Aziza, Gadis Kecil yang Bangkit Memecah Sunyi dari Tuli Bawaan Lahir

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Aziza adalah seorang anak usia 2,5 tahun yang mengalami profound hearing loss atau gangguan pendengaran sangat berat. Koklea dan sensor pendengarannya yang terganggu memaksanya untuk hidup dalam sunyi. Kini, Ibunya berjuang untuk memecah kesunyiannya.

Illian tidak pernah mengenal penyakit congenital sensorineural hearing loss atau gangguan pendengaran sensorineural bawaan sebelumnya. Penyakit yang juga sering disebut tuli bawaan lahir ini membuat Aziza hidup dalam sunyi selama 2,5 tahun.

Selama ini, keluarga hanya mengira bahwa Aziza cuma mengalami keterlambatan bicara saja. Walau mereka kerap penasaran mengapa Aziza jarang merespon panggilan.

Akhirnya Illian dan suaminya segera membawanya ke dokter. Aziza kemudian melalui serangkaian tes berupa tympanometry, Berra, ASSR,dan OAE.

"Saat kembali ke Indonesia setelah menempuh S2 di Universitas Melbourne, Australia, saya baru tahu bahwa ternyata Aziza tidak bisa mendengar suara apapun. Jadi, saat saya menyanyikan lagu nina bobok untuknya, dia tak dapat mendengar suara saya. Dunia terasa runtuh rasanya."

Mantan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) ini kaget bahwa ternyata Aziza telah mengalami kesunyian dari 2,5 tahun yang lalu. Artinya, Aziza tidak dapat mendengar apapun sejak ia lahir. Akhirnya ia memutuskan untuk resign dari pekerjaan untuk fokus mengurus Aziza.

Peraih beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) dari pemerintah Australia ini sempat sedih dengan keadaan Aziza. Setelah menghabiskan banyak waktu dengan menangis, akhirnya ia memutuskan untuk tidak putus asa, Apalagi, kesunyian Aziza bukan tanpa solusi.

Untuk mengakhiri kesunyian anak ketiganya ini, dokter memberi solusi dengan pemasangan Chochlear Implant atau Implan koklea yang ditanam di kepala. Implan tersebut juga harus dibarengi dengan prosesor suara yang dipasang di luar kepala.

Berkat BPJS, seluruh pemeriksaan, operasi, rawat inap, dan obat-obatan didapatkan secara gratis. Tim dokter yang mendampingi Aziza pun cukup lengkap, terdiri dari spesialis THT, spesialis tumbuh kembang anak, spesialis neurologi anak, psikiatri anak, dan dokter spesialis anestesi.

Sayangnya, Cochlear Implant dan prosesor suara sangat mahal. Satu pasang implan dan prosesor harganya bervariasi antara Rp 160 juta - Rp 580 juta dengan teknologi terbaru. illian dan suami ingin membeli alat implan yang bagus. Namun untuk seorang suami yang berprofesi sebagai PNS dan illian yang ibu rumah tangga tanpa penghasilan, 580 juta tidak terjangkau harganya.

Implan koklea untuk tuli bawaan lahir

Cochlear implant dan sound processor yang akan dipasang di kepala Aziza. Sumber foto: Gigaom.com

Beberapa kawan Illian yang bersimpati dengannya memulai inisiatif untuk menggalang donasi pembelian Cochlear Implant dan prosesor suara untuk Aziza. Penggalangan donasi itu disebar lewat sosial media dan berbagai grup chatting.

Hasilnya, selama dua minggu terkumpul donasi sebesar Rp 233 juta. Kekurangan biaaya lain ditutup dengan menggunakan tabungan dan menjual barang-barang pribadinya.

Karena jumlah uang belum mencapai 580 juta, diputuskan bahwa untuk sementara Illian dan suami hanya akan membeli satu Cochlear Implant dan prosesor suara seharga Rp 320 juta. Nantinya, implan ini bisa dipakai Aziza seumur hidup.

Selama menunggu masa operasi pemasangan implan, Aziza menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD) sementara.

Halaman selanjutnya, penjelasan tentang tuli kongenital atau tuli bawaan lahir..

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia