Curahan Hati Seorang Istri Yang Bekerja Untuk Suaminya

Menjadi seorang ibu sekaligus bekerja di luar rumah bukanlah hal yang mudah. Berikut ini adalah surat seorang istri yang bekerja kepada suaminya.

Seiring dengan zaman yang semakin maju, dan tuntutan kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Seorang perempuan tidak bisa hanya berpangku tangan menunggu nafkah dari suami, tapi juga harus bisa menjadi istri yang bekerja demi membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Dampaknya, perempuan jadi memiliki peran ganda. Selain bekerja ia juga harus mengurus keluarga. Tentu bukan tugas yang mudah, dilansir oleh Scarymommy.com, berikut ini adalah sebuah surat yang ditulis oleh seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah.

Suamiku sayang,

Aku mencintaimu. Sungguh, dengan segenap perasaanku. Akan tetapi, biar kuutarakan saja - aku lelah. Aku teramat sangat letih hingga keletihanku pun menjadi lebih letih. Apa kau mengerti?

Sia-sia saja aku berpikir betapa tingginya tingkat keletihanku karena itu akan menghabiskan lebih banyak energi. Letih. Energi yang terkuras habis. Capek. Lelah.

Kau memandangku seperti orang asing yang kabur dari rumah sakit jiwa. Aku seorang ibu yang bekerja di luar rumah. Aku mengalami rasa bersalah yang begitu mendalam karena tidak bisa berada di rumah siang dan malam bersama anak-anak seperti halnya seorang ibu “yang baik” lakukan.

Aku tahu bahwa ibu rumah tangga yang diam di rumah melakukan pekerjaan yang nyata – pekerjaan yang berat. Tapi aku tidak bisa hanya menjadi ibu rumah tangga yang seperti itu.

Bagiku, pergi bekerja setiap hari adalah seperti liburan kecil, walaupun aku juga melakukan pekerjaan yang berat dan nyata di sana. Profesiku membuatku merasa berguna dan memiliki arti.

Kebutuhan dasar rumah tangga keluarga kita yang disokong oleh gajiku terasa memudar oleh kenyataan bahwa aku menyukai karirku. Aku ingin anak-anak melihat bahwa kerja keras itu adalah hal yang baik. Mereka akan menjadi lebih kuat karenanya. Setidaknya itulah yang aku katakan pada diriku sendiri. Namun perasaan bersalah karena tak bisa menghabiskan waktu bersama mereka tetap saja ada, dan tak pernah sedikitpun berkurang.

Dengar, aku tidak menganggap bahwa kau adalah seorang suami yang buruk atau ayah yang tidak baik. Tapi sebaliknya, kau berada di tingkat tertinggi dari semua pria baik yang ada. Kau adalah Romeoku, Stud Muffin-ku, MacDaddy-ku. Tolong jangan mencoba untuk 'memperbaiki' keletihanku, tapi (dan ini adalah tapi yang sangat besar) kau bisa meringankan bebanku dengan cara yang nyata.

Jika kau melihatku keluar dari mobil membawa tumpukan dokumen kerja, tas sekolah anak-anak, proyek seni anak-anak, dan kantong belanjaan. Tawarkanlah bantuan untuk membawanya. Dan
jujur saja, bisakah kau mengingat di mana kau menaruh kunci dan dompetmu? 

Aku juga punya masalah lain, aku kesepian. Profesi ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah sama dengan kesepian. Kebanyakan temanku memiliki pekerjaan yang tak ada habisnya, siang dan malam. Sehingga tidak satupun dari kami bisa bertemu satu sama lain.

Tidak ada lagi hari merawat kuku atau waktu bersenang-senang. Kadang dalam kesempatan langka saat kami minum anggur dengan hanya memakai piyama, kami merasa aman, tenang, normal.

Tolong pahami bahwa kesepian adalah musuhku. Aku butuh komunitas, jadi dukunglah pergaulanku. Paksa aku untuk pergi keluar rumah agar aku ingat bagaimana rasanya bebas.

Tapi, sayangku. Itu artinya kau harus menggantikan tugas-tugasku agar aku bisa pergi ke luar bersama temanku. Aku tahu kau menginginkan daftar apa saja yang harus kau lakukan saat aku tidak ada. Tapi apakah kau tak lihat bahwa aku terlampau letih untuk membuat sebuah daftar yang rapi? 

Aku punya masalah tentang kendali terhadap semua hal, dan aku sedang berusaha memperbaikinya. Aku akan coba semampuku untuk pulang ke rumah setelah menghabiskan waktu bersama teman-temanku dengan tidak mengkritik semua yang telah kau lakukan saat aku pergi selama beberapa jam.

Siapa yang peduli jika kau memberi makan anak-anak kita campuran makaroni keju bersama kentang panggang dan sisa spagheti? Demi Tuhan, aku tahu itu susah, melelahkan dan berisik. Dan aku bersyukur kau mampu melewatinya, Cintaku.

Yang terakhir, aku memiliki terlalu banyak tanggung jawab sehingga aku merasa gagal. Semua aspek dalam hidupku hanya tercapai 60% dari seluruh kemampuanku. Itu nilai D. Aku gagal. Bukankah kau akan terlihat lusuh dan keriput setelah menjalani hidup dengan nilai D?

Hanya itu yang bisa kulakukan dan aku tahu itu menyedihkan. Tapi esok aku akan menghimpun kekuatan dan berusaha mendapatkan nilai A. Bisa jadi aku akan gagal (lagi), tapi bisakah kau memberitahuku bahwa aku melakukan pekerjaan yang baik? Bisakah kau mendukungku dalam usahaku menjadi orangtua, usahaku dalam pekerjaan dan kontribusiku dalam keluarga kita?

Aku ingin rehat. Rawatlah tubuhku. Aku tidak bicara tentang seks (yah, mungkin jika moodku sedang baik kita bisa melakukannya).

Buatkan aku mandi gelembung sesekali, nyalakan lilin, dan biarkan aku sendirian dengan pikiran tenang selama 20 menit saja (lagipula, ini pertukaran yang adil untuk kunjungan harianmu ke 'ruang singgasana' yang entah bagaimana berubah jadi gua buang air pria, yang benar saja?).

Jadi, redupkan lampu dan putar lagu-lagu Boyz II Men. Berusahalah membuatku merasa kau bersikap romantis. Tapi tolong jangan marah jika aku tumbang ke tempat tidur dan langsung terlelap sebelum lagu 'I'll Make Love To You' mencapai bagian tengah.

Aku ingin tinggal dan bicara tentang ini, tetapi ini waktunya kembali bekerja. Aku anak dengan hidung meler yang harus diusap, email untuk diperiksa, PR Matematika untuk diselesaikan dan waktu yang sangat lama sebelum aku bisa pergi tidur.

Dengan Cinta

Istrimu yang bekerja.

Itulah surat seorang istri pada suaminya. Apakah anda tersentuh membacanya? mungkin bisa dijadikan inspirasi bagaimana mengutarakan keinginan Anda pada suami yang telah terpendam selama ini.

 

Baca juga:

Pengakuan Seorang Suami: "Jangan Salahkan Istri atas Rumah yang Selalu Tampak Berantakan..."