Barack Obama: Menjadi Presiden Membuat Saya Menjadi Seorang Ayah

lead image

Surat Presiden Amerika Barack Obama ini bisa menjadi inspirasi orangtua dalam menjalani perannya baik di luar maupun di dalam rumah.

Kisah Presiden Barack Obama yang tertulis dalam surat  terbuka ini bisa menjadi inspirasi orangtua dalam menjalani perannya, baik sebagai bagian dari keluarga maupun dalam berkarir.

Presiden AS Barack Obama adalah seorang pria yang sangat bertanggung jawab. Ketika berbicara tentang keseimbangan keluarga dan karirnya, beliau mengatakan,

“Saat Anda menjadi Presiden AS, Anda akan selalu di kelililingi oleh orang-orang – pegawai, media massa, Secret Service, dan orang banyak. Semua itu seperti perangkap yang tak memungkinkan untuk keluar.

src=https://id.theasianparent.com/wp content/uploads/2015/07/Keluarga Obama.jpg Barack Obama: Menjadi Presiden Membuat Saya Menjadi Seorang Ayah

Menjadi Presiden tak membuat Barack Obama melupakan waktu-waktu penting bersama keluarganya.

Pada saat itu kehadiran orang-orang terdekat di waktu-waktu pribadi yang amat terbatas dan langka menjadi jauh lebih penting.

Dan saya amat beruntung di kelilingi oleh para wanita. Merekalah orang-orang terpenting dalam hidup saya. Merekalah yang telah membentuk diri saya. Dan, dalam pekerjaan ini, mereka adalah tempat saya berlindung.

Seringkali orang-orang bertanya kepada saya, apakah menjadi Presiden membuat saya kesulitan meluangkan waktu bersama Michelle dan kedua putri kami.

Sungguh aneh, kenyataannya adalah menjadi presiden di dalam Gedung Putih telah membuat kehidupan keluarga kami jauh lebih “normal” daripada sebelumnya.”

Berikut ini adalah sebuah surat dari Presiden Barack Obama yang ditulis untuk More.com dan sangat baik untuk dibaca oleh setiap orangtua.

Ketika Malia lahir, saya dan Michelle beruntung bisa menghabiskan waktu selama tiga bulan di rumah.

Tetapi ketika Michelle kembali bekerja paruh waktu, dan saya kembali ke jadwal semula mengajar di fakultas hukum Universitas Chicago dan mengabdi di lembaga legislatif negara, kondisi ini seringkali mengharuskan saya berada jauh dari rumah di Springfield selama berhari-hari.

Pun ketika saya berada di rumah di Chicago, saya tetap memiliki sejumlah tugas termasuk rapat malam hari yang harus saya jalani.

Sebagai tenaga profesional, kami memanfaatkan berbagai bantuan yang ada seperti pengasuh anak serta membeli makanan saat tidak sempat memasak. Pekerjaan kami memberikan fleksibilitas yang tidak banyak dimiliki oleh keluarga bekerja lainnya.

Selain itu, kami masing-masing masih menanggung hutang pinjaman biaya sekolah yang besar, yang berarti saat kami menikah, kami sama-sama menjadi lebih miskin.

Jadi kami mengatur setiap uang yang dikeluarkan dalam rumah tangga, seperti membayar cicilan pinjaman sekolah, membayar tagihan bulanan, serta membayar baby sitter penuh waktu.

Berbagai tekanan tersebut kadang menimbulkan ketegangan dalam pernikahan kami, seperti umumnya orangtua pekerja yang memiliki anak kecil.

Selanjutnya, Barack Obama menduga Michelle sering merasa seperti single mother…

Setelah Sasha lahir, Michelle bekerja sambil mengatur rumah tangga. Saya membantunya dan merasa sebagai orang yang membawa pencerahan.

Pada kenyataannya, berbagai harapan dan beban tetaplah tidak proporsional, karena sebagian besar tetap jatuh ke pundak Michelle, sebagaimana yang terjadi pada wanita kebanyakan.

Beruntung, kami mendapat bantuan dari ibu mertua, Marian, yang tinggal beberapa menit dari kami.

Tetapi, Michelle masih sering merasa tertekan dan frustasi, dan saya menduga ia kerap merasa seperti seorang ibu tunggal (single mother).

Kondisi ini tidak semakin mudah ketika saya terpilih menjadi senat dan harus bolak balik ke Washington setiap pekan.

Kemudian kehidupan kami mulai terlempar di luar keseimbangan selama masa kampanye kepresidenan, di mana saya secara terus-menerus berada di luar rumah, meninggalkan Michelle untuk menanggung beban yang jauh lebih berat dalam rentang waktu yang lebih lama.

Kami tetap tidak tahu apa yang terjadi saat saya terpilih menjadi presiden. Bisa saja waktu saya untuk keluarga semakin berkurang.

Selanjutnya, Barack Obama membagi waktu untuk putri-putrinya…
Kami tahu bukanlah keputusan yang mudah untuk memindahkan Malia dan Sasha dari sekolah dan teman-temannya di Chicago.

Jadi kami membawa Marian untuk membantu kami melewati masa transisi, dan menemani anak-anak di saat saya dan Michelle tidak dapat bersama mereka.

Namun sungguh mengejutkan, pindah ke Gedung Putih ternyata membuat kami sekeluarga dapat berkumpul hampir setiap malam, dan ini terjadi pertama kalinya sejak kelahiran putri-putri kami.

Saya dan Michelle bisa pergi menghadiri rapat orangtua dan guru secara bersama-sama. Saya bisa menghadiri pertandingan tenis Malia dan menyaksikan pertunjukan tari Sasha. Sasha bahkan meminta saya untuk membantu melatih tim basketnya –The Vipers. Dan kami juara.

Saya pun mengalami ketakutan yang dirasakan oleh setiap ayah, yaitu menyaksikan putrinya pergi ke pesta dansa untuk pertama kalinya, menggunakan sepatu tinggi. Jadi tidaklah mudah menjadi ayah dari seorang remaja putri, namun itu sebuah harga yang pantas diperoleh.

Selanjutnya, presiden Barack Obama tak mau diganggu saat makan malam keluarga…
Bahkan di hari-hari yang sangat padat, saya dan Michelle tetap mempertahankan waktu khusus untuk keluarga.

Contohnya, pukul 18.30, sesibuk apapun, saya akan meninggalkan pekerjaan saya dan menaiki tangga untuk makan malam bersama keluarga saya. Itu tidak dapat diganggu gugat.

Staf saya sudah mengetahui bahwa hanya kondisi darurat nasional yang bisa menjauhkan saya dari meja makan. Sebagai orang yang suka tidur larut, saya memilih untuk tetap terjaga untuk membaca laporan dan bekerja untuk pidato-pidato setelah semua orang tidur.

Jadi pada saat makan malam, fokus saya bukan pada hari-hari saya, tetapi lebih kepada hari-hari mereka.

Saya menanyakan pada Malia dan Sasha pertanyaan-pertanyaan umum dari para orangtua, seperti, “Bagaimana sekolahmu?”, “Bagaimana teman-temanmu?”, “Sudahkah mengerjakan pekerjaan rumah?”, “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Sebaliknya, mereka banyak menggunakan waktu untuk meledek tentang kuping saya yang besar dan penampilan jas saya yang membosankan – dan Michelle selalu dengan senang hati berpihak bersama mereka.

Sekarang mereka sudah cukup umur, dan mereka lebih sering bertanya mengenai berbagai isu. Seperti kebanyakan kaum muda, mereka tertarik dengan isu lingkungan.

Selanjutnya, Barack Obama mendengar bagaimana anak-anaknya berpikir tentang dunia…

Sama seperti generasi muda lainnya, mereka menerima bahwa orang-orang seharusnya tidak diperlakukan berbeda karena gender, ras, orientasi seksual ataupun karena berkebutuhan khusus.

Mereka mempunyai keinginan agar kaum remaja putri seperti mereka dapat tumbuh menjadi yang sesuai dengan keinginan mereka.

Jadi pada intinya saya hanya mendengarkan pemikiran mereka tentang dunia dan melihat mereka tumbuh menjadi wanita muda yang pintar, lucu dan baik hati sebagaimana adanya mereka.

Saat-saat tersebut menyegarkan saya dan memberikan saya sebuah perspektif. Saat itulah saya hanya menjadi seorang ayah – ataupun seorang “Ayaaah….” dan tak ada yang lebih baik daripada itu.

Michelle-lah yang telah berperan untuk mempertahankan momen seperti itu, dan itu membuat sebuah perbedaan yang besar dalam kehidupan kami. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, “She is the rock”.

Apapun yang terjadi, saya tahu mereka selalu ada untuk saya. Dan saya akan selalu ada untuk mereka.

Hari-hari belakangan ini adakalanya putri-putri kami meninggalkan acara makan malam karena sibuk dengan aktivitas dan kegiatan sekolah.

Sebagaimana orangtua lainnya yang memiliki anak sekolah menengah yang sangat tertarik untuk mencoba kehidupan kampus, saya mulai cemas akan kursi makan yang kosong saat Malia harus menjalani sekolahnya pada musim gugurnya mendatang.

Saya dapat merasakan diri saya duduk lebih lama di meja makan, mencoba mencegah waktu berlalu. Namun saya selama mungkin menikmati setiap menit yang kami dapat lalui bersama.

First Lady Nancy Reagent pernah menulis, “Tidak ada yang bisa membuatmu untuk siap tinggal di dalam Gedung Putih.” Tentu saja, beliau benar. Tidak seorang pun bisa membuatmu merasa siap. Tetapi keluarga bisa menjadi penyokongmu.

Sumber: kidstoppress.com