Salahkah Jika Harus Berbohong Untuk Kebaikan Anak?

Salahkah Jika Harus Berbohong Untuk Kebaikan Anak?

Berbohong memang bukan hal yang baik, tetapi bagaimana jika berbohong demi kebaikan kepada anak?

Saya yakin kita semua menerapkan aturan ‘dilarang berbohong’ untuk anak-anak kita. Seorang balita berumur 5 tahun mungkin sudah dapat memahami dan menjalankannya. Namun, kadang-kadang kita dibuat malu sendiri karena justru kita sendirilah yang melanggar aturan itu ketika harus berbohong untuk kebaikan anak-anak kita (istilah Englishnya white lies).

Berikut adalah daftar kebohongan yang mungkin sering kita lontarkan dengan modus berbohong untuk kebaikan :

  • “Kalo kamu tidak bisa duduk tenang di mobil, nanti bisa ditangkap polisi.”
  • “Ngapain beli mainan itu, kan adek sudah punya itu di rumah?”
  • “Es krim di toko sudah habis.” (kalau versi saya, “Sudah sore, tokonya sudah tutup”)
  • “Nggak boleh pipis di kolam renang, nanti airnya jadi kuning semua.”
  • “Ayo cepat mandi, biar nggak digigit nyamuk.” (lalu kita jawab apa kalau di malam harinya mereka tetap digigit nyamuk meski sudah mandi?)
  • “Kalo suka makan bayam nanti bisa kuat kayak Popeye.”

Saat yang terbaik untuk berbohong

berbohong untuk kebaikan

Anda tak perlu merasa bersalah ketika harus berbohong untuk kebaikan anak. Para ahli parenting mengatakan, berbohong untuk kebaikan anak boleh saja dilakukan selama Anda benar-benar melakukannya demi kebaikan mereka.

Atau, untuk menjaga perasaannya dan menanamkan kebiasaan serta keteraturan yang pantas. Meski demikian, Anda tidak sebaiknya berbohong kepada anak secara berkelanjutan.

Anda boleh berbohong pada anak ketika ia meminta dibelikan es krim, padahal ia sedang batuk. Atau ketika ia tidak mau makan sayuran. Sebaiknya Anda segera menepati janji dan segera membelikannya es krim ketika ia sudah sembuh dari sakit.

Tunjukkan penghargaan Anda berupa applaus ketika si buyung berhasil mengangkat tas kerja Anda (yang sebetulnya tidak terlalu berat), agar ia yakin bahwa banyak makan sayur memang berhasil membuatnya sekuat Popeye.

Bagaimana jika ketahuan berbohong?

Salahkah Jika Harus Berbohong Untuk Kebaikan Anak?

Jangan marah atau berusaha menutupi kebohongan Anda dengan mengatakan suatu kebohongan lainnya jika suatu saat anak Anda tahu bahwa Anda telah berbohong.

Lebih baik Anda meminta maaf dan mengatakan alasan mengapa Anda berbohong, agar anak memahami pentingnya nilai kebenaran.

Salahkah Jika Harus Berbohong Untuk Kebaikan Anak?

Anak-anak mempelajari banyak hal dari kita, jadi berhati-hatilah terhadap kebohongan yang Anda ucapkan, meskipun Anda berbohong untuk kebaikan mereka.

Mengajarkan Kejujuran pada Anak

Anak-anak akan mulai berbohong sejak usia dini, biasanya sekitar tiga tahun. Ini adalah saat anak Anda mulai menyadari bahwa Anda bukan pembaca pikiran, sehingga dia dapat mengatakan hal-hal yang tidak benar tanpa Anda sadari. Anak-anak akan lebih banyak berbohong pada usia 4-6 tahun.

Ketika anak-anak bertambah besar, mereka dapat berbohong lebih sukses tanpa ketahuan. Kebohongan juga menjadi lebih rumit, karena anak-anak memiliki lebih banyak kata dan lebih baik dalam memahami bagaimana orang lain berpikir. Pada masa remaja, anak-anak secara teratur mengatakan kebohongan untuk menghindari menyakiti perasaan orang lain.

Setelah anak-anak cukup umur untuk memahami perbedaan antara yang benar dan yang tidak benar, ada baiknya untuk mendorong dan mendukung mereka dalam mengatakan yang sebenarnya. Anda dapat melakukan ini dengan menekankan pentingnya kejujuran dalam keluarga Anda. Berikut beberapa tips dari Raising Children:

  1. Bicarakan perbedaan soal “bohong” dan “benar” pada anak Anda. Misalnya, “Bagaimana perasaan ibu jika ayah berbohong padanya?” atau “Apa yang terjadi ketika Anda berbohong kepada seorang guru?”
  2. Bantu anak Anda menghindari situasi di mana ia merasa perlu berbohong. Misalnya, jika Anda bertanya kepada anak Anda apakah ia menumpahkan susunya, ia mungkin merasa tergoda untuk berbohong. Untuk menghindari situasi ini Anda bisa mengatakan, “Saya melihat ada susu yang tumpah. Mari kita bersihkan”.
  3. Pujilah anak Anda ketika ia melakukan kesalahan. Misalnya, “Saya senang Anda memberi tahu saya apa yang terjadi. Mari kita bekerja sama untuk menyelesaikan masalah”.
  4. Jadilah panutan untuk mengatakan yang sebenarnya. Misalnya, “Saya membuat kesalahan dalam laporan yang saya tulis untuk pekerjaan hari ini. Saya memberi tahu bos saya agar kami bisa memperbaikinya”.

Jangan terlalu sering berbohong, Parents, dan selalu gunakan ini sebagai senjata pamungkas jika segala trik Anda tidak berhasil.

Baca juga:

Ini sebabnya anak berbohong, bagaimana cara Parents menanganinya?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner