Curhatan Ibu Bekerja yang Banting Setir Jadi Ibu Rumah Tangga

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Curhatan ibu bekerja yang banting setir menjadi ibu rumah tangga ini membuat kita mengerti, tidak ada pilihan mudah yang diambil oleh seorang ibu.

Banyak orang mempertentangkan kedua pekerjaan ini, menjadi ibu rumah tangga ataukah menjadi ibu bekerja. Curhatan ibu bekerja ini dapat membuka pandangan kita bahwa menjadi ibu dengan status apapun, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Kristina Johnson berbagi pengalamannya dalam curhatan ibu bekerja yang akhirnya berubah status sebagai ibu rumah tangga di laman Parent. .

Sekalipun pernah menjadi seorang pekerja media dengan deadline ketat, Kristina tetap merasa bahwa ternyata menjadi ibu rumah tangga jauh lebih sulit dan melelahkan daripada menjadi ibu bekerja.

Tepat pada tahun lalu bahwa hidupku berubah bagaikan arena sirkus.

Segalanya berawal dari musim gugur hingga sampai musim dingin. Rasanya seperti diserang secara bertubi-tubi oleh berita di media televisi tempatku bekerja. Produser membuatku harus jalani shift kerja yang sangat panjang.

Pertama, aku harus mengerjakan soal serial dunia, kemudian pemilu, lalu peristiwa tragis berupa serangan teror Paris. Secara rutin, aku telah bekerja hingga pukul 2-3 pagi untuk menyalin dan mengedit teks berita serta memproduksi berita tengah malam.

Sudahkah aku menyebutkan bahwa saat itu aku sedang hamil besar? Acara syukuran jelang kelahiranku terjadi hanya sehari setelah serangan mematikan di Paris. Tema syukuran kehamilan tersebut adalah Paris, kebetulan yang pahit, bukan?

Tahun ini, hidupku benar-benar berbeda. Aku meninggalkan pekerjaan gila itu untuk tinggal di rumah dengan anakku yang sekarang berumur sepuluh bulan.

Aku sangat senang bahwa ternyata aku memiliki kebebasan untuk membuat pilihan itu. Namun ternyata, keputusan itu secara mengejutkan menyimpan konsekuensi berupa siksaan batin dengan level di atas pekerjaanku sebelumnya.

Tetap saja, ada sesuatu yang membuatku merasa perlu membela diri soal itu. Rasanya, aku masih ingin menjelaskan alasanku pada orang-orang mengenai keputusan besar yang aku ambil ini.

Jadi, inilah yang ingin aku beritahukan pada orang-orang:

Aku tidak malas

Aku bukannya sedang mencari-cari alasan untuk meninggalkan pekerjaanku. Toh aku kembali bekerja setelah 13 minggu cuti hamil dengan beberapa alasan klise, seperti: "mencari keseimbangan hidup," "berusaha menjalankan ini," bahkan ada obsesi untuk dapat "mengerjakan segalanya."

Namun karirku di saluran berita televisi benar-benar tak dapat diprediksi dan tak sebanding dengan pekerjaan membesarkan seorang anak perempuan.

Aku telah bekerja untuk karirku selama sepuluh tahun dan telah bekerja sangat keras di dalamnya. Aku pun telah mengorbankan banyak hal demi itu.

Aku merindukan masa kumpul-kumpul bersama keluarga besar di mana kita bisa makan malam bersama di hari libur ataupun sekedar makan malam dengan suamiku.

Sebelumnya, memang sudah dapat dibayangkan bahwa dengan adanya anak, aku tidak ingin lagi melakukan pengorbanan-pengorbanan semacam itu lagi.

Aku tidak akan menghakimimu

Aku sedang membuat pilihan terbaik untuk keluargaku. Aku tidak peduli pilihan apa yang Anda buat untuk keluarga Anda.

Jika Anda dan pasangan memang memutuskan untuk bekerja, maka aku akan mengagumi dedikasi Anda dalam hal ini. Kalau pun Anda dan pasangan memang harus bekerja, maka aku akan mengagumi pengorbanan Anda.

Tak peduli apakah Anda memiliki pengasuh yang hebat atau lebih memilih tempat penitipan anak. Bisa jadi juga, Anda lebih memilh anak dirawat oleh kakek-nenek, atau pun diasuh oleh seorang ayah rumah tangga.

Yang terpenting di sini adalah, ada seseorang yang telah menjaga anakmu.

Aku takut bahwa aku tidak cocok melakukan ini

Aku sudah menjadi ibu yang tinggal di rumah selama beberapa bulan sekarang, dan aku masih belum sepenuhnya yakin bahwa aku tidak mengacaukan segalanya.

Kehadiranku secara terus menerus di rumah tak lantas membuat anakku tidak lebih nyenyak maupun makan lebih banyak. Hal ini juga tak lantas mengubahku jadi seorang koki yang handal maupun orang yang rapi dalam pekerjaan rumah.

Aku masih jadi seorang ibu yang buruk dalam hal Pinterest, dan aku juga masih perlu banyak menahan diri dengan targetku sendiri.

Aku masih tak bisa memberikan jawabannya

Meskipun sekarang ini aku sudah melihat kedua sisi, aku masih tidak bisa memberitahumu mana yang lebih mudah, jadi ibu rumah tangga ataukah bekerja.

Aku telah menukar stres yang satu dengan stres yang lainnya. Rasanya, aku sekarang malah bekerja lebih keras dari sebelumnya karena bayi adalah bos yang paling menuntut.

Tidak ada cara yang benar-benar mudah. Kita hanya melakukan hal yang terbaik untuk anak-anak kita. Pekerjaan itu tak ada habisnya.

Semoga curhatan ibu bekerja yang banting setir jadi ibu rumah tangga ini ikut memotivasi Bunda dalam hal membuat pilihan soal pekerjaan kantor ataupun jadi ibu rumah tangga. Di sini kita belajar bahwa apapun pilihannya, ada konsekuensi berat yang akan menghadang kita.

Menjadi seorang ibu yang bekerja maupun ibu rumah tangga sama-sama pekerjaan berat. Sudah saatnya kita berhenti untuk menganggap bahwa ada yang lebih hebat dan lebih penting dari keduanya.

Karena, apapun pilihan yang diambil oleh seorang ibu, seperti apa yang dikatakan oleh Kristina, pada akhirnya, yang terpenting adalah ada seseorang yang bisa menjaga anak kita di rumah.

 

Baca juga:

Surat Terbuka Seorang Ibu Rumah Tangga yang Hampir Depresi

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kisah Mengharukan