TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

10 Kebiasaan Orangtua yang Bisa Merusak Harga Diri Anak

18 Jul, 2016

Tanpa disadari, banyak ungkapan cinta kasih kita kepada anak justru menjadi bumerang bagi perkembangan harga dirinya. Apa saja kebiasaan orangtua tersebut?

Kebiasaan orangtua bisa merusak harga diri anak

Kebiasaan orangtua bisa merusak harga diri anak

Setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Tapi pernahkah kita menyadari bahwa beberapa tindakan kita justru bisa menghalangi tumbuhnya harga diri anak? Berikut 10 daftarnya.

1. "Melabeli" anak

1. "Melabeli" anak

Tidaklah bijak menyebut anak dengan panggilan tertentu karena perilakunya yang salah. Coba ingat bagaimana perasaan kita saat disebut sebagai “anak nakal” atau “anak tidak berguna”?

Koreksilah tindakannya yang salah, bukan malah menjadikannya julukan atau nama panggilannya.

Anak-anak cenderung “mengamini” pelabelan pada dirinya. Kemudian perlahan-lahan semangatnya memudar, dan akhirnya bertindak sesuai dengan label yang diberikan. Jadi, hati-hatilah. Tentu kita tidak ingin anak-anak kita menjadi anak-anak yang tak berguna bukan?

2. Memuji berlebihan

2. Memuji berlebihan

Mungkin kita memuji apapun yang anak lakukan untuk menghargainya. Tapi, cara ini tidak tepat. Pujilah usahanya, bukan hasilnya.

Anak-anak juga perlu belajar mampu menerima kritik yang membangun. Jika ingin memuji anak, cobalah lebih spesifik. Jangan hanya katakan, “Wah, lukisan yang bagus ya,” tapi katakanlah, “Wah, warna langitnya keren banget.” Pujian semacam ini akan membantu anak untuk meningkatkan kemampuan mereka, bukannya malah berpuas diri.

3. Membuat segala hal jadi mudah untuk ana

3. Membuat segala hal jadi mudah untuk ana

Kita tentu ingin si kecil mandiri. Jadi, jangan lakukan apa pun yang bisa ia lakukan sendiri, terlebih bila kegiatan tersebut bermanfaat untuk kemandiriannya kelak.

Cukup beritahu si kecil bagaimana cara melakukannya. Kemudian tahanlah diri untuk membantu. Kuncinya adalah sabar dengan proses yang sedang ia lakukan.

4. Mengharapkan kesempurnaan

4. Mengharapkan kesempurnaan

Seperti kata pepatah, kesalahan dan kegagalan akan menguatkan mental kita. Begitu juga pada anak-anak. Ketika ia gagal, artinya ia akan mendapatkan cara untuk mengatasi kekalahannya, belajar dari kesalahannya.

Menjadi diri sendiri lebih penting dibanding memenuhi standar sosial “kesempurnaan”. Dampingi anak ketika ia berusaha menuang air ke gelas, meskipun artinya akan ada banyak tumpahan air di meja. Jangan lupa tanyakan padanya, apa yang harus ia lakukan ketika melihat tumpahan tesebut.

5. Tidak menyediakan waktu cukup untuk si kecil

5. Tidak menyediakan waktu cukup untuk si kecil

Biarkan anak-anak kita tahu, bahwa ia juga punya hak atas waktu kita. Meskipun kegiatan yang kita lakukan hanya duduk menemaninya tanpa melakukan apa pun, hal ini tetap akan memberikan pengaruh positif pada anak.

Bila kita memang sedang banyak pekerjaan, ajak saja si kecil terlibat dalam pekerjaan tersebut; memperbaiki kran yang bocor misalnya. Atau daripada pergi ke mini market dengan sepeda motor, cobalah berjalan kaki, agar semakin banyak waktu yang kita habiskan bersama si kecil.

6. Sering berkata seolah cinta kita bersyarat

6. Sering berkata seolah cinta kita bersyarat

Seringkah kita berkata, “Ayolah, dik, habiskan makannya. Kalau nggak mau, nanti ibu nggak sayang lagi lho, sama adik.”

Kita mungkin ingin mendorong si kecil melakukan sesuatu. Sayangnya, cara ini justru bisa membuat si kecil percaya jika cinta kita bersyarat.

Ia akan percaya bahwa rasa sayang hanya bisa ia peroleh karena melakukan apa yang diminta. Asumsi ini bisa terbawa hingga dewasa.

Mereka akan melakukan apa pun untuk mendapatkan perhatian atau rasa sayang yang mereka dambakan. Anak-anak yang besar dengan pemahaman ini cenderung rentan akan kekerasan seksual.

7. Memanjakan anak

7. Memanjakan anak

Ijinkan anak membantu pekerjaan rumah, membuat sarapan untuk keluarga atau malah melipat pakaian. Cara ini akan membantu anak bahwa kontribusi mereka dihargai, juga mendorong mereka berinisiatif kelak.

Tugas mencuci piring seusai makan akan membantu anak untuk memahami realitas dunia di luar rumah. Melarang anak-anak membantu malah bisa merusak kompetensi mereka.

8. Mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja

8. Mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja

Berkata, “Oke, kita coba lagi yuk. Bunda/ Ayah akan temani kakak menyelesaikan masalah ini,” merupakan cara lebih efektif untuk membantu anak menyelesaikan masalah.

Dorong mereka untuk memahami rasa frustasi, marah, sedih, atau kecewa. Memahami perasaannya merupakan langkah pertama untuk sebuah solusi. Cara ini juga akan membantu anak-anak memahami bahwa menyimpan segala sesuatunya sendiri bukanlah hal yang baik.

9. Selalu bersikap negatif

9. Selalu bersikap negatif

Melingkupi anak-anak dengan ide yang bisa terus dieksplorasi, akan mendorong perilaku tidak mudah menyerah pada hidup. Jika perlu, tertawalah pada masalah yang sedang dihadapi, ceritakan kisah yang menginspirasi, dan ajarkan anak-anak selalu bersikap positif.

10. Hanya bicara, tapi tidak melakukan

10. Hanya bicara, tapi tidak melakukan

Jika kita tidak bisa menjadi teladan, kemungkinan besar, kita tidak akan bisa menegakkan aturan di rumah. Anak-anak belajar dengan melihat orangtuanya, dibanding dengan mendengar apa yang orangtuanya katakan.

Ref: sg.theasianparent.com

Selanjutnya
img

Penulis

Rahayu Pawitri

  • Halaman Depan
  • /
  • Keluarga
  • /
  • 10 Kebiasaan Orangtua yang Bisa Merusak Harga Diri Anak
Bagikan:
  • Bacaan Lengkap Doa Nisfu Sya'ban, Malam Mulia Penuh Ampunan

    Bacaan Lengkap Doa Nisfu Sya'ban, Malam Mulia Penuh Ampunan

  • Catat! 50 Arti Telinga Berdenging Menurut Primbon Jawa dan Sisi Medis

    Catat! 50 Arti Telinga Berdenging Menurut Primbon Jawa dan Sisi Medis

  • Wajib Baca! Ini Doa agar Pacar Makin Sayang dan Takut Kehilangan

    Wajib Baca! Ini Doa agar Pacar Makin Sayang dan Takut Kehilangan

  • Bacaan Lengkap Doa Nisfu Sya'ban, Malam Mulia Penuh Ampunan

    Bacaan Lengkap Doa Nisfu Sya'ban, Malam Mulia Penuh Ampunan

  • Catat! 50 Arti Telinga Berdenging Menurut Primbon Jawa dan Sisi Medis

    Catat! 50 Arti Telinga Berdenging Menurut Primbon Jawa dan Sisi Medis

  • Wajib Baca! Ini Doa agar Pacar Makin Sayang dan Takut Kehilangan

    Wajib Baca! Ini Doa agar Pacar Makin Sayang dan Takut Kehilangan

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti