Anak gemar belajar berhitung dengan jari, apa dampak untuk tumbuh kembangnya?

Anak gemar belajar berhitung dengan jari, apa dampak untuk tumbuh kembangnya?

Berhitung dengan jari memiliki dampak positif dan negatif bagi anak. Beberapa hal ini perlu Parents pahami!

Selain membaca dan menulis, berhitung merupakan kemampuan dasar yang sudah seharusnya dimiliki anak. Ada beragam cara yang digunakan anak berhitung di masa tumbuh kembangnya, misalnya menggunakan jari sebagai perangkat untuk memahami konsep berhitung yang sederhana.

Anak berhitung menggunakan jari: Kelebihan dan kekurangannya

Berbicara mengenai milestone, setiap anak memiliki fasenya sendiri untuk mencapai sesuatu di masa tumbuh kembangnya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa balita mulai belajar berhitung di usia lebih dini dari yang pernah diperkirakan.

Penelitian yang dilakukan di Universitas Queensland, Australia ini menemukan bahwa bayi mulai mengenal ilmu berhitung sejak usia 18 bulan. Awalnya, tim peneliti memperlihatkan video yang menggambarkan enam ekor ikan pada 36 balita. Satu versi video menunjukkan tangan menunjuk setiap ikan disertai hitungan verbal satu sampai enam, sementara video lain disertai hitungan verbal namun tangan hanya menunjuk dua ekor ikan saja secara terus menerus.

Hasilnya, ditemukan bahwa balita lebih memerhatikan video yang menggambarkan urutan berhitung berurutan. “Ini menunjukkan manusia belajar berhitung pada usia lebih dini berdasarkan paparan rutinitas berhitung,” ungkap Virginia Slaughter, investigator arimatika anak yang memimpin studi ini.

Slaughter menuturkan, video tersebut memaparkan balita mulai menunjukkan prinsip abstrak berhitung dengan mengamati proses sebelum bisa berhitung sendiri. Si kecil bisa berhitung dengan lancar setelah usia dua tahun, dan sebelum mencapai masa itu balita akan mencontoh metode berhitung yang diperagakan orangtua, saudara atau hal yang dilihatnya di televisi.

Mengapa belajar berhitung dengan jari tidak baik untuk anak?

Belajar berhitung adalah salah satu kemampuan dasar yang kita ajarkan pada anak. Mereka menggunakan jari tangan bahkan jari kaki sebagai perangkat untuk memahami konsep berhitung.

Namun sadarkah bahwa kita justru menempatkan mereka dalam posisi buruk dengan membiarkan anak belajar berhitung menggunakan jarinya? Mengapa?

Mempengaruhi Perkembangan Mental Matematika

Belajar berhitung dengan jari adalah cara virtual untuk berhitung, namun hanya efektif pada tahap awal masa kanak-kanak. Kemampuan untuk memvisualisasikan persamaan dalam pikiran disebut dengan mental matematika, Sebagai contoh, terdapat sebuah persamaan 25-9.

Pelajar yang dapat membayangkan persamaan tersebut mungkin akan melihat persamaan ini sebagai 25-10 (-1). Sementara mereka yang berhitung menggunakan jari mungkin akan memerlukan bantuan jari teman mereka.

Tak hanya itu, berhitung dengan jari memiliki satu sifat unik yang membedakannya dari sistem berhitung tertulis atau verbal. Berhitung dengan jari adalah pengalaman indera motorik, karena berhubungan langsung antara gerakan tubuh dan aktivitas otak.

Anak yang menggunakan jari-jari mereka untuk memecahkan masalah aritmatika satu digit sederhana, mungkin akan bisa menyelesaikannya semua soal dengan benar. Tapi, ini hanya terbatas pada soal aritmatika satu digit sederhana. Setelah itu, berhitung dengan jari mungkin akan sulit dilakukan.

  • Membuang Waktu. Tahukah Anda bahwa belajar berhitung dengan jari membutuhkan waktu lebih lama. Sedangkan anak tak memiliki banyak waktu untuk melakukan penjumlahan dan pengurangan menggunakan jemari mereka.
  • Mengalami Ketergantungan. Belajar berhitung dengan jari mengakibatkan mereka dapat mengandalkan jari untuk mengerjakan tugas. Akibatnya mereka tak dapat membuka diri untuk mempelajari kemampuan baru dan mematikan teknik mengingat.
  • Membuat Anak Tertinggal. Guru akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjelaskan konsep dan rumus lain dibanding hanya menjelaskan tentang penjumlahan dan pengurangan. Hal ini akan menjadi masalah untuk pelajar yang mengandalkan belajar berhitung dengan jari, di mana ia akan tertinggal dan tak dapat memahami pelajaran,

Berita buruk?

Meski demikian, belajar berhitung dengan jari tidak selalu buruk. Metode ini, bagaimanapun juga, merupakan tahap awal di mana anak-anak belajar untuk menghitung dan memahami konsep angka.

Hal yang perlu Anda ingat adalah memastikan anak tak tergantung pada berhitung dengan jari. Dukunglah ia agar terbiasa dan mau mempelajari metode lain dalam menyelesaikan persamaan matematika.

Belajar berhitung adalah salah satu kemampuan dasar yang kita ajarkan pada anak. Mereka menggunakan jari tangan bahkan jari kaki sebagai perangkat untuk memahami konsep berhitung.

Namun sadarkah bahwa kita justru menempatkan mereka dalam posisi buruk dengan membiarkan anak belajar berhitung menggunakan jarinya? Mengapa?

Mempengaruhi Perkembangan Mental Matematika


Belajar berhitung dengan jari adalah cara virtual untuk berhitung, namun hanya efektif pada tahap awal masa kanak-kanak. Kemampuan untuk memvisualisasikan persamaan dalam pikiran disebut dengan mental matematika, Sebagai contoh, terdapat sebuah persamaan 25-9.

Pelajar yang dapat membayangkan persamaan tersebut mungkin akan melihat persamaan ini sebagai 25-10 (-1).Sementara mereka yang berhitung menggunakan jari mungkin akan memerlukan bantuan jari teman mereka.

Membuang Waktu


Tahukah Anda bahwa belajar berhitung dengan jari membutuhkan waktu lebih lama. Sedangkan anak tak memiliki banyak waktu untuk melakukan penjumlahan dan pengurangan menggunakan jemari mereka.

Mengalami Ketergantungan


Belajar berhitung dengan jari mengakibatkan mereka dapat mengandalkan jari untuk mengerjakan tugas. Akibatnya mereka tak dapat membuka diri untuk mempelajari kemampuan baru dan mematikan teknik mengingat.

Membuat Anak Tertinggal


Guru akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjelaskan konsep dan rumus lain dibanding hanya menjelaskan tentang penjumlahan dan pengurangan. Hal ini akan menjadi masalah untuk pelajar yang mengandalkan belajar berhitung dengan jari, di mana ia akan tertinggal dan tak dapat memahami pelajaran,

Berita buruk?


Meski demikian, belajar berhitung dengan jari tidak selalu buruk. Metode ini, bagaimanapun juga, merupakan tahap awal di mana anak-anak belajar untuk menghitung dan memahami konsep angka.

Hal yang perlu Anda ingat adalah memastikan anak tak tergantung pada berhitung dengan jari. Dukunglah ia agar terbiasa dan mau mempelajari metode lain dalam menyelesaikan persamaan matematika.

Dampak yang ditimbulkan

Sebelum menggunakan alat bantu, si kecil sudah mampu berhitung dengan menggunakan jarinya. Lantas, apakah cara ini efektif untuk anak lebih lancar berhitung?

#1 Kecepatan

Melalui jari, anak menggunakan cara yang virtual dimana cara ini hanya efektif di masa kanak-kanaknya. Kemampuan ini divisualisasikan anak melalui pikiran yang dikenal dengan mental matematika. Sebagai contoh, persamaan matematika 25-9.

Anak yang menghitung dengan memikirkan akan melihat dengan memikirkan 25-10 (-1), sementara itu mereka yang berhitung menggunakan jari mungkin akan memerlukan bantuan jari teman mereka. Anak membutuhkan waktu lebih lama, dimana semua metode tak mungkin dilakukan anak untuk melakukan penjumlahan dan pengurangan dengan jari sekaligus.

#2 Metode berhitung terbatas

Belajar berhitung dengan jari mengakibatkan mereka terlalu mengandalkan jari untuk mengerjakan tugas. Akibatnya mereka tak dapat membuka diri untuk mempelajari kemampuan baru dan mematikan teknik mengingat.

Di samping itu, guru akan banyak menjelaskan konsep dan rumus lain selain penjumlahan dan pengurangan. Hal ini akan menjadi masalah untuk anak yang terbiasa mengandalkan belajar berhitung dengan jari sehingga akan mudah tertinggal dalam pelajaran.

Meski demikian, belajar berhitung dengan jari tidak selalu buruk. Metode ini, bagaimanapun juga merupakan tahap awal di mana anak-anak belajar untuk menghitung dan memahami konsep angka.

Hal yang perlu Anda ingat adalah memastikan anak tak tergantung pada berhitung dengan jari. Dukunglah anak agar terbiasa dan mau mempelajari metode lain dalam menyelesaikan persamaan matematika.

#3 Cara berhitung yang berbeda-beda

Guru harus menyadari bahwa setiap budaya memiliki cara dan kebiasaan yang berbeda ketika menggunakan jari mereka untuk berhitung. Pada orang Eropa, misalnya, berhitung akan dimulai dengan kepalan tangan tertutup, dan Anda mulai menghitung dengan ibu jari tangan kiri.

Pada orang Timur Tengah, berhitung dimulai dengan kepalan tangan tertutup, tetapi mereka mulai menghitung dengan jari kelingking tangan kanan.

Kebanyakan orang Tiongkok, dan banyak orang Amerika Utara, juga menggunakan sistem kepalan tangan tertutup, tetapi mereka mulai menghitung dengan jari telunjuk, bukan dengan ibu jari.

Sedangkan orang Jepang biasanya mulai berhitung dari posisi tangan terbuka, menghitung dengan menutup jari kelingking terlebih dahulu, kemudian baru diikuti jari lainnya.

Intinya, bahkan mungkin dalam budaya yang sama sekalipun, tidak semua anak berhitung menggunakan jari dengan cara yang sama. Jadi, guru harus memberi tahu orangtua tentang cara mengajar berhitung dengan jari, sehingga semua anak akan melakukannya dengan cara yang sama.

Referensi : New Scientist

Baca juga :

7 Cara sederhana agar anak gemar membaca, coba lakukan yuk, Parents!

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner