TAP top app download banner
theAsianparent Indonesia Logo
theAsianparent Indonesia Logo
kemendikbud logo
Panduan Produk
Keranjang
Masuk
  • Kehamilan
    • Kalkulator perkiraan kelahiran
    • Tips Kehamilan
    • Trimester Pertama
    • Trimester Kedua
    • Trimester Ketiga
    • Melahirkan
    • Menyusui
    • Kehilangan bayi
    • Project Sidekicks
  • Anak
    • Bayi Baru Lahir
    • Bayi
    • Balita
    • Prasekolah
    • Anak
    • Praremaja & Remaja
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
    • Pengasuhan Anak
    • Edukasi Prasekolah
    • Edukasi Sekolah Dasar
    • Edukasi Remaja
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
    • Keluarga
    • Doa Islami
    • Pernikahan
    • Seks
    • Berita Terkini
  • Kesehatan
    • COVID-19
    • Info Sehat
    • Penyakit
    • Vaksinasi
    • Kebugaran
  • Gaya Hidup
    • Korea Update
    • Hiburan
    • Travel
    • Fashion
    • Kebudayaan
    • Kecantikan
    • Keuangan
  • Nutrisi
    • Resep
    • Makanan & Minuman
    • Sarapan Bergizi
  • Ayah manTAP!
    • Kesehatan Ayah
    • Kehidupan Ayah
    • Aktivitas Ayah
    • Hobi
  • VIP
  • Event

Angka kelahiran rendah, 4 negara Asia ini bayar warganya untuk punya anak

Bacaan 4 menit
Angka kelahiran rendah, 4 negara Asia ini bayar warganya untuk punya anak

4 negara Asia ini mengalami masalah populasi penduduk. Angka kelahiran rendah, pemerintah pun berikan insentif untuk warga agar punya anak.

Jika di Indonesia pemerintah berusaha menekan angka kelahiran dengan program Keluarga Berencana (KB), lain halnya dengan beberapa negara maju. Finlandia, Perancis, Spanyol dan Amerika adalah contoh negara yang memiliki masalah populasi. Mereka kekurangan bayi, sementara jumlah lansia di sana semakin banyak.

Sementara di Asia, ada negara Korea Selatan, Jepang, Singapura dan China yang mengalami hal serupa. Menyikapi persoalan populasi  ini, pemerintah setempat tidak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan demi mendongkrak angka kelahiran, salah satunya dengan memberi insentif warganya untuk punya anak.

nama bayi e

Banyak kasus dan alasan yang melatarbelakangi masalah populasi dan angka kelahiran yang terus menurun ini. Ketika negara-negara mengalami perubahan ekonomi, efek transisi bukan hanya pada sektor finansial tapi juga berimbas pada populasi.

Angka kelahiran di Korea Selatan

Korea Selatan selama tiga generasi terakhir telah berevolusi seperti beberapa negara lainnya karena industrialisasi yang cepat. Sehingga menyebabkan negara itu berada dalam paradoks terkait populasi masyarakatnya. Negara ini mengalami ‘transisi demografis’, periode di mana populasi membengkak, menurun dan akhirnya membentuk garis datar.

Peristiwa ini kerap terjadi ketika negara-negara yang semakin kaya.

angka kelahiran Korea Selatan

Foto: BBC

Seperti dilansir BBC, data menunjukkan bahwa Korea Selatan memiliki tingkat kesuburan rendah. Rata-rata wanita Korea Selatan hanya memiliki 1,1 anak, lebih rendah dari negara lain. Sebaliknya, rata-rata global adalah sekitar 2,5 anak-anak.

Penurunan populasi ini merupakan bagian dari fenomena sosial yang meningkat di Korea Selatan yaitu generasi Sampo. Kata ‘sampo’ berarti melepaskan tiga hal: hubungan, perkawinan dan anak-anak. Bukan hanya enggan memiliki anak, wanita usia produktif di negara ini juga enggan menikah dan lebih memilih menjalin hubungan kasual dengan pria.

Artikel terkait: Kisah Lucu Kelahiran Anak Pertama, Seorang Ibu Berbagi Cerita

Angka kelahiran rendah, 4 negara Asia ini bayar warganya untuk punya anak

Angka kelahiran telah menurun sejak 1970-an. Selama lebih dari 10 tahun, Pemerintah Korsel telah mengerahkan berbagai upaya untuk menangani masalah ini. Mereka memberikan insentif kepada orang tua yang memiliki anak. Uang yang digelontorkan sebagai insentif pun mencapai lebih dari US$70 miliar (Rp 954,8 triliun).

Di Korsel, ibu hamil mendapat uang untuk biaya pemeriksaan kandungan dan biaya-biaya lainnya terkait kehamilan. Selain itu, ada penitipan anak yang dikelola pemerintah serta penitipan anak swasta yang mendapat subsidi pemerintah. Sayangnya, seberapapun banyaknya pemerintah mengucurkan uang, rupanya tindakan itu tidak pernah cukup mempengaruhi keputusan warganya untuk punya anak.

Minimnya angka kelahiraan di Jepang

angka kelahiran

Dengan angka kelahiran rata-rata hanya mencapai 1,4, peneliti sangat khawatir dengan bom waktu demografis di Jepang. Ini merupakan yang paling rendah sepanjang sejarah Jepang.

Beberapa wilayah di Jepang telah menunjukkan tanda-tanda bom waktu demografis: yakni, populasi muda berkurang, sementara orang-orang lanjut usia semakin banyak.

Serupa dengan Korea Selatan, pemerintah Jepang juga telah menawarkan insentif uang tunai agar penduduknya tertarik memiliki anak. Cara ini cukup membuahkan hasil meski belum memuaskan.

Misalnya di kota kecil Nagi yang mampu menggandakan angka kelahiran dalam sembilan tahun, dari 1,4 anak menjadi 2,8 anak per perempuan.

Artikel terkait: Hal-hal Yang Dirisaukan Ibu Menjelang Kelahiran Anak Pertama

Singapura juga mengalami masalah populasi penduduk

angka kelahiran

Designed by jcomp / Freepik

Singapura memiliki tingkat kesuburan paling rendah di seluruh dunia, yakni hanya 0,83. United Overseas Bank cabang Singapura melaporkan bahwa negara ini mengikuti langkah yang sama seperti Jepang dan Korsel. Pada 2017, persentase penduduk berusia di atas 65 tahun setara dengan jumlah anak-anak di bawah 15 tahun.

Meskipun tenaga kerja di Singapura bertambah tua dan proporsi kaum mudanya menurun, namun para ahli mengatakan, efek bom waktu demografis masih bisa dibalik. Yakni, dengan merekrut lebih banyak pekerja imigran – sesuatu yang belum menjadi fokus Jepang.

Angka kelahiran China menurun drastis sejak tahun 1979 

Kasus di Tiongkok atau China ini menarik. Selama ini China dikenal sebagai negara dengan populasi terbesar sedunia. Hingga pada tahun 1979 Pemerintah China membuat kebijakan kontroversial. Satu keluarga hanya boleh memiliki satu anak untuk menekan tingginya angka kelahiran. Kebijakan ini berhasil namun di luar dugaan, memiliki dampak buruk.

angka kelahiran

Data statistik China menyebut jumlah kelahiran anak pada 2019 adalah yang terendah dalam 60 tahun terakhir. Oleh sebab itu, pemerintah mulai mengambil langkah-langkah lain untuk mendorong kelahiran. Dua tahun lalu, China mulai mengizinkan setiap keluarga untuk memiliki dua anak. Beberapa provinsi bahkan memberikan bonus uang tunai kepada orang tua yang memiliki dua anak.

Namun, kebijakan ini belum mampu menyeimbangkan angka kelahiran. Padahal pemerintah China berharap ada kenaikan angka kelahiran bayi secara pesat pada 2015, saat “kebijakan satu anak’ dicabut. Memang ada sedikit kenaikan angka kelahiran pada tahun tersebut, tapi hanya sedikit.

Cerita mitra kami
Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!
Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!
Anak Aktif, Orang Tua Tenang:  Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik
Anak Aktif, Orang Tua Tenang: Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik
“Kumara Holiday Program" Kembali Hadir di Akhir Tahun Ini Program di Alam Terbuka untuk Anak Usia 2-12 Tahun
“Kumara Holiday Program" Kembali Hadir di Akhir Tahun Ini Program di Alam Terbuka untuk Anak Usia 2-12 Tahun
Seminar Edukasi Tenaga Kesehatan dalam Memperingati Hari Prematur Sedunia 2025
Seminar Edukasi Tenaga Kesehatan dalam Memperingati Hari Prematur Sedunia 2025

Pemerintah provinsi Shanxi utara, mengumumkan bahwa mereka akan memberikan subsidi pernikahan dan membantu membiayai pesta, foto pra-wedding, dan perjalanan bulan madu. Sementara itu, provinsi lainnya bahkan menghapus batas jumlah anak.

***

Bagaimana menurut Anda?

Sumber: National Geographic,BBC

Baca juga:

Ramalan Jam Kelahiran Anak Versi Cina Kuno

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Yuniati Rohmah

  • Halaman Depan
  • /
  • Berita Terkini
  • /
  • Angka kelahiran rendah, 4 negara Asia ini bayar warganya untuk punya anak
Bagikan:
  • Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak, Ini Manfaatnya Kata BKKBN!

    Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak, Ini Manfaatnya Kata BKKBN!

  • Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!
    Cerita mitra kami

    Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!

  • Anak Aktif, Orang Tua Tenang:  Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik
    Cerita mitra kami

    Anak Aktif, Orang Tua Tenang: Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik

  • Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak, Ini Manfaatnya Kata BKKBN!

    Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak, Ini Manfaatnya Kata BKKBN!

  • Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!
    Cerita mitra kami

    Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!

  • Anak Aktif, Orang Tua Tenang:  Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik
    Cerita mitra kami

    Anak Aktif, Orang Tua Tenang: Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik

Daftarkan email Anda sekarang untuk tahu apa kata para ahli di artikel kami!
  • Kehamilan
  • Tumbuh Kembang
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Home
  • TAP Komuniti
  • Beriklan Dengan Kami
  • Hubungi Kami
  • Jadilah Kontributor Kami
  • Tag Kesehatan


  • Singapore flag Singapore
  • Thailand flag Thailand
  • Indonesia flag Indonesia
  • Philippines flag Philippines
  • Malaysia flag Malaysia
  • Vietnam flag Vietnam
© Copyright theAsianparent 2026. All rights reserved
Tentang Kami|Tim Kami|Kebijakan Privasi|Syarat dan Ketentuan |Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti