Hati-hati, Obat Batuk dan Pilek yang Dijual Bebas juga Bisa Berbahaya

Hati-hati, Obat Batuk dan Pilek yang Dijual Bebas juga Bisa Berbahaya

Penentuan dosis yang belum standar dan berdasar pada reaksi orang dewasa, membuat obat batuk pilek yang dijual bebas berpotensi membahayakan anak.

Sejak tahun 2008 FDA telah merekomendasikan untuk melarang pemberian obat batuk dan pilek yang dijual bebas untuk anak di bawah 2 tahun.

Sementara rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics) terbaru menyebutkan bahwa penetapan dosis pada obat batuk dan pilek anak, sebaiknya berdasar berat badan bukan usia. Alasannya, penetapan dosis berdasar berat badan lebih akurat, dibanding usia.

Di Indonesia, peraturan penggunaan obat ini memang belum ada; namun pada buletin InfoPOM Volume 16, pada rubrik Swamedikasi, “Bersin-Bersin dan Hidung Tersumbat”, BPOM menyarankan agar tidak memberikan sembarang obat pilek pada anak di bawah 12 tahun dan bayi di bawah 9 bulan.

Bahaya obat batuk dan pilek pada anak

Penelitian terhadap obat batuk dan pilek yang dijual bebas telah membutikan bahwa obat ini tidak menyembuhkan batuk atau pilek yang si kecil derita. Hal ini mungkin saja terjadi karena penelitian efektivitas, efek samping obat ini kebanyakan hanya dilakukan pada orang dewasa.

Dosis yang ditetapkan pada kemasan pun umumnya merupakan hasil ekstrapolasi dosis pada orang dewasa, sehingga adanya produk obat batuk yang dijual bebas dengan berbagai komposisi ini dihawatirkan akan menimbulkan kecenderungan overdosis akibat ketidaktahuan orangtua.

Padahal, umumnya orangtua di Indonesia menggunakan obat untuk penyembuhan. Tambahan lagi obat batuk yang dijual bebas umumnya tersedia dalam bentuk kombinasi beberapa zat kimia pereda batuk (Saripediatri Volume 14).

Hal ini tentu saja berbahaya, mengingat batuk sebetulnya merupakan refleks fisiologis tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dan paru-paru dari mikroorganisme, lendir, dan benda asing. Dan penekanan refleks ini (dengan memberikan obat batuk) bisa jadi justru membahayakan pada anak.

Efek samping obat tanpa pengawasan dokter

Meskipun di jual bebas, orangtua haruslah memperhatikan penyebab serta jenis batuk pada anak, sebelum mulai memberikan obat batuk dan pilek pada anak. Caranya, tentu saja membaca indikasi yang biasanya disertakan pada kemasan obat.

Bila tidak, dikhawatirkan bahwa efek samping yang bisa ditimbulkan dari penggunaan obat ini dapat membahayakan si kecil.

Efek samping yang paling umum terjadi adalah rasa mengantuk yang berlebih, mual, naiknya tekanan darah, dan jantung berdebar.

Jenis obat batuk dan pilek yang dianggap membahayakan anak

Ada empat kategori obat batuk yang keamanannya pada anak masih dipertanyakan, yaitu:

  1. Obat batuk suppresant; seperti namanya, obat batuk jenis ini ditujukan untuk menekan/ mengurangi batuk yang dirasakan. Kandungan utaman obat batuk ini adalah dextromethorpan atau DM.
  2. Obat batuk expectorant, yaitu obat batuk pengencer dahak. Kandungan utama obat batuk ini adalah guaifenesin.
  3. Obat batuk decongestan; untuk mengatasi hidung tersumbat. Pseudoephidrine dan phenylephrine biasanya merupakan senyawa obat yang digunakan dalam obat ini.
  4. Beberapa antihistamin dalam bentuk brompheniramine, chlorpheniramine maleate, dan diphenhydramine.

Bila berniat memberikan si kecil obat batuk dan pilek

Bila memang Parents merasa perlu untuk memberikan obat pada si kecil, rekomendasi panduan dari FDA berikut ini dapat menjadi pertimbangan:

  • Jangan berikan obat untuk dewasa, selalu gunakan obat yang memang untuk anak-anak.
  • Jangan mencampurkan obat ini dengan pengobatan lain, meski obat tersebut termasuk jenis obat yang dijual bebas; kecuali atas saran dari dokter.
  • .Ikuti dengan hati-hati instruksi pada kemasan.
  • Gunakan alat ukur yang disertakan dalam kemasan obat.
  • Bawalah si kecil ke dokter segera bila gejala semakin memburuk atau tidak membaik dalam beberapa hari (bisanya 3 hari).
  • Selalu gunakan obat atas rekomendasi dokter bila si kecil berusia kurang dari 6 bulan.

Alternatif obat

Merujuk pada jurnal kesehatan Sari Pediatri, berikut adalah tindakan suportif yang bisa orangtua berikan ketika anak mengalami batuk dan pilek.

  • Memberikan anak lebih banyak minum air hangat.
  • Inhalasi atau penguapan dinilai bisa mengurangi gejala kongesti yang dirasakan.
  • Menghangatkan bagian tenggorokan dengan balsam terbukti mampu mengurangi gejala batuk di malam hari, hidung tersumbat, dan kesulitan tidur.

Rekomendasi lain saat anak menderita batuk atau radang tenggorokan adalah dengan memberikannya madu. Namun ingat, tips ini hanya berlaku untuk anak usia 1 tahun ke atas. Sementara untuk mengatasi hidung tersumbat, tinggikan kepala anak saat ia tidur.

Semoga informasi diatas membuat kita lebih berhati-hati saat memberikan obat untuk anak ya, Parents.

Artikel terkait: Resep Obat Herbal untuk Anak

Referensi: WebMDLivescienceInfo BPOM

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner