Wacana speech delay pada anak memang menjadi momok bagi orangtua. Banyak orangtua yang jadi ‘patah hati’ mengetahui bahwa anaknya punya kekurangan. Namun hal itu tidak terjadi pada Kokok Dirgantoro, ia justru berbesar hati saat mengetahui anaknya speech delay atau terlambat bicara.
Melalui Tweetnya, Kokok bercerita tentang caranya mengatasi speech delay yang dialami oleh sang anak.
Djaduk anakku tidak bisa berbicara lancar bahkan lebih banyak diam dari lahir sampai 4 tahun. Masa-masa ‘lucu’ saya alami. Sa kultwit aja. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Djaduk lahir caesar. Posisi saat mau dilahirkan adl jidat duluan, bukannya ubun2. Demi keamanan dan keselamatan akhirnya operasi. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Umur setahun hingga dua tahun, Djaduk tidak banyak bicara. Hanya beberapa patah kata. Dia tdk bisa menyusun satu kalimat. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Saya dan istri biasa saja. Tapi omongan orang dan keluarga membuat saya sempat terbebani dan mikir. Kenapa Djaduk tidak kunjung bicara. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Setelah itu psikolognya menyimpulkan kalau anak saya ada gangguan mental dan sampai besar hanya akan punya kemampuan spt anak usia 2-3 thn. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Saya gemetar menahan tangis. Tapi alhamdulillah bisa kontrol diri. Dlm hati saya, dlm waktu 20-30 menit sdh bisa simpulkan spt ini. Wow. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Djaduk direkomendasikan utk scan kepala di sebuah RS. Utk pengecekan lebih lanjut. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Saya turuti ke RS. Antri. Saat nama Djaduk dipanggil, suster memberitahu kalau anak yg mau diperiksa harus dlm posisi tidur. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Sementara Djaduk posisi melek dgn mata 100 watt ????. Kalau tdk tidur, maka akan dilewati antriannya. Bagaimana mungkin saya paksa anak tidur? — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Saya putuskan pulang. Di mobil, Djaduk saya pangku. Saya menangis dan berbisik, Duk, bapak terima kamu apa adanya. Bpk yakin kamu anak hebat — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Saya putuskan tak peduli lagi sama rekomendasi psikolog dan periksa dokter. Saya tahu ini bisa berdampak fatal sebenarnya. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Keputusan itu saya ambil setelah melihat sebuah tulisan di ruko sekitar BSD, bimbingan utk anak speech delay. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Saya coba bawa Djaduk ke ruko kecil itu. Dia suka dan enjoy belajar di sana. Menggambar, menulis, bicara. Progressnya bagus. Saya ikuti. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Sampai suatu hari, kami sdg belanja buah. Saya berjalan agak cepat. Tiba2 ada suara, hei bapak, tunggu aku. Djaduk bicara satu kalimat. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Saya balik badan dan memeluknya. Hampir nangis tapi saya tahan. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Setelah belajar di ruko bimbingan speech delay itu, beberapa saat kemudian kami dipanggil utk dpt progress report. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Bagi saya laporan itu tdk penting krn Djaduk sudah bisa bicara. Buat saya itu sudah cukup. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Ternyata yg hambat Djaduk bicara adl otaknya banyak sekali berpikir kata psikolog yg ngajar dia. Jadi dia bingung mau ngomong yg mana dulu. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Psikolognya jg kasih tahu bahwa Djaduk menunjukkan indikasi anak dgn IQ di atas 125. Saya manggut manggut saja. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Setelah bicara, Djaduk masuk TK dan salah satu yg pertama bisa membaca. Saya tdk habis pikir. Ternyata anakku bisa baca tulis ???? — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Saat SD, semuanya mulai lancar. Sampai saat test IQ. Djaduk bukan siswa menonjol. Hanya matematika yg sungguh dia suka. Lainnya biasa. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Hasil tes IQnya ternyata dia tertinggi, 141. Mungkin ini diturunkan dari ibunya hahaha. Kembali saya manggut2. Oalah anakku IQnya tinggi. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Tapi bagi saya IQ bisa berubah-ubah dan bukan segala-galanya. Krn bagi saya uang adl segala-galanya… eh maaf, maksud saya jd orang baik. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
SMP, Djaduk tes IQ lagi dan keluar angka 129. Rasanya ini lebih masuk akal dan sesuai prediksi psikolog yg bimbing speech delay. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Jadi yg punya anak terlambat bicara, banyak tingkah dan merepotkan, don’t worry too much. Cintai, terima apa adanya pemberian Gusti Allah. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Setiap anak berhak hidup bahagia tanpa diperbandingkan satu sama lain. Setiap anak punya keunikan masing-masing. — Kokok Dirgantoro (@kokokdirgantoro) May 31, 2017
Berbeda dengan orangtua lain yang mengaitkan keterlambatan bicara anak dengan gadget, Kokok justru tidak yakin bahwa anaknya mengalami speech delay disebabkan oleh penggunaan gadget.
“Djaduk tidak suka gadget/komputer sampai usia TK A. Djaduk pegang gawai sendiri usia SMP. Waktu SD kelas 5 dibelikan tapi tidak pernah dipakai” jelas pemilik akun Twitter yang memiliki pengikut lebih dari 21 ribu akun ini.
Saat akhirnya bisa bicara pun, Djaduk anaknya yang cukup haus ilmu pengetahuan. Banyak pertanyaan yang ia ajukan hingga membuat orangtuanya cukup kerepotan.
“Pertanyaannya bisa menyangkut makanan sampai menyangkut hal-hal yang bisa dia protes,” ungkap Kokok,
Namun, psikolog menjelaskan bahwa Djaduk mengalami susah bicara kemungkinan karena ayah dan ibunya (Dini Afiaty) bicara dalam bahasa Indonesia. Sedangkan, Djaduk biasa menonton TV yang acaranya kartun berbahasa Inggris.
“Sehingga, psikolog itu menyarankan kami untuk menggunakan bahasa ibu saat menonton kartun,” tegasnya.
Saat ini, anak yang bernama lengkap Raffi Djaduk Baskoro sudah menginjak bangku SMP. Ia bersekolah di SMP 11 Tangsel.
Kemampuan membaca dan berhitungnya pun berkembang cukup pesat sejak TK A. Menurut Kokok, jika ada kekurangan, mungkin salah satunya adalah interaksi dengan teman sebayanya karena dia cenderung pemalu.
“Barulah saat SD kelas 4 sampai sekarang, ia bisa punya banyak teman,” terang ayah dari Djaduk (13), Pravda Reva Amartya (11), dan Lula Athena Khoiriyah (5) ini.
Kokok bersyukur bahwa tidak ada anaknya yang mengalami masalah seputar speech delay lagi. Bahkan, dua anak perempuannya termasuk anak-anak cerewet yang memiliki banyak kosa kata.
Sebagai orangtua yang pernah mengalami anak yang speech delay, Kokok menyarankan orangtua untuk menemukan bantuan dari profesional. Baginya, harga sebuah tempat terapi bukan jaminan. Bisa jadi, tempat pelayanan konsultasi dan bimbingan speech delay a la ruko sederhana layanannya lebih baik dari yang berada di tempat tumbuh kembang mahal lainnya.
“Yang penting anaknya nyaman dan bahagia. Tidak usah terlalu diambil hati dengan banyak omongan orang,” tutur CEO yang memberikan cuti kerja pada karyawatinya yang hamil dan melahirkan sebanyak 6 bulan ini.
Ketegaran Kokok dalam menghadapi anaknya yang speech delay bisa kita tiru. Apalagi, sikap tegasnya untuk mencari opsi kedua dari diagnosa anaknya adalah langkah nyata agar tak terpuruk dalam kesedihan yang disebabkan keterlambatan tumbuh kembang anak.
Mengingat bahwa ada banyak orangtua yang langsung panik dan putus asa jika anaknya mengalami keterlambatan wicara, maka ketenangan Kokok dan Dini ini patut ditiru oleh para orangtua.
Jika anak Anda adalah salah satu anak yang mengalami speech delay, jangan khawatir bahwa dia akan tumbuh jadi anak yang kurang cerdas. Karena Albert Einstein pun dikenal sebagai anak yang mengalami keterlambatan wicara yang cukup parah.
Jadi, jangan sedih dulu jika anak tampak berbeda dengan anak lainnya. Karena siapa tahu dia justru anak yang memiliki kecerdasan tinggi hingga susah dimengerti orang awam dan kelak akan jadi orang penting di Republik ini.
Baca juga:
Perjuangan Seorang Ibu Mengatasi Anaknya yang Kecanduan Menonton Televisi