Kasus Positif COVID-19 pada Anak di Bali Melonjak, Faktor Ini Diduga Jadi Penyebabnya

Kasus Positif COVID-19 pada Anak di Bali Melonjak, Faktor Ini Diduga Jadi Penyebabnya

Kasus anak di Bali terkena COVID-19 meningkat tajam, apa penyebabnya?

Kurva kasus Corona di Indonesia nampaknya belum menemui titk terang untuk melandai. Bahkan mulai berdampak pada anak-anak. Hal ini dibuktikan dari angka anak di Bali terkena COVID-19 yang kian meningkat. Menyikapi hal ini, Pemerintah Daerah Bali tidak tinggal diam dan melakukan beragam cara untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut.

Anak di Bali terkena COVID-19 meningkat

Anak di Bali terkena COVID-19 meningkat

Mengutip laman resmi situs Pendataan Penduduk Provinsi Bali, tercatat sebanyak 59 anak usia 0-9 tahun dan 111 anak rentang usia 10-19 tahun terpapar COVID-19. Per Minggu (28/06), terdapat penambahan 3 anak usia 0-9 tahun asal Denpasar serta 4 anak 10-19 tahun terjangkit virus asal Wuhan ini.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya mengungkapkan, sejauh ini anak-anak dan orangtua berusia lanjut yang dinyatakan positif telah mendapatkan penanganan khusus dan menjadi prioritas untuk dirawat di rumah sakit.

Di samping itu, anak yang tak bergejala juga diizinkan dirawat di tempat karantina dengan pengawasan orangtua. “Dengan begitu, balita dan anak-anak kita izinkan satu kamar di tempat karantina dengan orangtua, biasanya ibu. Dengan catatan, ibunya memakai APD lengkap dan sejauh ini bukan tertular ibunya,” jelas Ketut.

Berangkat dari tingginya kasus yang ada, Dinas Sosial P3A Provinsi Bali melakukan aksi Berjarak (Bersama Jaga Keluarga Kita). “Kita bekerja sama dengan kapubaten juga kota untuk membuat aktivitas pengawasan dan kegiatan anak, termasuk memberikan bantuan,” tutur Kasi Kesehatan Dasar Pendidikan dan Kesejahteraan Dinas Sosial P3A Provinsi Bali dr. I Wayan Eka Wijaya.

Menurut Eka, bantuan berupa sembako diberikan pada keluarga yang terdampak khususnya anak-anak. Relawan turut diterjunkan untuk mencari keluarga dengan anak yang rentan, yang kemudian diberikan bantuan spesifik.

Tak ketinggalan, Kepala Dinas Sosial P3A Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra mengimbau agar masyarakat untuk memulai perilaku hidup bersih dan sehat, dimulai dari keluarga sendiri. Caranya, tentu saja dengan melakukan protokol kesehatan, disiplin diri, melakukan deteksi diri, serta saling mengawasi.

Anak di Bali terkena COVID-19 meningkat

Artikel terkait: Corona Membawa Duka, Gelar Pernikahan Satu per Satu Keluarga Tertular hingga Meninggal

Orangtua Tidak Disiplin Menjadi Faktor Kunci

Banyaknya penularan Virus Corona yang pada anak-anak tidak lepas dari peran orangtua, mengingat orang dewasalah yang lebih banyak berada di luar rumah. Hal ini ditegaskan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Bali Dr. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K) yang menyebutkan orang dewasa menjadi sumber yang pertama kali terinfeksi.

Dari banyaknya kasus yang ada, kebanyakan kasus umumnya merupakan OTG (Orang Tanpa Gejala). Merasa tak ada gejala, golongan ini tidak memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit karena merasa sehat.

“Inilah mengapa banyak ditemukan kasus pada anak, karena orangtuanya ditemukan positif tertular. Ini mengindikasikan penerapan protokol kesehatan dalam lingkup keluarga kurang disiplin. Padahal orang yang tidak bergejala saja bisa menularkan virus ini,” tegas Lanang.

Di sisi lain, banyaknya kasus OTG menjadi parameter status imunisasi di Bali sangat bagus sehingga anak yang terinfeksi COVID-19 lebih banyak ditemukan tanpa gejala karena daya tahan tubuh bagus.

“Meskipun dia terinfeksi virus, banyak yang tidak menimbulkan gejala. Artinya tubuh si anak mampu melawan virus tersebut,” pungkasnya.

Untuk itu, ia mengingatkan agar protokol kesehatan tak hanya dilakukan jika keluar rumah namun juga di rumah. Seperti lebih sering mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan masker bila merasakan kondisi tubuh tidak fit.

Setelah keluar rumah dianjurkan untuk mandi, membersihkan semua pakaian dan benda yang digunakan saat keluar rumah sebelum berinteraksi dengan anggota keluarga.

Artikel terkait: Terpaksa Membawa Anak ke Kantor Saat New Normal? Perhatikan 5 Tips Berikut Ini

Anak di Bali terkena COVID-19 meningkat

Dengan banyaknya anak yang terinfeksi, IDAI juga menginstruksikan agar anak tetap di rumah dan melakukan segala aktivitas di rumah. Khusus balita yang masih perlu melakukan imunisasi, lakukan sesuai jadwal dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Kementerian Kesehatan sendiri telah mengeluarkan protokol kesehatan bagi masyarakat umum yang berkegiatan di luar rumah yaitu sebagai berikut:

  • Jaga kebersihan tangan, gunakan hand sanitizer atau sabun lalu cuci dengan air yang mengalir;
  • Jangan sentuh wajah, terutama mata, hidung, dan mulut sebagai pintu masuk virus ke dalam tubuh, selama tangan belum dicuci;
  • Terapkan etika ketika batuk dan bersin, tutup dengan tisu atau lengan atas bagian dalam agar virus tidak menulari orang lain;
  • Gunakan masker selama keluar rumah atau mengunjungi tempat umum;
  • Jaga jarak aman antar satu dengan yang lainnya, setidaknya 1 meter untuk menghindari terjadinya penyebaran virus dari manusia ke manusia;
  • Lakukan isolasi mandiri kapan pun Anda merasa tidak sehat, khususnya jika mengalami demam, batuk/pilek/nyeri tenggorokan/sesak napas; dan
  • Jaga kesehatan dengan konsumsi makanan bergizi seimbang, menjemur badan di bawah sinar matahari pagi, istirahat cukup, dan berolahraga.

Parents, semoga berita terkait anak di Bali terkena COVID-19 bisa menjadi pembelajaran bagi kita sebagai orangtua.

Baca juga : 

KPAI: Kelompok Usia Anak Masih Belum Jadi Prioritas Deteksi Dini COVID-19

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner