Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Teman atau Keluarga Berpisah?

Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Teman atau Keluarga Berpisah?

Berpisah atau bercerai bukanlah hal yang mengenakkan. Demikian juga untuk orang-orang yang berada di sekeliling kedua belah pihak.

Apa yang harus Anda lakukan ketika anggota keluarga atau sahabat berpisah?

Apa yang harus Anda lakukan ketika anggota keluarga atau sahabat berpisah?

Apapun agama dan kepercayaan Anda, saya yakin Anda sepakat bahwa berpisah atau bercerai tidak mudah untuk dijalani. Bukan saja untuk sepasang manusia yang terlibat di dalamnya, namun keputusan berpisah  juga berat bagi orang-orang terdekat seperti sahabat dan kerabat.

Ketika anggota keluarga  berpisah

Seorang teman pernah bercerita betapa sedihnya ia ketika mengetahui paman dan bibinya akan berpisah. Ia senang menghabiskan waktu bersama bibinya, berbelanja dan menonton film bersama.

Demikian juga dengan pamannya. Karena umur mereka hanya berselisih sepuluh tahun maka hubungan keduanya sangat akrab dan lebih mirip adik kakak. Tapi itu dulu sebelum paman dan bibinya berpisah.

Memang, berpisah atau langgengnya suatu pernikahan adalah tanggung jawab pasangan. Namun mau tidak mau keputusan pasangan untuk berpisah juga mempengaruhi kerabat, sahabat, kenalan dan mereka yang berada di sekitar pasangan tersebut.

Orang-orang terdekat ini cenderung merasa bimbang mengenai bagaimana mereka akan bersikap terhadap mantan paman, mantan bibi atau mantan kakak/adik ipar mereka yang telah berpisah.

Misalnya, Anda sedang berjalan-jalan di mall dan tahu-tahu ketemu mantan paman yang sedang menggandeng mesra pasangan barunya. Anda menyapanya dan berbincang seperti biasanya, seperti waktu paman dan bibi Anda belum berpisah.

Tapi, seseorang, entah itu adik atau kakak Anda keceplosan bicara dan menceritakan hal itu pada bibi Anda. Bibi Anda marah besar dan menganggap Anda tidak berada di pihaknya, karena yang benar-benar memiliki hubungan keluarga dengan Anda adalah bibi karena dia saudara ibu/ayah Anda dan bukannya mantan paman yang notabene adalah ‘orang lain’ dalam keluarga besar Anda.

Lalu bagaimana sebaiknya Anda bersikap ketika ada anggota keluarga yang memutuskan untuk berpisah? Temui saja kedua pihak dan katakan bahwa Anda:

  • Sangat menyayangi keduanya dan merasa sedih dengan perpisahan  mereka.
  • Berusaha memahami keputusan mereka jika berpisah dianggap sebagai penyelesaian terbaik.
  • Tidak memihak siapapun, tapi berusaha menjaga tali silaturahmi karena Anda secara pribadi tidak punya masalah dengan salah satu pihak.

 

Menyikapi perceraian sahabat

Saya  punya sahabat sepasang suami-istri yang sama-sama menikah di usia muda, kuliah di kampus yang sama dan sering nongkrong bareng.

Sahabat saya yang laki-laki sering curhat masalah rumah tangganya dan saya sebisa mungkin tidak ikut campur. Setelah lama hilang kontak karena berbagai hal saya bertemu kembali dengan kedua sahabat saya itu di Facebook.

Ketika itu kedua sahabat saya ini rupanya sedang pada tahap awal bercerai dan sedang saling gencar-gencarnya mengumbar amarah terhadap pasangannya di hadapan saya, baik ketika curhat melalui telepon atau saat chatting. Saya merasa tidak enak hati mengetahui hal ini karena ‘peperangan’ mereka juga dilancarkan melalui status FB.

Berdasarkan pengalaman tersebut, maka saran saya ketika sahabat Anda berpisah adalah :

1. Menjadi pendengar yang baik

Jangan sekalipun menceritakan curahan hati sahabat Anda pada mantan pasangannya, meskipun keduanya adalah sahabat Anda. Jangan memperkeruh keadaan dengan mengadu domba mereka.

2. Jangan berikan nasehat kecuali diminta

Kita tidak benar-benar mengetahui secara persis apa penyebab perceraian. Jadi jangan pengaruhi sahabat untuk melakukan apapun, kecuali mereka meminta saran kita.

3. Pilih salah satu, atau putuskan pertemanan sama sekali

Hal ini memang menyakitkan karena kita terpaksa mengakhiri hubungan persahabatan.  Jika kedua sahabat yang telah berpisah ini sama-sama menjadi teman sosmed, maka Anda sebaiknya menghargai perasaan mereka dengan tidak menunjukkan kesan bahwa Anda dekat dengan salah satu pihak.

Hal itu bisa dilakukan dengan membatasi memberikan ‘like’ atau komentar atau membalas twit mereka. Dalam kasus sahabat saya, saya harus ikhlas ketika sahabat saya yang laki-laki memutuskan pertemanan setelah ia mengetahui saya dan mantan istrinya sering berbalas komentar.

Hubungan Anda dengan mantan anggota keluarga atau mantan suami/istri sahabat Anda mungkin akan berubah selamanya dan tak akan bisa kembali seperti semula. Hanya waktu yang bisa memperbaiki keadaan, dan jangan pernah lupakan bahwa mereka pernah menjadi bagian dari hidup Anda.

Parents, semoga bermanfaat.

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner