Waspadai tanda dan penyebab jarang melakukan seks setelah menikah, bahayakah?

Waspadai tanda dan penyebab jarang melakukan seks setelah menikah, bahayakah?

Pasangan dengan frekuensi seks yang minim lebih rentan perceraian, Andakah salah satunya?

Hubungan seks setelah menikah menjadi hal yang cukup vital sebagai salah satu upaya untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Namun apakah Parents pernah menghitung atau memerhatikan frekuensi hubungan seksual Anda berdua selama ini? Hal ini sangat penting, lho!

Memang, ada banyak faktor dan alasan yang bisa memengaruhi frekuensinya. Kebahagiaan dan keharmonisan dalam pernikahan pun tak hanya ditentukan oleh durasi seks semata. 

Tapi perlu Parents ketahui, rupanya menurut riset, pasangan dengan frekuensi seks yang rendah bisa lebih rentan mengalami perpisahan dalam waktu 12 bulan. 

seks setelah menikah

Faktor penyebab frekuensi gairah seks

Menurut Robert Weiss LCSW, CSAT-S, pakar seksualitas, frekuensi dari hubungan seks setelah menikah dipengaruhi kuat oleh gairah seksual pada pasangan. Nah, gairah seksual ini rupanya juga dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab, seperti:

  • Usia
  • Keadaan dan kondisi hidup berumah tangga
  • Kesehatan fisik dan emosional
  • Efek obat-obatan tertentu
  • Kepemilikan anak di rumah
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Tengah mengalami kehilangan dan kesedihan
  • Penggunaan dan penyalahgunaan zat
  • Beban kerja dan stres
  • Riwayat trauma atau pelecehan sebelumnya
  • Kurangnya ketertarikan fisik dan kurangnya keintiman
  • Kurangnya kepercayaan hubungan
Artikel terkait : Benarkah sering ejakulasi bisa mengurangi risiko kanker prostat?

Tanda frekuensi seks setelah menikah rendah

Beberapa tanda bahwa Anda dan pasangan memiliki frekuensi seks yang rendah, antara lain:

1. Frekuensi seks sedikit

Pasangan dengan frekuensi seks rendah biasanya hanya melakukan hubungan sebanyak 1-2 kali per bulan. Pasangan-pasangan ini biasa melakukannya setelah sebelumnya dijadwalkan untuk berhubungan badan. Bila tidak dijadwalkan, seks mungkin tidak akan terjadi. 

2. Keintiman yang rendah

Hanya salah satu pasangan yang berinisiatif untuk melakukan hubungan seks merupakan ciri seks frekuensi rendah lainnya. Kalau pun melakukannya, biasanya keintiman setelah bercinta pun tidak terjalin.

Seks hanya dilakukan sebagai tugas dan kebutuhan, bukan berdasarkan cinta atau ingin memuaskan pasangan. Hal ini pun juga akan terlihat pada antusiasme ketika bercinta yang menjadi lebih rendah.

seks setelah menikah

seks setelah menikah yang minim

3. Hubungan yang monoton

Seks frekuensi rendah pun biasanya juga ditandai dengan aktivitas yang monoton. Inisiatif dari masing-masing atau salah satu pasangan terlihat berkurang dari sebelumnya.

Rasanya, tidak ada lagi petualangan dan spontanitas dalam bercinta yang bisa dirasakan oleh pasangan. 

4. Tertarik pada hal lain

Pasangan lebih tertarik pada video porno atau memainkan gadgetnya? Hati-hati, Parents! Hal ini bisa menjadi akibat sekaligus penyebab dari seks frekuensi rendah yang selama ini terjadi.

Lalu, sebenarnya berapa banyak frekuensi bercinta yang sehat untuk hubungan?

Artikel terkait : Bagaimana cara menghadapi suami yang kecanduan pornografi?

Berapa kali seks setelah menikah yang sehat?

seks setelah menikah

Sebetulnya, tidak ada jumlah yang paling pasti untuk menentukan frekuensi seks dengan kebahagiaan pasangan. Beragam survey dilakukan pada beberapa kelompok usia, dan hasilnya pun bermacam-macam.

Semakin tua usia pasangan, intensitas dan frekuensi hubungan seksual memang menjadi lebih rendah. Terkait dengan hal ini, ada hasil penelitian yang mengungkapkan pentingnya frekuensi yang sebaiknya tidak kelebihan maupun kekurangan. 

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada November 2015 mengamati lebih dari 2400 pasangan menikah dan meneliti hubungan sesksual yang dilakukannya. Mereka menemukan bahwa semakin sering hubungan seks yang dilakukan pasangan, mereka merasa semakin bahagia. Namun, penelitian ini pun mengungkapkan batasannya minimal sekitar satu kali dalam seminggu.

Penting diperhatikan setiap pasangan!

Setiap pasangan memiliki keinginan serta kondisi fisik dan emosi berbeda, sehingga sebaiknya tidak membandingkan antara satu dengan yang lainnya. Kuncinya tentu Anda sebaiknya tidak membandingkan durasi seksual bersama pasangan Anda dengan pasangan yang lain.

Beberapa pasangan mungkin memiliki frekuensi bercinta yang sering namun keintiman yang dirasakan berkurang. Di sisi lain, mungkin ada pasangan yang merasa sangat jarang bercinta karena kondisi tertentu, namun merasakan keintiman dari frekuensi yang jarang tersebut.

Tentunya, kembali lagi pada kualitas dan pemaknaan dari hubungan seks itu sendiri antar pasangan. Bila hubungan dirasa monoton, cobalah berinisiatif untuk memberikan kejutan-kejuatan kecil kepada pasangan. 

Selalu komunikasikan setiap keinginan dan harapan dengan pasangan, tak terkecuali terkait dengan aktivitas seksual.

Sumber : verywellmind, huffingtonpost

Baca Juga :

3 Posisi bercinta terbaik untuk membakar kalori, wajib coba malam ini!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner