TAP top app download banner
theAsianparent Indonesia Logo
theAsianparent Indonesia Logo
kemendikbud logo
Panduan Produk
Keranjang
Masuk
  • Kehamilan
    • Kalkulator perkiraan kelahiran
    • Tips Kehamilan
    • Trimester Pertama
    • Trimester Kedua
    • Trimester Ketiga
    • Melahirkan
    • Menyusui
    • Kehilangan bayi
    • Project Sidekicks
  • Anak
    • Bayi Baru Lahir
    • Bayi
    • Balita
    • Prasekolah
    • Anak
    • Praremaja & Remaja
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
    • Pengasuhan Anak
    • Edukasi Prasekolah
    • Edukasi Sekolah Dasar
    • Edukasi Remaja
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
    • Keluarga
    • Doa Islami
    • Pernikahan
    • Seks
    • Berita Terkini
  • Kesehatan
    • COVID-19
    • Info Sehat
    • Penyakit
    • Vaksinasi
    • Kebugaran
  • Gaya Hidup
    • Korea Update
    • Hiburan
    • Travel
    • Fashion
    • Kebudayaan
    • Kecantikan
    • Keuangan
  • Nutrisi
    • Resep
    • Makanan & Minuman
    • Sarapan Bergizi
  • Ayah manTAP!
    • Kesehatan Ayah
    • Kehidupan Ayah
    • Aktivitas Ayah
    • Hobi
  • VIP
  • Event

Menjadi 'Ibu Organik'

Bacaan 4 menit
Menjadi 'Ibu Organik'

Sandra Lee berbagi kisah hidupnya dari seorang ibu yang ketagihan mi instan menjadi seorang green mum yang menggunakan bahan-bahan organik dalam kesehariannya, semuanya demi putra kecilnya.

Menjadi Ibu Organik

Sebelum putra kami lahir, suamiku dan saya  tidak pernah mengonsumi makanan organi. Bahkan sebenarnya kami terbiasa untuk ‘bertahan hidup’ dengan makan mi instan ketika kami terlalu malas untuk  membeli makanan siap saji di  luar. Tapi semuanya berubah begitu saya hamil.

Seperti kebanyakan nenek yang prihatin, ibuku memastikan untuk membuat sup setiap hari dan memasak makanan yang sehat untuk kami konsumsi selama masa 9 bulan itu.

Selama mengandung saya mulai suka makan buah setiap hari, dan pastinya hal ini berpengaruh baik bagi pertumbuhan bayi kami. Jadi setelah menjalani proses detoks yang begitu sehat selama sembilan bulan, sulit bagi kami untuk kembali ke cara makan yang semula.

Pengetahuan adalah raja

Menjadi Ibu Organik

Sebelum putraku lahir, saya mulai membaca buku tentang menyusui dengan ASI. Pada saat itulah saya menemukan artikel yang mengatakan bahwa kebiasaan makan anak dan pilihan makannya dibentuk pada saat mereka berada di dalam rahim melalui apa yang dikonsumsi oleh ibu selama mengandung.

Karena saya tidak bekerja penuh waktu, saya memutuskan untuk menyusui putra saya dengan ASI sepenuhnya selama mungkin saya mampu.

Karena itu ketika putra saya mulai makan makanan padat pada usia 6 bulan, saya secara alamiah terdorong untuk mencari makanan organik.


Selain  itu, dengan mempertimbangkan tingkat  polusi yang luar biasa sekarang ini, sebagai ibu saya merasa harus melindungi dan memberikan awal hidup yang baru bagi putra saya, melalui makanan organik yang sehat, peralatan mandi organik, dan mainan dari kayu dan plastik yang aman! Bagaimana pun juga seperti kata pepatah We are what we eat (kita adalah yang kita makan).

Kami memulainya dengan membeli produk perawatan tubuh dan rambut organik untuknya sejak putra kami baru lahir. Kemudian kami membeli sereal organik ketika mulai menyapihnya yang kemudian berlanjut dengan biskuit organik dan makanan bayi botolan setelah dia tumbuh dewasa.

Saya juga mulai banyak membaca tentang BPA  dalam botol susu, mainan dan alat makan.

BPA adalah zat mirip estrogen yang dapat mengakibatkan risiko gangguan perkembangan otak pada bayi dan anak-anak.

Mungkin akan mengakibatkan pubertas dini pada anak-anak perempuan dan pertumbuhan payudara pada anak laki-laki. Bahan kimia utamanya digunakan untuk membuat benda-benda seperti botol susu bayi menjadi keras dan jernih.


Bisphenol A, atau BPA, dapat ditemukan dalam level rendah secara virtual dalam tubuh setiap manusia. Sebagai komponen dari plastik polikarbonat, BPA dapat luruh dari botol susu bayi dan wadah minuman lain yang terbuat dari plastik keras, wadah makanan dan produk konsumen lainnya.

Memang  dia selalu bersama saya dan jarang minum dengan botolnya, tetapi saya tetap memutuskan lebih baik berhati-hati daripada menyesal nantinya. Karena itulah saya membuang semua botol merek  Avent b miliknya dan menggantinya dengan  Pigeon PES.

Saya juga membuang, memberikan kepada orang lain atau menjual mainannya yang diproduksi dengan cara cerdik atau diketahui memiliki BPA dan membeli mainan kayu dari Plan Toys dan mainan plastik bebas BPA karena dia suka mengulum segala sesuatu.

Alasan lain yang membuat saya memutuskan berubah ke makanan organik adalah kebanyakan produk makanan bayi yang diproduksi secara komersial mengandung bahan-bahan seperti garam, gula, bahkan ada yang mengandung pewarna dan perisa buatan. Makanan organik menghindarkan kita dari hal itu karena menggunakan perisa natural dari buah atau rempah.

Untuk memanjakan diri, saya juga membuat yogurt untuknya dari susu organik karena yang tersedia di pasar adalah yogurt rendah atau tanpa lemak (bayi membutuhkan yang full lemak) dan sarat kandungan gula.


Komentar orang banyak

Begitu mengetahui putra kami kebanyakan mengonsumsi makanan organik, sejumlah orang berkomentar dia akan tumbuh menjadi orang yang cerewet dalam memilih makanan.

Pada kenyataannya justru sebaliknya, dan dia sangat senang menyantap makanan non organik seperti seiris lemon atau sepotong bitter rocket leaf saat kita makan di luar.

Menjadi Ibu Organik

Orang lain mengomentari ide saya untuk mencari dan hanya membeli mainan dan botol susu yang bebas dari BPA, tetapi Kanada belum lama ini melarang penggunaan BPA dalam pembuatan botol susu bayi, dan FDA di Amerika sekarang ini sedang gencar mengawasi penggunaan BPA untuk digunakan di kebanyakan produk selama bertahun-tahun.

Pada akhirnya saya berpendapat, melakukan gaya hidup organik memang bukanlah untuk setiap orang, tetapi saya yakin ini adalah pilihan yang baik untuk dipertimbangan.

Di samping itu menawarkan nutrisi terbaik bagi anak kita sejak dini untuk memberi bahan bakar bagi pertumbuhan mereka yang begitu cepat di tahun-tahun pertama, dimana metode pertanian organik lebih ramah pada lingkungan, juga berarti kita membantu untuk melestarikan planet ini untuk anak dan cucu kita. Saya yakin Anda setuju bahwa pemikiran ini dapat melahirkan kepuasan tersendiri.

Cerita mitra kami
Rekomendasi Layanan Profesional yang Membantu Ibu Mengelola Rumah & Anak di 2026
Rekomendasi Layanan Profesional yang Membantu Ibu Mengelola Rumah & Anak di 2026
Wajib Tahu! Ini Mitos dan Fakta Makanan Peningkat Kecerdasan Menurut Dokter Anak
Wajib Tahu! Ini Mitos dan Fakta Makanan Peningkat Kecerdasan Menurut Dokter Anak
Asma Anak Tiba-tiba Kambuh? Ingat, Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital
Asma Anak Tiba-tiba Kambuh? Ingat, Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan

Apakah mengandung atau melahirkan bayi mengubah cara pandang Anda terhadap perdebatan tentang organik? Berbagilah di kolom komentar di bawah ini.

Menjadi Ibu Organik

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

sandra lee

  • Halaman Depan
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Menjadi 'Ibu Organik'
Bagikan:
  • Manfaat Nanas Muda, Benarkah Bisa Mencegah Kehamilan?

    Manfaat Nanas Muda, Benarkah Bisa Mencegah Kehamilan?

  • Apa Itu Ptosis? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Apa Itu Ptosis? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

  • Haid Cuma 3 Hari Apakah Tanda Kehamilan? Ini Penjelasannya, Bun!

    Haid Cuma 3 Hari Apakah Tanda Kehamilan? Ini Penjelasannya, Bun!

  • Manfaat Nanas Muda, Benarkah Bisa Mencegah Kehamilan?

    Manfaat Nanas Muda, Benarkah Bisa Mencegah Kehamilan?

  • Apa Itu Ptosis? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Apa Itu Ptosis? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

  • Haid Cuma 3 Hari Apakah Tanda Kehamilan? Ini Penjelasannya, Bun!

    Haid Cuma 3 Hari Apakah Tanda Kehamilan? Ini Penjelasannya, Bun!

Daftarkan email Anda sekarang untuk tahu apa kata para ahli di artikel kami!
  • Kehamilan
  • Tumbuh Kembang
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Home
  • TAP Komuniti
  • Beriklan Dengan Kami
  • Hubungi Kami
  • Jadilah Kontributor Kami
  • Tag Kesehatan


  • Singapore flag Singapore
  • Thailand flag Thailand
  • Indonesia flag Indonesia
  • Philippines flag Philippines
  • Malaysia flag Malaysia
  • Vietnam flag Vietnam
© Copyright theAsianparent 2026. All rights reserved
Tentang Kami|Tim Kami|Kebijakan Privasi|Syarat dan Ketentuan |Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti