TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Bakal Jadi Kurikulum Nasional 2026, Kurikulum Merdeka Panen Kritik Aktivis

Bacaan 4 menit
Bakal Jadi Kurikulum Nasional 2026, Kurikulum Merdeka Panen Kritik Aktivis

Aktivis mengkritisi kurikulum yang dicanangkan menjadi Kurikulum Nasional 2 tahun lagi. Mengapa?

Ada kabar baru nih, Parents: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) akan menjadikan Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional.

Kabarnya, kurikulum ini sudah akan wajib diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia pada 2026 mendatang.

Walau begitu, kebijakan ini rupanya mendapat tentangan sejumlah aktivis. Para aktivis menilai kurikulum ini masih belum ajeg untuk diserap pelajar Indonesia.

Seperti apa sebenarnya Kurikulum Merdeka ini? Apa perbedaannya dengan sistem yang sedang dipakai oleh sekolah-sekolah di Indonesia? Begini penjelasannya.

Wacana Menjadikan Kurikulum Merdeka Jadi Kurikulum Nasional

Kurikulum Merdeka Jadi Kurikulum Nasional

Mengutip laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam. Sederhananya, kurikulum ini dirancang lebih sederhana namun dengan metode pembelajaran yang mendalam.

“Regulasi ini akan memberi kepastian bagi semua pihak tentang arah kebijakan Kurikulum Nasional. Setelah Permendikbudristek ini terbit, sekitar 20 persen satuan pendidikan yang belum menerapkan ini memiliki waktu dua tahun untuk mempelajari dan kemudian menerapkannya,” ujar Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo, melansir laman Republika.

Merujuk berbagai sumber, kurikulum ini sebenarnya memiliki keunggulan. Yakni, Kurikulum Merdeka dinilai lebih sederhana karena belajar diadakan dengan cara menyenangkan.

Misalnya, bagi pelajar yang sudah duduk di bangku SMA, tidak ada peminatan seperti kurikulum sebelumnya. Nantinya siswa bebas memilih mata pelajaran sesuai minat bakatnya.

Menariknya, kurikulum ini turut mengajak pelajar mendalami isu yang relevan hari ini. Sebut saja isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya. Jadi, proses belajar tidak cenderung kaku dan menyenangkan semua pihak.

Jika resmi menjadi kurikulum nasional, nantinya akan ada tiga program yang menjadi prioritas, antara lain:

  1. Kegiatan launching Kurikulum Nasional menggantikan Kurikulum Merdeka,
  2. Pendaftaran Satuan Pendidikan Pelaksana Kurikulum Nasonal tahun ajaran 2024/2025,
  3. Festival.

Selain itu, akan ada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Kurikulum Merdeka yang bisa disesuaikan dengan kapasitas siswa yang menjadi isu krusial saat ini.

Artikel terkait: Kurikulum Prototype 2022, Siswa Bebas Tentukan Mata Pelajaran yang Diminati

Aktivis: Belum Layak Menjadi Kurikulum Nasional

Kurikulum Merdeka Jadi Kurikulum Nasional

Namun, ada kritikan dari pihak pemerhati pendidikan. Direktur Eksekutif Bajik, Dhitta Puti Sarasvati, menilai model kurikulum ini masih jauh dari kata ideal. Masih banyak kelemahan, sehingga dibutuhkan evaluasi menyeluruh sebelum ketok palu menjadi kurikulum nasional.

“Kurikulum Merdeka belum layak menjadi Kurikulum Resmi Nasional. Hal yang paling esensial yang harusnya ada dalam kurikulum resmi malah belum ada, yakni kerangka kurikulumnya,” ungkap Puti, melansir laman Detik.

Puti menyebut sebelum menjadi kurikulum merata di seluruh Indonesia, harus ada naskah akademik yang menjadi dasar pemikiran, yaitu:

  • filosofi kurikulum (termasuk tujuan dan prinsip dasar),
  • kerangka kurikulum secara keseluruhan
  • bidang studi. Bidang studi juga harusnya memuat tujuan dan capaian belajar dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dan harus ada tujuan belajar yang menjadi acuan guru menyusun kegiatan belajar harian.

Puti mengemukakan bahwa kerangka bidang studi per mata pelajaran ada yang sudah baik tetapi ada juga yang perlu direvisi. Oleh karena itu, Puti berharap semua guru Indonesia sudah dibekali pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni untuk menerjemahkan Capaian Pembelajaran.

Namun faktanya, masih banyak guru yang kesulitan dalam aspek tersebut.

“Kalau hanya sekadar digunakan bisa saja digunakan. Namun sebagai kurikulum resmi nasional, Kurikulum Merdeka perlu banyak penyempurnaan. Saya mendesak Kurikulum Merdeka dievaluasi secara total dan diperbaiki,” tegas Puti.

Seperti Apa Kurikulum Merdeka Mendukung Tumbuh Kembang Anak?

Kurikulum Merdeka Jadi Kurikulum Nasional

Serupa tapi tak sama, ada perbedaan kurikulum model Merdeka ini dengan kurikulum sebelumnya, yakni:

  • Jika sebelumnya jenjang SD memisahkan mata pelajaran IPA dan IPS, pada kurikulum ini keduanya digabung menjadi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).
  • Di tingkat SMP, mata pelajaran informatika yang sebelumnya bersifat pilihan, nantinya akan dianggap wajib.
  • Untuk pelajar SMA, pemilihan jurusan dilakukan melalui diskusi antara wali kelas, guru BK, dan orang tua siswa.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikbudristek, Zulfikri Anas, menuturkan aspek yang ditekankan kurikulum ini untuk mendukung tumbuh kembang anak, Parents. Yaitu sebagai berikut:

  • Mengenal Kepribadian Anak Sebelum Pembelajaran. Tahap ini dapat dilakukan melalui olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olahraga.
  • Pembelajaran Berbasis Proyek. Jika selama ini belajar terfokus pada materi semata, Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi guru memberikan materi belajar. Materi disesuaikan dengan kenyamanan anak dan rasa bebas belajar sesuai minat. Termasuk menyusun proyek yang sesuai dengan materi yang ada.
  • Tidak Berpusat pada Baca, Tulis, dan Berhitung. Kurikulum Merdeka juga tidak memusatkan pelajaran hanya pada calistung saja. Semua disesuaikan dengan model anak menyerap pelajaran.
  • Pendampingan Orang Tua. Tak kalah penting, harus ada orang tua yang mendampingi anak dalam proses belajar. Rumah tetap gerbang utama pendidikan sebelum anak berangkat ke sekolah.
  • Pendidikan Karakter. Tak hanya kesiapan dalam hal fisik dan otak, pendidikan karakter turut dikedepankan. Hal ini agar siswa bisa beradaptasi dengan tantangan di masa mendatang.

Parents, bagaiman menurut Anda, setujukah dengan Kurikulum Merdeka?

Cerita mitra kami
Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!
Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!
Anak Aktif, Orang Tua Tenang:  Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik
Anak Aktif, Orang Tua Tenang: Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik
“Kumara Holiday Program" Kembali Hadir di Akhir Tahun Ini Program di Alam Terbuka untuk Anak Usia 2-12 Tahun
“Kumara Holiday Program" Kembali Hadir di Akhir Tahun Ini Program di Alam Terbuka untuk Anak Usia 2-12 Tahun
Seminar Edukasi Tenaga Kesehatan dalam Memperingati Hari Prematur Sedunia 2025
Seminar Edukasi Tenaga Kesehatan dalam Memperingati Hari Prematur Sedunia 2025

Baca juga: 

Mengenal Apa itu Kurikulum Merdeka Belajar, Opsi Pemulihan Pendidikan di Era Pandemi

Tak Kalah Penting dari Akademis, Ini Cara Mengasah Soft Skill Anak

Riset Gaya Belajar Favorit Anak Indonesia, 85,3% Senang Belajar Lewat Game

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Erinintyani Shabrina Ramadhini

  • Halaman Depan
  • /
  • Berita Terkini
  • /
  • Bakal Jadi Kurikulum Nasional 2026, Kurikulum Merdeka Panen Kritik Aktivis
Bagikan:
  • Cara Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax, Wajib Catat!

    Cara Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax, Wajib Catat!

  • Apa Itu Child Grooming Modus Pelecehan pada Anak? Ini Kata Psikolog!

    Apa Itu Child Grooming Modus Pelecehan pada Anak? Ini Kata Psikolog!

  • Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak, Ini Manfaatnya Kata BKKBN!

    Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak, Ini Manfaatnya Kata BKKBN!

  • Cara Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax, Wajib Catat!

    Cara Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax, Wajib Catat!

  • Apa Itu Child Grooming Modus Pelecehan pada Anak? Ini Kata Psikolog!

    Apa Itu Child Grooming Modus Pelecehan pada Anak? Ini Kata Psikolog!

  • Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak, Ini Manfaatnya Kata BKKBN!

    Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak, Ini Manfaatnya Kata BKKBN!

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti