dampak negatif gadget bagi anak - poin 2

Bayi dan balita suka bermain, dan ada alasan yang bagus di belakangnya. Bermain pada masa kanak-kanak menumbuhkan hubungan yang hangat dan interaktif antara anak dan orangtua. Bermain juga menumbuhkan perkembangan perilaku, emosi, dan keterampilan sosial. Di saat yang sama, anak bisa belajar.

Ketika anak dibiarkan sendirian dengan gadget, dampak negatif gadget bagi anak meningkat. Hal ini karena tidak ada interaksi antara anak dan orang dewasa, atau anak dengan anak, seperti mencari Australia bersama pada globe, atau bermain petak umpet. 

Namun tidak semuanya buruk. Jika Parents tetap memilih untuk membiarkan balita bermain, setidaknya pilih yang memiliki pengalaman interaksi antara anak dan orang ua.

Juga, gadget yang Anda pilih tidak terlalu banyak menstimulasi anak (dengan bunyi yang keras dan warna terlalu terang) dan harus mendorong anak untuk berimajinasi. 

Sedikit pedoman mengenai screen time

– Anak di bawah 2 tahun: Tidak ada screen time sama sekali

– Anak usia 2 – 5 tahun: Tidak lebih dari 1 jam per hari (termasuk TV). Anda hanya boleh mengizinkan game jika sesuai usia dan perkembangannya. Anak seusia ini tidak diperbolehkan memainkan gadget sendiri.

Ingat: kuncinya adalah interaksi dan pengawasan

“Para psikolog telah lama mengimbau orangtua untuk tidak mendudukkan anak mereka di depan TV untuk menonton sendirian, namun harus mempraktekkan menonton bersama, sering berhenti untuk berinteraksi dengan si anak mengenai konten yang dilihat dan pastikan mereka mengerti pesan penting yang disampaikan untuk perkembangannya,” ujar Larry Rosen dari California State University Dominguez Hills. 

“Bukan berarti gadget tidak berguna sama sekali. Justru saya melihat gadget sebagai cara orangtua melatih anak keterampilan kritis dan cara memberi pengetahuan pada anak mereka dalam lingkungan yang menyenangkan.

3C untuk dipertimbangkan ketika menggunakan gadget untuk anak

Menurut David Kleeman, duta untuk organisasi nirlaba The Genius of Play, orang tua harus mengingat hal ini ketika menggunakan gadget untuk anak:

Content (Konten): Bagaimana cara gadget menstimulasi anak untuk terlibat, mengekspresikan, berimajinasi, dan mengeksplor?

Context (Konteks): Bagaimana cara gadget menambah, alih-alih mengganggu, permainan alami anak?

– The unique Child (Anak yang unik): Orangtua membutuhkan dukungan tambahan ketika memilih gadget atau mainan yang tepat sesuai kebutuhan dan kemampuan anak. Bagaimana kita kembali pada tujuan awal mainan dibuat, daripada membesar-besarkan hasil penggunaannya?

 

 

Artikel disadur dari tulisan Nalika Unantenne di theAsianparent Singapura.

Baca juga:

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.