Perlukah ‘Meneror si Pelakor’? Seorang Mantan Istri berbagi apa yang sebaiknya dilakukan korban perselingkuhan

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Sakit memang jika menghadapi kenyataan suami selingkuh. Namun, sudah benarkah jika kita meneror si pelakor? Simak saran seorang mantan istri ini.

Anda masih ingat Ary Yogeswary? Seorang istri yang menulis surat 'Halo Selingkuhan Suami Saya' dan menjadi viral di media sosial.

Kini Ary telah menulis buku 'Dear, Mantan Tersayang', yang bercerita tentang serba-serbi selingkuh, hingga bagaimana caranya move on dan mencintai diri sendiri.

Ary pun berbagi sekilas bagaimana sebaiknya bersikap saat menjadi korban perselingkuhan. Simak saran Ary dalam menghadapi perselingkuhan, alih-alih meneror si 'pelakor', ini.

Meneror si pelakor*

Saya masih nggak ngerti kenapa tiap ada cerita heboh baru soal pelakor saya masih kena tag (#sambitsendal) . Tahu sih, biar gimana juga cerita saya yang viral itu kan memang tentang si Mbak selingkuhan suami saya. Tapi yang sekarang sibuk ikutan ngeshare info pribadi soal selingkuhan masing-masing (bahasa kerennya: pelakor), yuk sabar dulu...

Waktu saya tulis soal selingkuhan suami saya, saya cuma ingin dia tahu kalau jalan yang dia pilih itu salah. Bukan cuma dia saja, namun juga sekian banyak orang lainnya yang sedang terpikat bujuk rayu untuk melakukan perselingkuhan.

Si Cah Ayu ini (dan calon-calon selingkuhan lainnya), harus mengerti bahwa bahasa semanis madu orang yang sudah berpasangan itu belum tentu benar, dan cerita asli pasangan yang diselingkuhi mungkin jauh berbeda. Sudah, itu saja. Bukan balas dendam, tapi pembelajaran. Ada lho yang SMS saya bilang mereka sudah selesai jadi selingkuhan setelah membaca artikel itu. Ini yang saya harapkan.

Lalu Ibu-ibu dan mbak-mbak yang sampai sebar foto pribadi, alamat kantor, alamat rumah, dan data pribadi lainnya itu mengharapkan apa?

Nggak banyak yang tahu kalau saya mati-matian berusaha melindungi Cah Ayu ini. Saya punya kok data pribadinya dia, lengkap kap kap. Semua nama akun sosial media dia, sampai nomor induk mahasiswa, alamat rumah, dan nomor telepon saya punya. Semua foto dia bersama si akang tersayangnya pun ada. Tinggal posting di sosial media saya, lalu selamat tinggal bye bye Cah Ayu…

Tapi terus saya dapat apa? Suami saya nggak akan balik, saya juga nggak sudi balik sama dia. Lalu apa yang saya capai dengan amarah saya?

Waktu tulisan saya jadi viral, mantan suami saya menghubungi saya dengan penuh kemarahan, bilang bahwa Cah Ayu ini habis dikejar-kejar dan dimaki-maki semua orang, walau saya nggak pernah menginfokan namanya. Saya ingat membaca e-mail itu dengan tangan gemetar, karena bukan niat saya menyakiti Cah Ayu ini sampai dia diteror seperti itu.

Bahkan saat ada blogger yang berhasil menemukan dan menulis info plus foto Cah Ayu ini (berkat ketololan mantan suami saya), saya memohon-mohon blogger cantik ini untuk menghapus tulisannya. Sampai sekarang pun saya nggak sembarangan nge-add orang di Facebook, takut mereka cuma kepo dan penasaran siapa sih mantan suami saya dan Cah Ayu nya.

Kenapa? Karena bukan saya korbannya disini. Kalau bukan sama Cah Ayu ini, mantan suami saya akan dapat orang lain kok. Saya yang beruntung, bukan dia. Saya yang bisa lepas dari seseorang yang nggak bisa menghargai saya. Saya yang bisa menemukan orang-orang yang benar-benar sayang dan peduli pada saya. Saya yang bisa melihat diri saya di cermin dan berkata: "Loe keren. Gue bangga sama elu." Tuhan memberi saya kesempatan untuk menguatkan diri saya, dan saya rasa saya berhasil melaksanakan ujian-Nya. Bagus di saya kan?

Lain cerita kalau selingkuhannya nyolot ya, yang sengaja cari gara-gara.

Tahu kok kalau ada yang memang predator diluar sana, yang semangat '45 memangsa pasangan orang. Tapi mau predator atau korban buaya, tetap nggak ada urusannya nyebarin data pribadi mereka. Selingkuh itu bukan soal yang lama vs yang baru. Selingkuh itu soal perasaan kita dan perasaan pasangan kita.

Kalau memang pasangan khilaf, kita harus fokus ke bagaimana memperbaiki hubungan yang ada. Kalau memang pasangan doyan, kita harus fokus ke bagaimana mengatasi atau bahkan menerimanya. Sama sekali nggak ada urusan dengan selingkuhannya.

Lain cerita kalau selingkuhannya nyolot ya, yang sengaja cari gara-gara. Tapi tetap lho nggak berarti karena kita sensi diajak berantem langsung semua data diri dipublish. Apa yang sudah ada di internet itu nyaris mustahil dihapus. Bayangkan bila itu terjadi pada anda, yang harus tiarap dan mungkin selamanya nggak bisa menggunakan sosial media karena suatu kesalahan yang anda perbuat.

Coba deh anda off sosial media seminggu saja, off terima telepon atau sms teman-teman seminggu saja, dan pikirkan betapa nggak enaknya. Saya jujur sampai saat ini masih merasa bersalah kepada Cah Ayu ini, walau yang terjadi di luar control saya dan saya sudah berusaha melindunginya.

Kita juga cepat sekali menyerang para pelakor, layaknya mengeroyok copet atau maling mangga. Tahu urusannya juga nggak, yang penting bogem duluan melayang. Susah kan kalau begini? Sekali lagi, ada memang yang karirnya mengejar pasangan orang, tapi ada juga yang cuma korban, yang karena lelakinya yang gatal syalalala.

Kenapa kita lebih menghakimi perempuan (baca: pelakor) daripada pelaku perselingkuhan (baca: si lakor)?

Yang semua membanjiri SMS inbox dan sebagainya meneror si pelakor, sementara si lakor dibiarkan bebas. Ada juga harusnya si lakor yang diteror bukan? Apalagi yang memang track recordnya nggak setia.

Selingkuh itu bukan seperti Jack dan Pohon Kacang, yang bim salabim biji kacang ditebar menjadi pohon raksasa. Selingkuh itu adalah hasil dari kondisi dan perasaan si pelaku, si pasangan resmi, dan si selingkuhan.

Di buku "Dear, Mantan Tersayang" saya tulis berbagai penyebab kenapa perselingkuhan itu terjadi. Selingkuh itu bukan cuma sekali lirik lalu jatuh cinta dan lupa semuanya, dan kalau iya, mungkin ada yang salah dengan hubungan yang sudah ada. Mempersekusi pelakor itu tidak akan mereparasi hubungan anda, nggak akan mendadak membuat pasangan kembali kepada anda. Jadi buat apa?

Saat mereka bermain kasar, kita bermain cantik

Kata-kata paling terkenal Michelle Obama, istrinya Barack Obama, adalah: "When they go low, we go high", terjemahan bebasnya: "Saat mereka bermain kasar, kita bermain cantik".

Kalau anda merasa perlu menulis soal apa yang anda alami, bila anda merasa terbantu dengan bercerita dan membagikannya (atau lebih penting lagi: orang lain bisa terbantu!), silakan lho. Tapi jangan lagi berfokus pada orang lain. Fokuslah pada diri anda, fokuslah pada memperbaiki dan mendorong diri anda menjadi lebih baik. Jangan biarkan amarah dan rasa ingin balas dendam merongrong anda. Anda sudah kehilangan hal yang berharga, jangan sampai anda kehilangan diri dan nurani anda juga.

Pada akhirnya, ini semua adalah tentang anda: tangisan anda, kepedihan anda, remuknya hati anda, hancurnya harapan anda. Tapi bukan hanya itu. Ini juga tentang kekuatan anda, ketegaran anda, anugrah dan dukungan yang diberikan pada anda, kemampuan anda untuk berdiri kuat di penghujung hari dengan rasa syukur telah bisa melewati ujian-Nya.

Menangislah bila anda ingin menangis, namun jangan pernah lupa badai pasti berlalu, bahwa Tuhan tidak tidur, bahwa Ia tahu yang terbaik untuk kita. Dan jangan, sekali-kali jangan menjadi iblis yang terbakar api amarah. Kita lebih baik daripada itu. Angkat dagumu, sayangku, jangan sampai mahkotanya jatuh.

Setuju, Bunda?

 

*tulisan pertama kali diterbitkan di blog pribadi Ary Yogerswary

Baca juga:

Seorang Istri Menyerang Selingkuhan Suami Dengan Menyiram Bubuk Cabai ke Vaginanya

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Pernikahan