TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Anak Agresif yang Suka Bertengkar

Bacaan 4 menit
Anak Agresif yang Suka Bertengkar

Apa yang yang harus kita lakukan dalam menghadapi anak-anak agresif yang suka bertengkar? Temukan jawabannya di sini...

Anak Agresif

Anak Agresif yang suka bertengkar, gimana mengatasinya?

Penyebab Anak Agresif

Sikap anak agresif yang sesekali diperlihatkan pada masa kanak-kanak sangat umum pada usia satu sampai tiga tahun. Kadang mereka memukul dan menggigit karena berbagai alasan, seperti meniru teman, sakit karena sedang tumbuh gigi, frustrasi atau sedang menguji sebab dan akibat. Menurut American Academy of Child  and Adolescent Psychiatry, berbagai bentuk sikap anak agresif masih dalam taraf wajar karena mereka belum mengerti bagaiman cara mengendalikan emosi mereka.

‘Menggigit ataupun memukul adalah hal umum yang dilakukan anak-anak kecil karena mereka belum bisa menjelaskan segala hal kepada orang lain. Mereka juga baru mulai mengerti dan memahami bahasa. Jadi, ketika mereka sangat marah dan frustrasi, hal yang paling mudah untuk mengungkapkan perasaanya hanyalah menggigit dan memukul’ ungkap instruktur Early Childhood Education, Jennifer Hardacre.

Selanjutnya, di halaman berikut ini :

Mencegah perilaku anak agresif lebih baik daripada mengobati

anak agresif

Selalu lebih mudah untuk mencegah suatu kebiasaan daripada untuk menghentikannya. Setiap kali Anda melihat perilaku anak agresif pada diri anak Anda seperti mulai memukul atau menggigit entah terhadap Anda atau temannya, cegahlah agar hal ini tidak sampai terjadi. Tegaskan larangan Anda dengan peringatan keras, “Itu tidak boleh!”

Jika anak tidak dapat mengatasi ledakan emosi seperti ini, dekap dirinya dalam posisi terkunci yang lembut di mana ia tidak dapat menyakiti dirinya sendiri atau siapa pun sampai ia tenang. Atau, Anda bisa memberi zona ‘time-out’ yang sesuai dengan usianya.

Akhirnya, bicaralah dengannya dan jelaskan mengapa memukul atau menggigit tidak diperbolehkan. Gunakanlah ungkapan seperti, “Tangan kita tidak untuk memukul,” atau “Digigit itu sakit.”

Pikirkan dengan baik cara agar anak tahu bahwa Anda tidak menyukai perbuatan anak agresif dan bukannya Anda tidak menyukai anak Anda.

Di samping itu, cobalah berusaha menengarai rasa frustrasi ataupun amarah mereka. Berikan bantuan pada mereka untuk mengenali emosi dan berikan identifikasi. Ajarkan dia untuk bisa mengungkapkan emosinya secara verbal daripada mengungkapkannya dengan kekerasan fisik. Tunjukkan kepadanya bahwa ketika dia marah atau kecewa, dia boleh berkata, “Saya marah karena …” atau “Saya marah dengan …”

Selanjutnya tentang posisi kepemimpinan Anda, di halaman berikut ini :

Pertegas Posisi Kepemimpinan Anda

anak agresif

Ketika mencegah anak agresif untuk memukul atau menggigit, kebanyakan anak akan mencoba merajuk dengan menangis atau bahkan membantah Anda. Disini peran Anda sangat penting dalam memberikan reaksi kepada mereka. Karena hal ini akan mempengaruhi mereka hingga kelak mereka dewasa.

Banyak orangtua salah-kaprah dengan mengabaikan kedisiplinan terhadap anak. Mereka cenderung memberikan dan menunjukkan kelembuatan dan bersikap sabar. Di sisi lain ada juga orangtua yang sudah hampir putus asa menhadapi sikap anak yang menantang dengan berdalih bahwa “Anak lelaki memang begitu” atau “Itu cuma sebuah fase.”

Penelitian telah menunjukkan bahwa perilaku anak agresif pada masa kanak-kanak yang tidak diperbaiki, mempengaruhi tingkat kekerasan mereka saat tumbuh dewasa. Oleh karena itu, alangkah bijaksana jika orangtua mampu bersikap tegas pada otoritas mereka sebagai pemimpin keluarga dan mempertegas perilaku apa saja yang diperbolehkan dan yang tidak baik saat berada dalam lingkungan keluarga maupun saat berinteraksi dengan orang lain di luar rumah.

Faktor lainnya, ada di halaman berikut ini :

Faktor lain

Beberapa perilaku anak agresif masih dianggap normal, namun jika hal itu dilakukan secara berulang-ulang mungkin menunjukkan masalah yang lebih serius. Hal ini perlu campur tangan ahli. Kondisi ini bisa saja terjadi dilandasi oleh rasa cemburu, tidak suka, tidak bahagia, atau cemas. Saat kebutuhan emosi mereka ini dapat terpenuhi, perilaku anak agresif akan hilang secara alami.

Naomi Aldort, penulis Raising Our Children, Raising Ourselves, menyatakan bahwa anak-anak yang berperilaku agresif, menggunakannya sebagai mekanisme pertahanan dari perasaan mereka yang “tak berdaya.” Dia merekomendasikan beberapa jenis permainan kekuasaan seperti ‘Simon Says’ dan menggabungkan kegiatan yang sesuai dengan mereka. Memberinya kesempatan untuk punya andil dalam kehidupan keluarga.

Tayangan televisi yang mengarah pada kekerasan juga bisa menjadi salah satu pemicu timbulnya sikap anak agresif. Orangtua harus memantau dan memilah tayangan yang sesuai dengan anak Anda bila perlu dampingi mereka dan berikan penjelasan saat menonton tayangan TV.

Dr Benjamin Feingold, seorang dokter anak dan Kepala Alergi di Kaiser Permanente Medical Center di San Francisco mengungkapkan bahwa kandungan ‘salisilat’ adalah biang kerok tingkat agresi anak. Bahan ini umumnya ditemukan di dalam kandungan aspirin dan beberapa bahan makanan. Zat ini diyakini menjadi salah satu penyebab gejala ADHD (perilaku yang mengganggu, gelisah, impulsif, dll).

Cerita mitra kami
Yuk, Ajak Anak Main di Luar Ruangan. Ini 5 Manfaatnya, Parents!
Yuk, Ajak Anak Main di Luar Ruangan. Ini 5 Manfaatnya, Parents!
Satu dari Tiga Balita Indonesia Berisiko Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi, Kenali Gejalanya!
Satu dari Tiga Balita Indonesia Berisiko Anemia Akibat Kekurangan Zat Besi, Kenali Gejalanya!
Headliners Hadirkan Chaos Lab, Playground Imersif Pertama di Indonesia!
Headliners Hadirkan Chaos Lab, Playground Imersif Pertama di Indonesia!
8 Eksperimen Sains Sederhana yang Dapat Dilakukan Anak dan Orang Tua di Rumah
8 Eksperimen Sains Sederhana yang Dapat Dilakukan Anak dan Orang Tua di Rumah

Beberapa orangtua merasa malu dengan perilaku anti-sosial anak-anak mereka. Untuk mengatasinya mereka harus menghilangkan pola. Keluar dari penyangkalan, mengubah situasi, memberikan alternatif kepada anak untuk mengungkapkan emosi, dan memberikan pengawasan lebih dekat. Sebagaimana pula untuk menghadapi perilaku anak yang suka membantah, orang tua juga sebaiknya menggunakan pola asuh yang positif  secara konsisten dengan memberikan pujian saat mereka melakukan hal-hal baik, ataupun menjelaskan bahwa perilaku anak agresif yang buruk itu bisa menyebabkan dia dijauhi teman, dan lain sebagainya.

 

Share on Facebook atau G+ jika Anda merasa artkel ini bermanfaat. Join Komunitas Keluarga Indonesia di G+ untuk mengikuti update info dari kami dan berdiskusi dengan para Keluarga Indonesia

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Tahnee Gonzales

  • Halaman Depan
  • /
  • Usia Sekolah
  • /
  • Anak Agresif yang Suka Bertengkar
Bagikan:
  • Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

    Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

  • 16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

    16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

  • 8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

    8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

  • Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

    Bagaimana Perubahan Mental pada Anak Laki-Laki dan Perempuan yang Memasuki Masa Puber?

  • 16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

    16 SD Swasta di Bekasi, Lengkap dengan Kisaran Biaya Sekolahnya

  • 8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

    8 Ciri-Ciri Pubertas pada Anak Laki-laki yang Perlu Parents Tahu

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti