Anak berpenyakit langka nyaris tewas dililit tali skipping oleh temannya

lead image

Seorang gadis berusia 10 tahun nyaris tak selamat menjadi target bully temannya. Ironisnya, anak dibully itu juga sedang menderita penyakit langka.

Sebuah tragedi anak dibully lagi-lagi terjadi. Kali ini, kasus bully melibatkan seorang gadis rapuh berusia 10 tahun yang menderita kondisi langka. Peristiwa ini cukup mengejutkan para orangtua. Ironis, anak ini dibully oleh seorang anak yang diduga temannya. Tak habis pikir, bagaimana anak-anak bisa menjadi brutal dengan temannya sendiri?

Anak dibully dengan dililit tali skipping

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/09/bully 2.jpg Anak berpenyakit langka nyaris tewas dililit tali skipping oleh temannya

Amber Yoon yang baru berusia 10 tahun, memang memiliki badan yang termasuk lebih kecil dari sebagian besar teman-temannya. Ia dilahirkan dengan kondisi langka yang membuatnya harus keluar masuk rumah sakit selama hidupnya.

Sampai akhirnya pada 25 Agustus 2018 lalu, pejuang cilik ini mengira ia akan mati. Anak dibully dengan brutal di taman bermain oleh seseorang yang disebutnya sebagai teman.

Anak itu memegang Amber, kemudian diduga ia mengikat tali skipping di sekitar leher Amber dan menggantungnya dari pohon.

Dalam sebuah wawancara dengan 9NEWS Australia, ibu Amber, Belinda Yoon, terlihat yang putus asa.

Sang ibu berkata, “Siswa yang lain memegang Amber, meletakkan tali skipping di lehernya, kemudian mulai melilit-lilitkan tali skippingnya. Amber meletakkan jari-jarinya seperti ini (menahan tali di lehernya), dan mengatakan, ‘tidak, tidak, tidak’ sampai dia tidak bisa berbicara lagi,”.

Di tengah wawancara berlangsung, Belinda sempat tak mampu membendung air matanya lagi, hingga ia berhenti bicara dan meninggalkan sesi wawancara sejenak untuk menenangkan diri. Tak lama, ia meneruskan kisah tragis yang dialami putri kesayangannya itu.

Mungkin ini adalah hal paling memilukan, ketika Amber berkata pada ibunya, “Ibu, jika aku mati, bagaimana aku bisa menjadi teman mereka?”

Sekolah tidak mau berkomentar

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/09/bully 3.jpg Anak berpenyakit langka nyaris tewas dililit tali skipping oleh temannya

“Mengapa teman saya tidak mau bermain dengan saya? Dan belum bisa memperlakukan saya dengan baik? Doakan aku, kumohon…” tulis Amber dalam buku hariannya.

Ini bukan pertama kalinya Amber menjadi sasaran bully. Sebuah catatan buku harian yang memilukan menunjukkan hal itu pernah dialaminya dan sangat sulit bagi anak dibully itu.

Belinda menjelaskan bagaimana berbulan-bulan yang lalu dia berusaha mendatangi dan melakukan pendekatan ke sekolah tentang kasus bullying ini. Tetapi sepertinya, kekhawatirannya itu tidak dibahas sama sekali.

Berbicara tentang insiden tali skipping, Belinda khawatir bahwa kekerasan bullying telah “menghancurkan” putrinya.

“Bayangkan, seorang gadis kecil yang sudah menjalani banyak operasi tak terhitung, harus mengalami kondisi yang paling menakutkan. Saya tidak habis pikir bahwa anak lain mampu melakukan tindakan kekerasan semacam itu terhadapnya. Hal ini mengejutkan bagi saya. Itu tidak masuk akal, ”kata Belinda.

Sekolah tersebut, Catholic Education WA Australia, disebutkan tidak dapat berkomentar karena polisi telah terlibat, sehingga sekolah perlu melindungi privasi siswa lain yang terlibat.

Hanya Amber yang  jadi korban

Belinda sangat yakin bahwa hanya ada satu korban anak dibully di sini, yaitu putrinya.

“Saya berempati pada semua orang yang terlibat, tetapi memang hanya ada satu korban di sini dan itu adalah anak perempuan saya. Saya akan mengambil sikap dan saya tidak akan bungkam dalam hal ini,”.

Sementara Amber dikeluarkan dari sekolah, ibunya berharap kepada orangtua lainnya untuk belajar dari apa yang terjadi padanya.

“Bicaralah, dan jika Anda tidak puas dengan jawabannya, teruslah berusaha. Datangi pihak sekolah, datangi lagi, jika perlu datangi ke orangtuanya. Saya tahu itu tidak benar secara tata krama untuk mengdatangi orangtuanya langsung, tetapi jika Anda tahu anak dibully, hadapi orangtuanya,”katanya.

Lihat berita eksklusifnya di sini:

Artikel terkait: Tak tahan dibully, bocah 9 tahun bunuh diri, ini curhatan ibunya

Bagaimana melindungi anak dari bullying?

Kasus anak dibully juga tak asing di Indonesia. Dalam laporannya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) diketahui menerima 26 ribu kasus anak dibully dalam kurun 2011 hingga September 2017 lalu.

Apa yang bisa dilakukan orangtua?

  • Berkomunikasi dengan anak-anak Anda, sesering mungkin. Pastikan Anda selalu tahu apa yang terjadi dengan mereka saat tidak bersama Anda.
  • Perhatikan perubahan dalam perilaku mereka, jika mereka terlihat sedih, jangan mengabaikannya. Tanyakan apa yang salah dan dengarkan apa pun yang mereka katakan. Cari tahu juga petunjuk ‘bahasa non-verbal’, yang tidak mereka katakan pada Anda.
  • Cobalah cari tahu apa yang sedang terjadi di akun media sosial mereka.
  • Kenali teman-teman mereka, kenali hubungan anak Anda dengan teman-teman mereka.
  • Jika anak Anda mulai bertindak atau berperilaku tidak biasanya, mulailah selidiki.
  • Berbicaralah kepada guru dan tanggapi dengan serius jika sekolah mencoba memperingatkan tentang sesuatu kepada Anda. Jangan bersikap defensif atau acuh tak acuh.
  • Jika anak Anda menjadi korban bullying dan depresi, carilah bantuan profesional (psikolog) untuk menenangkan jiwanya yang terguncang.

 

Sebagai orangtua, kita harus aware pada perilaku si kecil. Melatih si kecil untuk lebih terbuka pada orangtuanya akan menumbuhkan rasa percaya diri si kecil, sehingga bisa terhindar dari bully. Jika bully terjadi, jangan ragu untuk melapor!

 

Dilansir dari artikel Nalika Unantenne di theAsianparent Singapura
Baca juga: 

Miris! Tangis Ayah ini pecah saat menemukan anaknya gantung diri