Tega! Seorang ayah sodomi anak tunggalnya hingga tewas

Tega! Seorang ayah sodomi anak tunggalnya hingga tewas

Lagi-lagi, kekerasan seksual terjadi pada seorang anak. Kali ini, seorang anak jadi korban sodomi ayah kandungnya sendiri.

Lagi-lagi, kekerasan seksual terjadi pada seorang anak. Kali ini, seorang anak jadi korban sodomi ayah kandungnya sendiri.

Adalah M (4) adalah anak semata wayang dari pasangan muda, sang ayah, HB (29) dan sang ibu, M (21), mereka merupakan warga Desa Timbuseng, Kecamatan Patalassang, Kabupaten Gowa, Sulsel.

Sang ayah, yang sejatinya memberikan kasih sayang dan menjadi role model bagi tumbuh kembang anaknya, justru melakukan tindak kekerasan pada putranya sendiri dengan cara melakukan sodomi.

Tidak hanya itu, ia pun sempat menusuk anus putranya dengan potongan kayu hingga membuat putranya meregang nyawa.

Seperti yang diberitakan Detik News, sebelum meninggal korban sempat dibawa  ayahnya menuju pinggir lapangan golf yang berada di Gowa. Di tempat itu, korban dipukul dan disiksa pelaku.

Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga di Polres Gowa, Sulsel, memberikan penjelasan mengenai kasus anak jadi korban sodomi di Gowa. Ia mengatakan pelaku memang berniat menyetubuhi korban, bahkan bahwa korban juga mendapatkan kekerasan seksual dengan sebuah potongan ranting, dimasukkan ke dubur korban.

Lebih mengenaskan lagi, motif di balik peristiwa ini lantaran pelaku merasa kesal dengan korban yang sering memancing emosinya. “Pelampiasannya dilakukan dengan kekerasan,” tambah Shinto.

Selain itu, motif lainnya disebabkan karena pelaku kesal terhadap istrinya. Pasalnya ia memang diketahui sering terlibat pertengkaran rumah tangga dengan istrinya.

anak jadi korban sodomi

Merdeka.com menyebutkan bahwa AKBP Shinto Silitonga memberikan keterangan, “Pelaku melakukan penganiayaan dan tindak kekerasan seksual terhadap anaknya sendiri dilatarbelakangi layanan kebutuhan rohani tidak didapatkan dari istrinya, sehingga anaknya yang menjadi sasaran pelampiasan emosi dan hasrat seksualnya.”

Rupanya, pelaku  melakukan aksi bejatnya, yakni di rumahnya dan di salah satu rumah kosong di tepi jalan dekat lapangan golf.

Shinto Silitonga menejelaskan bahwa korban sudah mendapatkan tindak kekerasan dari sang ayah selama dua hari.

Baca juga : Pelecehan Seksual Anak Membuat Masa Depan Hancur Sebelum Dimulai

Pada hari pertama, saat korban tertidur dan ngompol, emosi pelaku langsung terpancing. Bukannya membantu anak mengangantikan pakaian agar menjadi nyaman, pelaku malah mencubit badan dan kaki hingga korban menangis.

Tidak lama berselang sang ayah melakukan kekerasan seksual dengan menusuk anus korban gunakan potongan kayu dan menyetubuhi dengan cara sodomi. Rupanya, tindak kekerasan tidak berhenti di situ.

Keesokan harinya, korban dibawa ke tempat sepi sekitar lapangan golf. Dikutip dari Kompas.com , saat itu pelaku mengaku akan mengajak jalan-jalan anaknya ke Pantai Losari, Makasar. Namun, setelah itu pihak keluarga justru mendapatkan informasi bahwa korban sudah berada berada di RS Syech Yusuf Sungguminasa. Alasannya, korban terjatuh dari sepeda motor.

Namun, Polisi yang menerima kecurigaan dari warga lalu membawa mayat korban  untuk diotopsi. Pemeriksaan pun berlanjut, hingga akhirnya pelaku  ditetapkan sebagai tersangka. Dan ditahan karena sudah terbukti melakukan tindak kekerasan seksual hingga anak jadi korban sodomi.

Apa yang bisa dipelajari lewat kasus anak jadi korban sodomi oleh ayahnya sendiri?

Terkait dengan kasus ini, psikolog klinis Nadya Pramesrani menandaskan bahwa ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang khususnya orangtua melakukan tindak kekerasan seksual pada anaknya. Namun ia menggarisbawahi, yang perlu diperhatikan adalah  sesulit apapun hubungan suami istri, sudah seharusnya tidak memberikan dampak buruk pada anaknya.

“Faktanya, ada sebuah penelitian yang membutikan ketika orangtua sedang mengalami stres terhadap pasangannya, atau ada isu lain, yang pertama terkena dampaknya umumnya anak. Bentuknya bisa jadi tidak sabar menghadapi anak, batas toleransi sangat rendah pada anak, meskipun mencoba nggak marah tapi tetap saja bahasa tubuhnya berbeda, seperti lebih judes pada anak,” paparnya.

Hal ini terjadi karena secara psikologis orangtua memiliki hubungan yang aman, ada secure attachment. “Di satu sisi memang bagus karena kita akan apa adanya, tapi tanpa disadari jadi take it for granted, karena tidak pasang topeng, sehingga tidak pakai filter lagi. Makanya yang sering jadi sasaran kemarahan itu anaknya.”

Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana caranya agar kita mengetahui pasangan sedang stres atau tidak?

  • Tanda yang terlihat duluan adalah gangguan fisik, apakah saat malam suami sering mengalami kesulitan tidur. Karena gangguan emosional pasti akan terlihat pada kondisi fisik dan perilaku sehari-hari.
  • Apakah sering ada keluhan-keluhan fisik yang terkait dengan keluhan pusing, sakit kepala atau maag. Dokter pun mengatakan bahwa penyakit ini terkait dengan pikiran.
  • Apakah pasangan mudah marah, karena saat emosi tentu akan mudah memancing seseorang untuk lebih cepat marah.
  • Selain itu, jika terkait kebutuhan biologis, kebutuhan makan, minum dan seks, seringkali laki-laki itu akan mengutarakannya secara langsung. Jika tidak mengatakannya, bentuknya akan melakukan tindakan secara langsung.

“Misalnya, saat kebutuhan seksnya ingin dipenuhi, mayoritas laki-laki akan langung meminta atau memberikan ‘kode’ pada pasangannya. Untuk itulah pihak istri perlu memahami apa saja kebutuhan pasangan,”

Harapannya dengan mengetahui apa saja kebutuhan pasangan dan bisa memenuhinya, maka tidak perlu terjadi pelampiasan emosi pada anak. Terlebih hingga berujung maut.

 

Baca juga :

3 Tanda kekerasan seksual pada anak yang wajib Parents tahu

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner