Curahan Hati Seorang Wanita, “Suamiku Selingkuh Ketika Aku Sedang Hamil…”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Seperti yang lainnya, Norah ingin menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia. Siapa sangka bahwa suaminya selingkuh ketika ia sedang hamil.

Menikah dengan lelaki yang dicintai dan akhirnya hamil adalah hal yang diinginkan oleh Norah (bukan nama sebenarnya). Namun, keadaan berubah ketika ia mendapati bahwa suaminya selingkuh ketika ia sedang hamil.

Ia tidak mengatakan pada orang tuanya mengapa ia bercerai. Namun, ia membagi kisah ketegarannya menghadapi masa kehamilan dengan suami yang selingkuh, dan masa kelahiran ketika ia memutuskan untuk menjadi ibu tunggal untuk anaknya.

Berikut curahan hatinya:

Aku pernah punya pernikahan yang sempurna. Aku bertemu Adam setelah seorang teman telah memperkenalkan kita, segalanya berjalan dengan bahagia.

Kami pacaran selama 3 tahun sebelum akhirnya menikah. Aku hamil pada tahun pertama pernikahan kami.

Saat itulah dia mulai bertingkah. Rasanya keadaan jadi berbalik secara drastis.

Adam mulai sering pulang larut malam dengan alasan harus membawa klien untuk minum-minum.

Alasan yang diberikannya terdengar seperti trik kuno untuk mengelabuhi pasangan. Namun aku masih mempercayainya. Karena dia adalah... dia.

Dia adalah lelaku yang selalu jujur dan terbuka sejak pertama kalinya kita berkencan. Lelaki ini adalah pria yang sangat aku cintai. Ayah dari bayi yang belum lahir ini.

Kadang-kadang, dia mendapat telepon pada larut malam dari bos yang tinggal di luar negeri. Aku percaya padanya.

Dia mulai senang pergi dengan mobilnya setiap malam. Ketika aku memintanya untuk mengajakku bersamanya, dia menolak dan akan kembali beberapa jam kemudian.

Aku masih tidak meragukannya.

Pada satu hari, aku mengalami kram yang buruk di masa kehamilan bulan kedua. Aku harus naik taksi ke rumah sakit sendirian karena aku tidak berhasil menghubungi Adam.

Dia datang untuk menjengukku, tetapi akhirnya ia malah mengajakku bertengkar tentang betapa aku telah menjadi beban untuknya.

Bagaikan menyapu semua kotoran yang ada dan menyembunyikannya di bawah karpet, aku ingin semua kekacauan ini tampak baik-baik saja. Aku ingin melihat pernikahan kami bagai gelas kaca yang indah sewarna mawar.

Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas kekurangan dalam pernikahan kami. Bagaimanapun, kami akan punya bayi.

Kami harus berusaha agar segalanya tetap berjalan lancar dan baik-baik saja.

Kehidupan seks kami juga telah terhenti. Dia berulang kali mengatakan kepadaku bahwa dia lelah dan terlalu stres karena pekerjaan.

Saat itu aku sedang berada di awal kehamilan dan yang aku baca, seks saat hamil muda masih aman. Sebagai ibu baru, aku juga konsultasi ke dokter kandungan juga, dia memberikan lampu hijau soal ini.

Aku telah berinisiatif untuk melakukan hubungan seks dengannya beberapa kali, tapi dia selalu menolak keinginanku.

Alasan nya adalah "Aku tidak ingin menyakiti bayi. Kok kamu bisa sih jadi terangsang pada saat seperti ini?"

Hal ini terjadi beberapa kali selama trimester pertamaku. Ditolak berulang kali akan membuat kita mendapatkan gambaran tentang apa yang terjadi.

Aku jadi sangat minder dengan perubahan tubuhku. Tapi, bukankah itu adalah bagian dari kehamilan?

Aku merasa terluka, tidak diinginkan, dan tidak dicintai.

Kemudian hari itu datang juga, aku sedang hamil 6 bulan. Sahabat perempuanku saat itu mengirim SMS bahwa ada hal mendesak yang harus ia tanyakan padaku.

Dia mengirimiku link Facebook dan bertanya apakah pria dalam gambar itu Adam. Dengan perut melilit, aku mengklik link tersebut.

Di sana, terlihat gambar Adam di sebuah album Facebook sebuah klub malam terkenal di Singapura. Ia sedang mencium perempuan lain, di bibir!

Adam, suamiku tukang selingkuh? Aku belum pernah melihat sisi tersebut. Aku melihat foto itu dengan lebih teliti. Wanita itu cantik, mempesona, dan sangat menarik.

Sedangkan, aku di sini... Sedang membulat bagai bola karena hamil. Aku benar-benar merasakan bahwa kepercayaan diriku menghilang tak bersisa dari tubuhku.

Tanda-tandanya memang ada, namun aku tak pernah berpikir bahwa ia berselingkuh dariku. Terutama pada saat kita baru saja memulai sebuah keluarga.

Selama ini aku hanya berpikir bahwa ia sedang super sibuk dan sedang bergumul dengan pekerjaannya yang menumpuk.

Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku meninggalkan dia? Bagaimana caranya aku membesarkan anak ini sendirian? Apa yang orang lain pikirkan nantinya? Semua pertanyaan mulai berhamburan dari pikiranku.

Rasanya ruangan di sekitarku berputar. Nafasku rasanya terhenti. Aku ambruk di lantai dan mulai berdarah. Saat terbangun, aku sedang berada di sebuah ranjang Rumah Sakit KK.

Di bawah terangnya lampu bangsal rumah sakit dan di tengah-tengah rasa pusing yang menderaku, aku melihat bahwa Adam ada di sana. Dia mendatangiku, dan mencari tahu apa yang menyebabkan ini semua terjadi, apa yang sedang terjadi di rumah.

Aku benar-benar hilang akal. Aku tunjukkan sebuah foto dari ponselku dan meminta penjelasannya.

Wajahnya langsung muram. Dia tidak mengelak. Dia mengakui bahwa ia memang berselingkuh.

Ia menjelaskan bahwa perselingkuhannya sudah berjalan selama satu tahun. Nama perempuan itu Kelly, seorang model asal Thailand.

Mereka bertemu di sebuah klub dan dia tidak menyangka bahwa keramahtamahan biasa akan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan berbahaya.

Dia menyalahkan aku karena tidak menjadi wanita yang sama setelah kami menikah. Temperamenku mudah berubah dan sikapku juga "tidak menyenangkan" padanya sehingga ia memutuskan untuk pergi.

Rupanya aku membuatnya merasa terkekang, bahkan dari sebelum masa kehamilan.

"Aku ini sedang hamil! Apa yang kamu harapkan dariku? Tidak memiliki perubahan suasana hati? Bersikap baik sepanjang waktu?" tanyaku dengan sangat frustasi.

Aku merasa sedang berhadapan dengan seorang anak-anak. Betapa tidak dewasanya ia.

Apakah ia berpikir bahwa hidup yang kita jalani akan sama setelah kedatangan bayi? Makin jelas bahwa ia tidak siap menjalani kehidupan sebagai orang tua.

Dengan gampangnya ia mengambil jalan yang mudah dan mengejar perempuan lain sebagai solusi atas permasalahannya. Tidak ada satupun pikirannya yang masuk akal bagiku.

Dia mengatakan bagaimana ia mulai jatuh cinta padanya. Karena ia 'tidak rumit' dan 'sangat menarik' sehingga ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

Dia juga menyadari bahwa ternyata ia tidak siap untuk menjadi seorang ayah.

Responku padanya saat itu, "Kamu tidak siap untuk menjadi seorang lelaki."

Aku tidak ingin tahu detil bagaimana "hubungan" mereka. Yang aku pedulikan selanjutnya adalah apa yang harus aku lakukan selanjutnya.

Aku tidak pernah berencana untuk membesarkan anak ini sendirian. Segalanya tiba-tiba berubah dalam hitungan menit.

Apakah aku punya rencana cadangan? Tentu saja tidak. Calon ibu macam apa yang akan berpikir bahwa ia harus menyambut bayinya sendirian tanpa suaminya?

Aku punya banyak pertanyaan...

Apakah aku mampu secara finansial untuk membiayai anakku? Harus tinggal di mana kami? Apakah aku harus melahirkan bayi ini sendirian?

Siapa yang akan membantu persalinanku? Apa yang akan orang katakan pada anakku karena ia "tak punya ayah"? Bagaimana caranya aku menguatkan diri secara emosional untuk menghadapi ini?

Sial, kenapa sih dia harus berubah menjadi brengsek seperti itu dan menghancurkan semua yang telah kami bangun?

Semua mimpi tentang gambaran mengasuh anak, mendaftarkan bayi untuk ikut kelas berenang, belanja kebutuhan bayi...

Mengapa dia menjanjikan sesuatu ketika ia justru ingin mengakhirinya?

Halaman selanjutnya: Memutuskan untuk bercerai

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kisah Mengharukan