Stop Mengantarkan Barang Anak yang Ketinggalan di Rumah ke Sekolah, Ini Alasannya

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Sebuah sekolah dasar di Singapura melarang orangtua mengantarkan barang anak yang ketinggalan, ini dilakukan untuk mengajari anak bertanggung jawab sejak dini.

Setiap orangtua pasti akan memastikan anaknya melewati hari yang baik di sekolah, sehingga bila ada barang yang tertinggal pasti akan diantarkan ke sekolah. Tapi di sekolah Kuo Chuan Presbyterian Primary School (KCPPS), mereka melarang orangtua mengantarkan barang keperluan sekolah anak yang ketinggalan di mobil atau di rumah.

Seperti diberitakan oleh TNP, KCPPS bahkan menaruh tanda larangan di depan pintu masuk sekolah sebagai peringatan bagi orangtua.

KCPPS percaya bahwa orangtua harus membiarkan anaknya belajar mandiri, dan bertanggungjawab pada semua tindakannya, termasuk melupakan barang yang diperlukan untuk ke sekolah.

Tanda larangan tersebut berbunyi:

Bila Anda mengantarkan kotak makan yang tertinggal, buku, PR, sepatu, alat, dll. TOLONG BERBALIK DAN PERGILAH. Biarkan anak Anda tumbuh dewasa. Anakmu akan belajar untuk menyelesaikan masalah dan menerima tanggung jawab dari konsekuensi ketidakhadiran Anda. Terimakasih.

Setiap harinya, dari jam 8 hingga jam 9 pagi, akan ada setidaknya 3-4 orangtua atau asisten rumah tangga yang mengantarkan barang keperluan sekolah anak yang ketinggalan. Seperti botol minum, buku catatan, dan uang saku ke sekolah.

Mereka semua diarahkan ke kantor guru, dimana mereka akan disuruh pulang ke rumah. Demikian keterangan dari penjaga sekolah yang berlokasi di Bishan Street 13 Singapura ini.

Kepala Sekolah KCPPS Teo Ching Ling mengatakan, “Belajar sendiri untuk bertanggung jawab pada barang milik mereka adalah kemampuan yang penting dalam hidup. Kami membutuhkan para siswa kami mempelajarinya sebagai bagian dari nilai pendidikan dan sejajar dengan salah satu nilai dari sekolah kami, kedisiplinan diri.”

“Keterlibatan orangtua sangatlah kritis dalam usaha keras kami ini, pihak sekolah telah mencari kerjasama dari para orangtua untuk menahan diri agar tidak mengantarkan PR atau barang lain milik anak yang ketinggalan. Hal ini dilakukan pada anak mereka sebagai proses dari pembelajaran.” Kepala Sekolah Ching Ling menjelaskan.

“Tanda larangan ditaruh di sana sebagai pengingat visual bagi para orangtua untuk menjadi rekan sekolah dalam usaha ini,” tambahnya.

Para orangtua murid di KCPPS memberitahu TNP bahwa pihak sekolah selalu menekankan hal ini dalam pertemuan orangtua murid dan guru. Serta pada surel yang dikirim ke mereka, agar anak-anak dibiarkan mengambil tanggung jawab atas kesalahan mereka dan belajar menjadi orang yang bertanggung jawab.

Tapi kelihatannya pesan itu tidak sampai ke beberapa orangtua, sehingga pihak sekolah masih harus memasang tanda larangan di depan pintu masuk. Puluhan orangtua menyatakan bahwa mereka mendukung aksi sekolah untuk mengajari anak menjadi mandiri.

Kata psikolog tentang aturan ini

Seorang ahli psikologi klinis Carol Balhetchet mengatakan, “Sekolah dasar adalah langkah pertama anak memasuki lingkungan pendidikan, dan naluri orangtua secara alami ingin melindungi. Setelah setahun pertama, orangtua tidak perlu terlalu waspada karena anak perlu melindungi dirinya sendiri. Untuk bertanggung jawab dan mengandalkan dirinya sendiri.

Seorang psikolog lain bernama Daniel juga juga mengamini. Ia mengatakan, apabila orangtua secara terus menerus menyelesaikan masalah yang dialami anak mereka, maka hal tersebut akan memengaruhi kemampuan anak untuk menjadi waspada agar tak menimbulkan masalah.

“Kemungkinannya, anak tidak akan memiliki kesadaran untuk memecahkan masalahnya sendiri, membuat rencana atau menyiapkan diri. Kurangnya kebebasan dan kemampuan yang dibutuhkan bisa menyebabkan keragu-raguan saat anak harus berurusan dengan masalahnya sendiri. Dan dia tidak bisa menumbuhkan cara berpikir dewasa.” Daniel Koh menambahkan.

Carol Balhetchet memberikan 5 tips untuk membuat anak menjadi pribadi yang independen.

  • Cinta yang tegas. Menjadi orangtua yang baik, mengerti kebutuhan anak, dan memastikan bahwa dia merasa aman dan nyaman di lingkungan sosialnya. Tapi tetap menegaskan bahwa anak butuh kebebasan untuk menjadi independen. Contohnya, biarkan ia membawa tasnya sendiri, dan menyiapkan keperluan sekolahnya sendiri.
  • Selalu ada untuk anak Anda. Orangtua tidak perlu hadir setiap saat di sisi anak, tapi pastikan bahwa Anda memberikan dukungan moril dan emosional yang dibutuhkan anak. Jika dia merasa tidak aman, diskusikan masalah tersebut untuk menemukan solusinya.
  • Beri anak Anda perhatian penuh. Contohnya, luangkan waktu untuk mendengarkan cerita kesehariannya di sekolah setelah makan malam.
  • Bantu anak menjadi lebih independen. Karena suatu hari, dia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya sendiri. Jadi berikan bantuan tersebut selagi Anda masih ada di sisinya.

Mungkin di Indonesia belum ada sekolah yang menerapkan kebijakan seperti KCPPS, namun tidak ada salahnya Anda mencontoh metode yang diterapkan sekolah tersebut.

Mulai sekarang, jangan lagi mengantarkan buku PR atau kotak makan anak yang ketinggalan saat ia pergi sekolah. Tak mengapa bila anak marah-marah, dengan begitu dia tidak akan lagi melupakan hal penting yang harus ia bawa ke sekolah.

 

Baca juga:

Memilih Sekolah Ideal untuk Anak

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Better Parenting Bigger Kids