5 Alasan Bahwa Jadi Ayah Rumah Tangga Bukanlah Sebuah Aib bagi Lelaki

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Menjadi ayah rumah tangga sering dianggap sebelah mata. Padahal, ada banyak alasan mengapa profesi tersebut bukanlah sebuah aib.

Sebenarnya, sudah sejak jaman dahulu selalu saja ada ayah yang berperan menjaga anak-anak dan mengurus urusan rumah tangga sementara istrinya bekerja di luar rumah. Namun, topik seputar ayah rumah tangga ini sering jadi isu sensitif karena stigma yang beredar di masyarakat.

Kalau ibu rumah tangga dianggap lumrah, mengapa ayah rumah tangga tidak?

Dampaknya, banyak ayah yang malu dengan perannya sebagai ayah rumah tangga dan banyak ibu yang tertekan dengan statusnya sebagai wanita karir yang bekerja di luar rumah.

Padahal, menjadi ayah rumah tangga sebenarnya bukanlah aib, melainkan pembagian peran dalam keluarga yang disepakati bersama.

Berikut 6 alasan mengapa peran sebagai ayah rumah tangga bukanlah sebuah aib:

1. Berbagi peran

Banyak perempuan yang terpaksa menyerah pada pencapaian karir dan cita-citanya saat menjadi ibu demi anak-anak dan keluarga. Sedangkan, ada banyak lelaki yang tak perlu menyerah pada cita-citanya hanya karena menikah dan berkeluarga.

Namun, tak semua orang bisa seperti itu. Beberapa lelaki yang suportif akan terus mendukung istrinya untuk berkarya karena hal itu juga baik untuk menjaga kepercayaan diri dan baik untuk kesehatan mental istrinya.

Sudah banyak penelitian tentang manfaat anak melihat ibunya bekerja, terutama dampak positifnya pada anak perempuan. Sedangkan, melihat ayah menjalankan tugas sehari-hari di rumah juga mengajarkan anak untuk tidak membeda-bedakan pekerjaan berdasarkan jenis kelaminnya.

Berbagi peran sesuai dengan kesepakatan akan sehat untuk keluarga. Karena, untuk mencapai sebuah tujuan rumah tangga yang diidamkan, memang terkadang harus ada salah satu yang mengalah, entah ayah maupun ibunya.

2. Ayah juga bisa jadi orangtua yang baik

Banyak orang mengira bahwa penjaga utama anak-anak yang terbaik adalah ibunya. Hal itu seringkali membuat beban para wanita bertambah sebagai ibu sehingga ia yang paling sering disalahkan ketika ada kejadian tertentu yang tidak mengenakkan.

Padahal, ayah pun bisa jadi penjaga sekaligus pendidik yang baik untuk anak-anak. Sudah ada banyak contoh di mana single dad sukses mendidik anak-anaknya sekalipun tanpa ibu.

3. Jika penghasilan ayah di kantor lamanya rendah, mengapa tidak?

Ketimpangan penghasilan kadang menjadi masalah tersendiri. Jika penghasilan istri lebih banyak dari ayah sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk membayar baby sitter juga tinggi, mengapa anak tidak dijaga oleh ayahnya saja.

Seperti halnya ibu rumah tangga yang menolak dikatakan sebagai seorang pengangguran, ayah rumah tangga pun begitu. Menjadi ayah rumah tangga akan sama sibuknya dengan para ibu rumah tangga, mengapa ada saja yang menganggap mereka adalah lelaki pengangguran?

Bacaan terkait: Ibu Rumah Tangga bukanlah seorang pengangguran.

Sambil mencari pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih baik, menjadi ayah rumah tangga bukan sesuatu yang buruk. Butuh adanya pengertian di antara suami istri dan perlu sedikit menebalkan telinga terhadap omongan negatif orang lain.

4. Ayah bekerja dari rumah

Beberapa profesi memang bisa dilakukan seorang ayah dari rumah tanpa harus pergi ke kantor. Misalnya, profesi penulis lepas, desainer grafis, usaha rumahan, maupun profesi lainnya dengan penghasilan yang tak kalah dengan mereka yang bekerja kantoran.

Bukankah bisa bekerja dari rumah sambil menjaga anak-anak adalah pekerjaan yang bagus tanpa perlu mengorbankan keinginan istri untuk mengejar karirnya juga?

5. Keinginan ayah sendiri

Seperti halnya pilihan vasektomi sebagai KB untuk ayah yang biasanya dipilih atas inisiatif sendiri, ayah juga berhak mendiskusikan dengan istri tentang berbagi peran ini.

Bukankah meninggalkan anak di bawah pengasuhan ayahnya sendiri itu jauh lebih menenangkan daripada meninggalkannya dengan suster atau baby sitter?

Apalagi, tak semua lelaki buruk dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Beberapa istri mengakui bahwa suaminya lebih pintar memasak darinya atau lebih bisa merapikan rumah darinya.

Hal ini bukanlah soal mana pekerjaan yang pantas untuk dilakukan oleh lelaki maupun perempuan. Tapi ini adalah soal siapa yang lebih baik dalam melakukan sebuah pekerjaan, maka dialah yang harus mengerjakan pekerjaan itu.

Bukan ditentukan bahwa pekerjaan tersebut harus dikerjakan oleh ayah ataupun ibu hanya karena mereka perempuan ataupun lelaki.

***

Ada hal-hal di dalam rumah tangga sepasang suami istri yang tidak dapat kita ganggu gugat keputusannya. Bahkan, seharusnya kita sendiri tahu diri untuk tidak mengomentari keputusan mereka bersama tentang bagaimana cara menjalani kehidupan rumah tangga.

Ada baiknya untuk menahan diri menyampaikan komentar negatif tentang rumah tangga orang. Hidup sudah berat, tak perlu memberatkan diri dengan mengomentari hal yang bukan urusan kita.

Semoga para ayah rumah tangga dengan ibu yang bekerja di luar rumah dapat menjalankan perannya masing-masing dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab ya...

 

Referensi: Brit, Fit Pregnancy, Esquire

Baca juga:

4 Hal ini Perlu dilakukan Suami-Istri yang Bekerja Agar Bebas Masalah Rumah Tangga

 

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Karir dan bisnis Pernikahan