Viral; Kakak Mencabuli Adik Angkat di tempat umum, Waspadai Kekerasan Seksual di dalam keluarga

Viral; Kakak Mencabuli Adik Angkat di tempat umum, Waspadai Kekerasan Seksual di dalam keluarga

Foto seorang remaja mencabuli seorang gadis kecial di tempat umum ini menggemparkan warganet. Belakangan diketahui gadis tersebut ternyata adalah adik angkatnya sendiri.

Berita ini sangat mengejutkan kakak mencabuli adik. Kami benar-benar berharap keadilan dapat ditegakkan, dan gadis kecil ini tidak akan mengalami hal serupa di masa depan.

Kakak mencabuli adik angkat

Baru-baru ini, sebuah foto merekam seorang remaja, diidentifikasi bernama Duan, mencabuli adik angkatnya sendiri di tempat umum. Foto tersebut dengan cepat tersebar melalui sosial media Weibo, dan berhasil menggemparkan warga Cina.

Kakak mencabuli adik angkat. Foto: Weibo

Kakak mencabuli adik angkat. Foto: Weibo

Dikabarkan AsiaOne, foto tersebut sudah beredar sejak tanggal 12 Agustus 2017, dan terjadi di stasiun kereta api Nanjing Selatan di Cina.

Menurut saksi yang mengambil foto, keluarga yang terdiri dari dua orangtua dan satu laki-laki remaja sedang duduk di ruang tunggu. Sementara seorang gadis kecil, usia kira-kira 12-13 tahun, berdiri di samping mereka.

Tak berapa lama, si remaja yang berusia 18 tahun tersebut meminta si gadis kecil yang merupakan adik angkatnya, duduk di pangkuannya. Tak disangka, ia kemudian menyelipkan tangannya ke dalam baju yang dikenakan sang adik dan mulai meraba-raba payudaranya di depan umum.

Yang lebih mengejutkan lagi, gadis tersebut terlihat biasa dan tidak melakukan perlawanan. Bahkan kedua orangtua mereka seperti tidak keberatan.

Saksi bernama Chen, mengatakan kepada AsiaOne, “Awalnya saya melihat gadis tersebut duduk di pangkuan remaja pria, dan saya pikir ia sedang menggelitiknya. Saya tercengang saat menyadari bahwa tangannya tidak berada di pinggangnya, tapi di dadanya.”

“Selama dicabuli, gadis itu hanya bermain dengan ponselnya dan sama sekali tidak melawan. Ayah remaja itu kemudian menyadari bahwa orang-orang sekitar mengawasi mereka, dan meminta anaknya untuk berdiri dan meninggalkan tempat itu.”

Chen sangat khawatir dengan keselamatan gadis kecil itu. Dia segera memberitahu Chen Lan, seorang penulis dan pekerja LSM yang bekerja membantu anak-anak yang menjadi korban kekerasan. Chen Lan kemudian memposting foto tersebut dan melaporkannya ke polisi.

Kini remaja laki-laki tersebut telah ditangkap, dan jika terbukti bersalah, ia akan dijatuhi hukuman 5 tahun penjara. Namun, Chen Lan khawatir ia akan lolos. “Pihak monitor mungkin akan memberikan banyak alasan dan menyangkal bahwa itu adalah pelecehan seksual. Mereka mungkin bersikeras bahwa itu merupakan sentuhan normal dalam anggota keluarga.”

Ia juga sangat menyayangkan kondisi di mana gadis kecil yang diadopsi sejak tahun 2009 tersebut dikembalikan ke keluarga mereka sementara penyidikan berlangsung.

“Anak-anak yang dilecehkan harus diisolasi langsung dari anggota keluarga dan dibantu oleh para profesional, termasuk petugas medis, ahli psikologis dan pekerja sosial,” katanya seperti dikutip CGTN.

Pelecehan seksual di dalam keluarga

Kenyataan ini sungguh menyedihkan, tapi memang kebanyakan kasus pelecehan seksual terhadap anak terjadi di dalam keluarga itu sendiri. Pelaku kerap adalah anggota keluarga atau kenalan para korban.

Maka dari itu saat pelecehan dan kekerasan seksual terjadi, korban menjadi sulit mengungkapkannya karena beberapa hal ini:

  • Tidak sadar bahwa yang ia alami adalah pelecehan seksual; kekerasan seksual tidak selamanya menimbulkan rasa sakit, jadi korban tidak merasa dipaksa menerima tindakan tersebut.

Dan dalam skenario yang terjadi pada gadis kecil di atas, pelecehan telah terjadi untuk waktu yang lama, sejak korban masih sangat kecil. Sehingga ia dituntun untuk percaya bahwa pencabulan tersebut adalah bagian dari interaksi normal antara saudara kandung.

  • Korban mungkin menikmatinya; sekali lagi, pelecehan tanpa rasa sakit bisa menimbulkan pemahaman yang menyesatkan.
  • Rasa takut terhadap pelaku; korban cenderung merasa takut (atau kadang kasihan) terhadap pelaku, dan merasa jika mengadu ia akan mendapat masalah.
  • Khawatir terhadap reaksi orangtua; banyak korban khawatir bahwa mengungkapkan apa yang terjadi akan menyakiti orangtua mereka. Juga anggapan bahwa hal-hal yang terjadi dalam keluarga harus dijaga sendiri. Istilah ‘aib keluarga’ seringkali menghalangi korban untuk mengungkapkan kebenaran.

Bagaimana menurut, Parents? Pernahkah Anda melihat atau mengalami sendiri kasus seperti ini? Bagaimana Anda menyikapinya? Mari berbagi di kolom komentar.

 

Artikel diterjemahkan dari theAsianparent Singapura

Baca juga:

Pelecehan Seksual Murid TK di Bogor; Pihak Sekolah masih mempekerjakan tersangka

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner