Kenali 4 Ciri Dokter Anak yang Baik ini Agar Parents tak Salah Pilih

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Tak semua dokter anak yang akan menyembuhkan si kecil benar-benar menjadi penyembuh. Karena, beberapa kasus yang terjadi justru sebaliknya.

Saat ada anggota keluarga yang sakit, orangtua sering panik dengan segera membawa anaknya ke rumah sakit. Namun bisa saja sesampainya di rumah sakit, pernyataan dokter anak yang menangani malah membuat orangtua makin panik.

Kepanikan tersebut terutama jika dokter langsung meminta anak untuk segera dirawat inap atau meresepkan banyak obat yang harus dikonsumsi oleh anak. Apalagi, sering kali dokter kurang menjelaskan dengan rinci apa yang sebenarnya sedang terjadi pada buah hati kita.

Menjadi seorang dokter bukanlah sekedar memiliki kemampuan ensiklopedik tentang berbagai penyakit. Tapi mereka yang dengan tulus berusaha dan berharap kesembuhan untuk pasiennya.

Bahkan, menurut survey, banyak dokter meresepkan obat yang tidak dibutuhkan oleh pasien. Sehingga pasien harus membayar lebih dari yang seharusnya. (Baca: Dokter ternyata sering meresepkan obat yang tidak dibutuhkan oleh pasiennya).

Poin berikut ini adalah beberapa ciri yang bisa Anda perhatikan apakah dokter yang Anda temui adalah seorang penyembuh yang baik:

1. Penuh perhatian

Dokter akan mendengar keluhan pasien dengan empati, kemudian melakukan tindakan yang membuat keluarga pasiennya merasa nyaman sehingga rasa sakit, panik, dan emosional makin berkurang.

Dokter anak juga akan menggunakan pengetahuannya untuk menenangkan Parents. Penjelasannya tentang penyakit yang pasiennya derita lengkap dan disesuaikan dengan kesiapan mental penerima informasinya.

2. Rasa ingin tahu

Dokter tak sekedar bertanya penyakit, melainkan juga semua gejala yang dirasakan oleh sang pasien. Dia adalah dokter yang mendengar keluhan pasiennya secara lengkap tanpa membuat kesimpulan macam-macam sebelum benar-benar melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Dokter yang baik akan menjelaskan mengenai penyakit yang diderita oleh pasiennya sampai keluarga pasien yang mendampinginya benar-benar paham penjelasan dokternya. Bukan berdasarkan asumsi dokter sendiri tentang sejauh mana pasien paham dengan penyakitnya.

3. Dokter yang terus belajar

Beberapa dokter kurang sabar menerima penjelasan dari pasiennya dan memilih untuk berasumsi tentang apa yang ingin pasiennya katakan. Padahal, penyakit dan sebabnya terus berkembang, artinya, pengetahuan dokter mengenai sebuah penyakit juga harus terus berkembang sekalipun ia adalah seorang dokter yang berpengalaman.

Memiliki dokter yang punya segudang pengetahuan memang menyenangkan. Namun, jika dokter kurang mendengar pasiennya, maka akan rentan terjadi salah diagnosis sampai terjadinya mal praktek.

4. Dokter hadir untuk pasiennya

Hubungan antara dokter dan pasiennya tak sekedar antara penyembuh dan yang disembuhkan. Anda akan merasa tenang jika dapat berkonsultasi dengan dokter secara khusus bahkan berkonsultasi lewat Whatsapp.

Pentingnya meminta pendapat dokter anak lain

Kejadian tak mengenakkan sempat terjadi pada Evi Mariani, seorang wartawan media berbahasa Inggris di Jakarta. Saat itu anaknya demam tinggi dan dokter anak langganannya sedang tak ada di tempat.

Dengan panik, ia segera melarikan anaknya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter yang memeriksa anaknya langsung memberikan saran untuk rawat inap dan diinfus.

Dalam keadaan kaget, panik, dan takut, ia meminta waktu kepada dokter jaga tersebut untuk berpikir dulu. Karena ia tak menyangka bahwa kondisi anaknya akan sangat parah seperti itu hingga butuh rawat inap.

“Kalau ibu menunda-nunda pengobatannya, kalau ada apa-apa ibu tanggung sendiri ya,” ujar dokter seperti ditirukan oleh Evi. Saat itu, bukannya lega, ia malah makin panik.

Setelah dokter langganannya bisa dihubungi, ia segera berkonsultasi ulang untuk meminta pertimbangan yang tepat demi kesembuhan anaknya.

“Saat itu dokter saya bilang kalau besok dia sudah ada di tempat. Jadi saya memutuskan untuk membawa pulang anak ke rumah dan menemui dokter anak langganan kami saja,” tuturnya.

Dokter Edi Setiawan Tehuteru, SP.A(K), MHA lah yang menangani anak Evi. Saat memeriksa anaknya, dengan tegas ia menyatakan bahwa anaknya tak perlu dirawat inap. Bahkan, dokter juga mengurangi dua jenis resep obat yang harus dikonsumsi oleh anaknya.

“Saat itu perasaan saya lega sekali. Saya tak bisa membayangkan bahwa anak saya harus ditangani dengan rawat inap. Apalagi jika ia harus mengonsumsi obat yang tidak diperlukannya. Saya lebih percaya dokter saya dibanding dokter di rumah sakit,” ujarnya lega.

Saat dihubungi oleh penulis theAsianparent, dokter anak yang memiliki tempat praktek di BSD Kencana Loka Blok H3 No. 22 Tangsel ini membenarkan hal itu. Menurutnya, perlu atau tidaknya anak dirawat memang tergantung jenis penyakitnya apa, “misalkan seandainya anak punya riwayat kejang, demam tinggi, dan tidak mau makan, barangkali dia memang butuh dirawat inap,”

Dokter anak yang juga berpraktek di Rumah Sakit Kanker Dharmais ini juga menekankan pentingnya pendapat dokter lain saat memutuskan penyakit anak yang butuh atau tidaknya rawat inap. Sedangkan mengenai efek samping obat yang sebenarnya tidak perlu dikonsumsi dalam kasus ibu Evi tersebut, dokter Edi menyatakan bahwa segalanya tergantung dengan jenis obat yang diresepkan oleh dokter tersebut,

Bersikap kritis terhadap dokter yang kita jumpai bukanlah sebuah sikap meremehkan kompetisinya. Melainkan, pasien juga berhak untuk memperoleh pengobatan terbaik dari dokter yang menanganinya.

Apakah Parents punya pengalaman yang tidak enak dengan dokter? Bagikan cerita Anda di kolom komentar ya…

 

Baca juga:

Anak Takut Sama Dokter? Ini 7 Tips Mudah Mengatasinya

 





Kesehatan