"Papa Mama jangan sedih, aku kuat..." Kisah perjuangan korban bom Samarinda,

lead image

Membaca kisah Alvaro, korban bom Samarinda, meyakinkan orangtuanya untuk tidak bersedih, tentu saja membuat hati siapapun ikut merasakan luka mendalam. 

Parents tentu setuju dengan pandangan yang mengatakan bahwa anak-anak adalah korban paling menderita jika terjadi sebuah bencana. Baik bencana alam, perang terlebih dengan kasus pengeboman seperti bom Samarinda.

Belum lama ini saya membaca sebuah kisah mengharukan. Perjuangan seorang bocah lelaki yang tak berdosa yang menjadi korban ledakan bom Samarinda. Peristiwa bom molotov di Samarinda yang terjadi tahun 2017 silam.

Adalah Alvaro, anak lelaki berusia 4 tahun yang harus menderita luka psikis dan fisik lantaran aksi teroris yang tidak bertanggung jawab. Alvaro pun akhirnya menderita luka yang cukup parah di beberapa area tubuhnya. 

Bahkan, kepalanya pun ditanam dalam kulit kepalanya untuk mengembangbiakkan kulit kepalanya yang terbakar akibat api bom Samarinda.

bom samarinda

Hebatnya, di tengah rasa sakit yang ia rasakan, Alvaro justru terihat sangat tegar dan menyakinkan kedua orangtuanya untuk tetap kuat. Kisah ini diceritakan oleh Birgaldo Sinaga yang diunggah di akun Facebook miliknya, 3 Sepetmber 2018 kemarin.

“Papa jangan nangis ya… Varo kuat Pa… ” ujar Alvaro sambil menepuk pipi ayahnya yang tidak bisa menahan air matanya. Begitu tulis Birgaldo Sinaga di awal ceritanya. 

Tak hanya pada sang papa, Alvaro pun berusaha meyakinkan mamanya untuk tetap kuat dan tak perlu bersedih. “Mama… Mama jangan sedih ya Ma… Varo mau nyanyi buat Mama…,” rayu Alvaro menghibur mamanya yang nampak matanya berkaca-kaca.

Membaca kisah Alvaro yang begitu kuat, meyakinkan orangtuanya untuk tidak bersedih, tentu saja membuat hati siapapun ikut merasakan luka mendalam. 

Tidak percaya? Tak ada salahnya jika Parents membaca kisah yang dituturkan Birgaldo Sinaga di laman Facebooknya.

Alvaro Si Bocah Herkules

“Papa jangan nangis ya.. Varo kuat Pa.. ” ujar Alvaro sambil menepuk pipi ayahnya yang tidak bisa menahan air matanya.

Saya mendapat kabar dari orangtua Alvaro bahwa anaknya Alvaro bocah 4 tahun korban teroris bom molotov Samarinda setahun lalu akan menjalani operasi buka balon di kulit kepala tahap ke-2.

Kemarin Alvaro dioperasi. Balon yang ditanam dalam kulit kepalanya sejak 8 bulan lalu menurut dokter yang merawatnya harus dilepas. Juga dilakukan operasi jari tangan kanannya. Sela jari jempol dan jari telunjuk dan juga sela jari telunjuk ke jari tengah tangan kanan Alvaro lengket melepuh akibat api bom molotov.

“Alvaro anak yang kuat Amang. Dia malah yang menghibur kami. Saya sebenarnya tidak sanggup melihat penderitaan dia. Tapi dia selalu membuat saya tegar,” cerita Ibu Alvaro kemarin.

Sejak 8 bulan lalu, operasi pencangkokkan kulit melalui teknologi balon pada kulit kepala Alvaro dimulai. Tujuannya untuk mengembangbiakkan kulit kepalanya yang terbakar api bom molotov akibat serangan teroris di depan Gereja Ouikumene Samarinda setahun lalu.

Pada tanggal 5 Februari 2018 operasi memasukkan balon pertama sebanyak 3 kali dan skin graf kulit tangan yang diambil dari selangkangan sebelah kanan

Pada tanggal 9 Februari operasi skin graf kulit tangan yang diambil dari selangkangan sebelah kiri.

Sejak operasi pertama dilakukan setiap hari Jumat disuntik balon di 3 titik kepala sampai operasi bulan Mei.

Pada tanggal 4 Mei 2018 operasi buka dan pasang balon dilakukan. Dua minggu kemudian dibuka jahitannya. Pada minggu ke 3, disuntik setiap hari Rabu di 3 titik kepala sampai operasi buka balon tanggal 3 September ini.

bom samarinda

“Varo bagai herkules. Ia mampu bertahan tidur dengan posisi miring. Setiap minggu harus disuntik kepalanya”, ujar Ibu Alvaro.

Setiap hari Varo membuat kami semakin semangat. Semakin kuat. Alvaro tidak pernah mengeluh. Tidak cengeng. Ia tangguh dan tegar.

“Mama… Mama jangan sedih ya Ma… Varo mau nyanyi buat Mama…,” rayu Alvaro menghibur mamanya yang nampak matanya berkaca-kaca.

Varo bernyanyi. Menghibur kedua orang tuanya yang tidak tega melihat penderitaan Varo.

“Dari semula, telah Kau tetapkan
Hidupku dalam tanganMu, Dalam rencanaMu Tuhan

Rencana indah, telah Kau siapkan
Bagi masa depanku, Yang penuh harapan

Reff:

Semua baik, semua baik, Apa yang telah Kau perbuat
Di dalam hidupku, semua baik, sungguh teramat baik
Kau jadikan hidupku berarti”

Perjuangan Alvaro yang jadi korban bom Samarinda 

Seisi ruangan larut dalam hening. Kedua orangtua Alvaro tidak bisa menahan air matanya. Lagu yang dinyanyikan Alvaro membuat mereka seperti sedang berhadapan dengan malaikat kecil. Malaikat kecil yang sedang berubah wujud menjadi bocah kecil Alvaro anak kandung semata wayang mereka.

“Mama Papa… Doakan Varo ya…,” bisik Varo usai menyanyikan lagu Semua Baik itu. Mama Papa Alvaro memeluk Alvaro. Lama dan erat. Usapan tangan mama Alvaro di wajah anaknya membuat Alvaro tertawa. Alvaro siap dioperasi.

Perawat datang. Mereka bersiap memindahkan Varo dari ruang rawat ke ruang operasi. Varo bersiap. Dokter spesialis bedah kulit RS Sunway Healtcare Malaysia Dr. Tan menyuntikkan obat bius. Varo tertidur. Operasi segera dilakukan. Kedua orang tua Alvaro menunggu di luar. Doa tiada henti mereka panjatkan.

“Amang.. Sampaikan ucapan rasa terimakasih kami yang sebesar-besarnya sama follower Amang yang memberi donasi dan doa buat Alvaro ya. Kami tidak dapat membalas semua kemurahan hati follower amang. Biarlah Tuhan yang membalas semuanya,” pesan Ibu Alvaro via chat kepada saya.

Saya teringat beberapa bulan lalu, kedua orangtua Alvaro harus pontang panting mencari dana operasi buat anaknya. Dana operasi yang mencapai hampir satu miliar itu membuat mereka kelimpungan. Dari mana dapat uang segede itu?

Hari ini saya senang sekali mendengar Alvaro sukses dioperasi. Sepuluh jam Alvaro di meja operasi. Akan ada operasi dan perawatan tahap selanjutnya. Menurut Dokter Tan jari telunjuk Alvaro masih bengkok. Menurutnya lumayan susah untuk dikembalikan ke kondisi normal.

Meski tidak bisa kembali normal seperti semula kedua orangtua Alvaro tetap bersyukur. Tangan-tangan murah hati penuh welas asih dari teman-teman seperjuangan sangat menolong mereka. Membuat saya terharu.

Untuk itu izinkan saya mengucapkan jutaan rasa terimakasih kepada teman-teman seperjuangan yang telah memberi sokongan dana dan doa buat pemulihan kulit Alvaro.

Kiranya Tuhan Yang Maha Pengasih membalas kemurahan hati teman-teman seperjuangan.

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Dihubungi theAsianparent Indonesia, Birgaldo Sinaga mengatakan kalau pasca operasi kondisi Alvaro sudah semakin membaik.

“Iya sudah membaik. Kamis kemarin selang yang menempel di kepala sudah dilepas. Cuma Alvaro demam naik turun. Ternyata pergelangan tangan kanannya infeksi. Keluar nanah. Siang ini pergerlangan tangan kanannya akan dioperasi kembali,” paparnya.

Seperti yang diungkapkan Birgaldo Sinaga, perjuangan Alvaro yang menjadi korban bom Samarinda untuk pulih memang tidaklah mudah. Tapi Varo sejauh ini telah melewati masa-masa sulit yang maha berat. Bolak-balik masuk rumah sakit dengan operasi besar.

Dokter Tan bahkan meminta Ibu Alvaro untuk membiarkan saja Alvaro bebas bermain setelah operasi ini berakhir. Dokter Tan mempertimbangkan beban psikis kejiwaan Alvaro yang terus menerus operasi. Fisiknya bisa pulih, tapi psikisnya bisa terganggu.

“Ahhh…Varo sayang, berat sekali ya perjuanganmu untuk pulih. Meski kulitmu tidak bisa kembali mulus seperti dulu tapi spirit dan kekuatanmu menghentak kami semua,” tulisnya.

 

Baca juga:

Selamat jalan malaikat kecil… 2 Bocah jadi korban teror bom Surabaya