Cara Mendidik Anak Agar Berpikir Kritis

Cara Mendidik Anak Agar Berpikir Kritis

Anak-anak adalah pemikir kritis yang akan mengajarkan Anda banyak hal berkat rasa keingintahuan alamiah mereka. Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah cara mendidik anak yang tepat untuk mengembangkan potensi tersebut hingga mereka dewasa?

mari belajar bersama anak agar Anda bisa menjawab pertanyaan mereka!

Mari belajar bersama anak agar Anda bisa menjawab pertanyaan mereka!

Mendidik anak, bukan pekerjaan mudah

“Ibu, kenapa aku harus sarapan? Aku kan lagi nggak lapar,”

“‘Darimana datangnya adik bayi?”

“Mengapa bisa ada banjir, Ma?”

Sering merasa pusing, kewalahan dan jengkel menghadapi pertanyaan si kecil yang bertubi-tubi sementara Anda harus bergegas menyelesaikan kerjaan kantor atau memasak? Sabar ya Bunda, jangan marah dulu. Justru Anda harus berbangga hati karena memiliki buah hati yang berpotensi menjadi ‘problem solver‘, alias seseorang yang jeli melihat sisi lain sebuah masalah dan cara menyelesaikannya. Tentu semua itu tidak jatuh dari langit. Adalah cara mendidik anak yang Anda terapkan menentukan segalanya!

Belajar berpikir kritis adalah salah satu dari kemampuan yang wajib dimiliki anak-anak untuk masa depan mereka. Ellen Galinsky, pengarang Mind in the Making, mencantumkan cara berpikir kritis dalam daftar tujuh keterampilan hidup paling penting yang dibutuhkan setiap anak.

Kami punya beberapa tips buat Anda yang ingin mengetahui bagaimana cara mendidik anak yang tepat untuk mengasah kemampuan tentang cara menyelesaikan masalah, di halaman berikut ini :

Inilah beberapa cara mendidik anak agar berpikir kritis :

1. Biarkan mereka bermain

Anak-anak belajar banyak hal ketika mereka bermain. Saya kira tidak apa-apa kan jika Bunda sesekali membiarkan mereka berlama-lama mandi hanya untuk mengamati gelembung air yang jatuh dari kran, atau menuangkan sabun dan shampo ke ember-ember air untuk melihat manakah yang menghasilkan gelembung paling besar. Bermain di luar ruangan dan bermain peran (kucing dan tikus, atau maling dan polisi) juga akan membantu anak untuk mencoba sesuatu yang berbeda.

2. Pertanyaan terbuka

Saat mereka menanyakan sesuatu, usahakan untuk tidak langsung memberikan jawaban. Sebaliknya, jawab mereka dengan pertanyaan yang memancing mereka untuk menjawab sendiri pertanyaan itu. Misalnya, ketika mereka bertanya, “Darimana keluarnya adik bayi?” jawablah dengan “Kalau telur ayam darimana ya keluarnya?”

3. Jangan hentikan pertanyaannya

Anda mungkin mendadak kehabisan akal menjawab pertanyaan yang mengalir dari buah hati Anda. Anda berpikir dengan memberikan satu jawaban akan mengakhiri semua pertanyaan, dan rasa ingin tahunya pun terpuaskan. Akan tetapi hal ini tak mendidik anak karena mereka akan cenderung cepat merasa puas pada satu jawaban, dan tak membuka diri terhadap kemungkinan jawaban lain dari pertanyaannya. Ketika Anda mengatakan, “Banjir datang karena hujan deras” maka ia akan merasa ketakutan setiap kali hujan turun karena khawatir rumahnya akan kebanjiran.

4. Cara pandang yang berbeda

Dukung anak Anda untuk memandang segala persoalan dari cara pandang yang berbeda, agar ia dapat menjadi pemecah masalah yang kreatif ketika dewasa. Tawarkan alternatif lain saat menemui suatu masalah dan beri ia semangat untuk percaya diri meski ia memiliki pendapat yang berbeda dari kawan-kawannya. Saat ia bercerita tentang seorang teman sekelas yang nakal dan dijauhi kawan-kawannya, Anda bisa mengatakan “Oh mungkin ia ingin main sama-sama, tapi nggak tahu gimana caranya supaya teman-teman mau main sama dia.”

5. Mencari referensi

Dorong si kecil untuk tak puas pada satu sumber informasi saat mencari jawaban atas pertanyaannya. Ajak ia untuk mendapatkan informasi dari tempat atau pihak lain agar ia punya banyak pilihan yang menawarkan jawaban. Saat ia bertanya tentang arti suatu kata dalam bahasa daerah atau bahasa Inggris yang sering ditemuinya, katakan, “Coba kita tanya pada Kakak. Mungkin Kakak tahu jawabannya.” Atau jika Anda punya koneksi internet di rumah, Anda bisa bilang,”Hmmm .. Apa ya? Coba Adek cari di Google Translate.”

6. Hubungan sebab akibat

Mendidik anak agar ia mampu membangun landasan berpikir juga penting. Anda dapat melatihnya dengan menunjukkan hubungan sebab akibat secara sederhana, supaya ia mengetahui ada suatu proses yang mengawali sebuah kejadian. Waktu ia bertanya tentang mengapa kita tidak boleh membuang sampah sembaragan, Anda dapat menjawabnya dengan, “Gimana rasanya kalo Adek buang bungkus permen di tempat tidur Adek, trus Adek tidur di situ. Enak nggak rasanya?”

Selamat mencoba!

Referensi : Developing Critical Thinking Skills In Children –

 

 

 

Children are confronted daily with rich opportunities to solve problems and exercise their own independent judgment when they’re given the chance to safely explore the world. These problems, which might involve physical challenges, social relationship issues, or understanding how things work, often seem minor to us but provide great opportunities to practice critical thinking skills. For example: – See more at: www.brighthorizons.com/family-resources/e-family-news/2014-developing-critical-thinking-skills-in-children/#sthash.0NasWH1G.dpuf
Children are confronted daily with rich opportunities to solve problems and exercise their own independent judgment when they’re given the chance to safely explore the world. These problems, which might involve physical challenges, social relationship issues, or understanding how things work, often seem minor to us but provide great opportunities to practice critical thinking skills. For example: – See more at: www.brighthorizons.com/family-resources/e-family-news/2014-developing-critical-thinking-skills-in-children/#sthash.0NasWH1G.dpuf

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner