Ayah dan anak selamat saat digulung tsunami Banten, bagaimana kisahnya?

Ayah dan anak selamat saat digulung tsunami Banten, bagaimana kisahnya?

Inilah kesaksian seorang ayah yang menjadi korban tsunami, ia dan anaknya berhasil selamat dari tsunami Selat Sunda. 

Kisah korban tsunami di Selat Sunda membuat haru seluruh masyarakat. Jumlah korban terbanyak dan daerah yang kerusakannya paling parah akibat tsunami ini adalah daerah pesisir di Kabupaten Pandenglang.

Daerah ini merupakan kawasan wisata pantai dengan fasilitas hotel dan vila yang berderet di sepanjang pantai. Beberapa dari korban sempat menceritakan kejadian kedahsyatan tsunami tersebut.

Inilah kesaksian seorang ayah yang menjadi korban tsunami, ia dan anaknya berhasil selamat dari tsunami Selat Sunda. 

Korban tsunami yang selamat sudah kembali ke rumah

Senin (24/12/2018) lalu, para korban tsunami Selat Sunda yang selamat, tiba di rumahnya masing-masing. Mereka berasal dari Kacamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Para korban yang selamat ini tiba dengan bus bercat putih pada pukul 07.30 WIB.

Kedatangan para korban tsunami diwarnai isak tangis keluarga dan tetangga. Satu persatu korban turun dari dalam bus. Isak tangis tak terbendung, para korban langsung disambut oleh keluarganya.

Para korban tsunami ini banyak yang mengalami memar, lecet dan luka robek di setiap bagian tubuh. Kebanyakan mereka terkena benturan benda tumpul. Ada juga yang mengalami luka robek di bagian kaki dan kepala.

korban tsunami

Foto: Wisma Putra/detikcom

Salah satu korban selamat, Devin Herginsa (28), mengisahkan bagaimana detik-detik sebelum tubuhnya digulung gelombang tsunami. Saat itu Sabtu, (22/12/2018) malam, ia bersama keluarga besar sedang berada di salah satu vila di kawasan Pantai Carita, Banten.

Menurutnya ketinggian air sekitar lima sampai tujuh meter. Pada waktu kejadian, sebagian ada yang istirahat di dalam vila, sedangkan yang lainnya asyik membakar ikan.

“Vila kami kedua dari bibir pantai, berjarak sekitar 100 meter. Jadi pas tsunami terjadi, vila kami diterjang gelombang tsunami,” ucap Devin.

Bagaimana korban tsunami ini berhasil menyelamatkan anaknya?

Menyadari tsunami terjadi, Devin berteriak sambil menyelamatkan sang anak, Raka Putra (3 tahun). Sedangkan istrinya, Siti (27 tahun), terpisah lantaran tidak berbarengan.

“Saya teriak-teriak ‘ada tsunami…tsunami’. Lalu air sudah menghantam tubuh saya. Kejadiannya sekitar Pukul 21.30 WIB. Saya tidak di pantai, sedang di vila. Saya sadar-sadar sudah terhantam ke bus dan pohon,” ujarnya.

Devin berupaya mengangkat anaknya ke atas meski tubuhnya terseret air. “Saya langsung nyelamatin anak saya. Anak enggak saya lepas. Anaknya terus saya pegang, saya juga enggak sadar keluarga ada dimana. Bahkan istri juga pisah karena pada waktu kejadian tidak bersama. Dari pagi bertemu dengan istri jam dua siang (kemarin),” tuturnya.

Saat air surut, Devin dan anaknya bergegas ke dataran tinggi. Sejumlah orang panik sambil berlarian. 

“Saya langsung lari, untuk menyelamatkan diri,” katanya.

Devin berujar sebelum kejadian tsunami itu tidak ada gempa dan tanda peringatan berupa sirine. “Tidak ada, cuman ada gemuruh seperti pesawat,” ucapnya.

Dia mengatakan para korban selamat rata-rata mengalami luka robek. Empat orang yang merupakan anggota keluarga Devin yaitu Ita Purnama Sari (27 tahun), Rida (40 tahun), Feni (30 tahun) dan Fico (4 tahun) tewas karena tertimpa reruntuhan bangunan.

Menurut Devin sebagian anggota keluarga yang tidak sempat menyelamatkan diri tersebut ada yang sedang tidur, menonton tv, dan berada di ruang tengah. 

Selain melanda daerah pesisir di pantai barat Provinsi Banten yaitu Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang, bencana tsunami ini juga berdampak di pantai selatan Provinsi Lampung meliputi Kabupaten Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran.

Sumber: Detik.com 
Foto: Wisma Putra/detikcom

Baca juga: 

Jelaskan pada anak-anak bagaimana cara menghadapi tsunami

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

Kiki Pea

app info
get app banner