Wendra Basarah: Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus Dengan Cinta

Wendra Basarah: Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus Dengan Cinta

Modal utama mendampingi anak berkebutuhan khusus adalah cinta, kasih sayang dan ketulusan. Bacalah kisah nyata yang menyentuh hati ini.

Aku tak pernah membayangkan akan menemui anak berkebutuhan khusus seperti Raditya dalam kehidupanku. Terlebih bila ia adalah anak dari seorang wanita –satu-satunya- yang kucintai.

Umur Raditya 5 tahun ketika aku menjenguknya di RS Budi Asih, tempat ia menjalani operasi keduanya. Tubuhnya tergolek di atas tempat tidur dengan kondisi lemah. Kondisi Radit pasca operasi membuatku terenyuh. Aku tak bisa membayangkan bila aku berada di posisi Radit dan harus menjalani operasi yang demikian menyakitkan.

Radit dideteksi mengidap penyakit Hydrocephalus ketika berusia 4 bulan. Ia baru bisa menjalani operasi sebulan kemudian karena kondisi tubuhnya belum fit.

Operasi shunting (pemasangan selang untuk mengalirkan cairan yang ada di kepala) yang dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf khusus, Dr. Ibnu Benhadi, Spbs. berlangsung baik. Bagi kami, Dr. Ibnu merupakan malaikat penolong di saat kami membutuhkan pertolongan untuk menangani masalah kesehatan terhadap Radit.

Masalah baru muncul pada saat Radit berusia 5 tahun. Selang yang ditanam dalam tubuhnya sudah tidak lagi sesuai dengan ukuran tubuhnya yang terus membesar. Ia harus menjalani operasi kedua.

Operasi ketiga dilakukan  pada bulan berikutnya, karena ada hambatan yang membuat selang di dalam tubuhnya kembali bermasalah. Pada operasi ketiga ini dokter melakukan stuning dengan endoskopi agar dapat menanam selang di tempat yang pas dalam tempurung kepala Radit.

Sejak itu aku mulai mencari informasi terkait masalah kesehatan Radit serta upaya penanganan anak berkebutuhan khusus. Selain mencari informasi melalui internet, aku juga sering berkonsultasi pada dokter dan psikolog.

Perjuangan Elvia, ibu Radit membuatku tersentuh. Kesibukannya sebagai abdi negara membuatnya kesulitan untuk merawat Radit, hingga ia terpaksa mempekerjakan baby sitter selama ia berada di luar rumah. Di luar itu, sesungguhnya ia adalah ibu yang penuh perhatian pada Radit.

Aku sangat ingin menjadi orang yang bisa mengurangi bebannya. Apalagi kulihat Radit memerlukan penanganan serius untuk mengurangi dampak akibat hydrocephalus yang menekan sebagian otaknya, sehingga mengganggu perkembangan motorik kasarnya.

Tidak cukup hanya dengan pengobatan medis biasa, kami pun mencoba cara alternatif di beberapa tempat, mulai Sukabumi, Bogor hingga Banten. Kami yakin pengobatan alternatif ini turut membantu proses perkembangan Radit.

Upaya pengobatan Radit semakin masif ketika aku dan Elvia memutuskan untuk menikah. Kondisi ini memungkinkan aku senantiasa berada di dekat Radit, bahkan ketika aku sedang bekerja.

Pengalaman buruk meninggalkan Radit bersama babysitter baru terungkap setelah aku masuk ke dalam kehidupan Radit dan ibunya. Ini membuatku berinisiatif untuk merawat Radit. Apalagi pekerjaanku di dunia entertainment dan menjadi manajer beberapa selebritis membuatku punya banyak waktu untuk Radit.

Di samping mempercayakan perkembangan motoriknya pada terapis dari RS Hermina, aku juga melibatkan Radit dalam banyak kegiatan.

Bila Radit sedang tidak sekolah, aku mengajak Radit ke tempat kerja. Ia kuajak menghadiri meeting dengan relasi bisnisku. Ia juga turut serta ke lokasi-lokasi syuting. Kemana pun aku pergi, ia senantiasa ada di dekatku.

Mengajak anak berkebutuhan khusus ke tengah-tengah masyarakat amat bermanfaat untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Mengajak anak berkebutuhan khusus ke tengah-tengah masyarakat amat bermanfaat untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Ia anak yang pengertian dan mudah membawa diri, sehingga aku bisa bekerja tanpa banyak gangguan. Hal ini kulakukan agar Radit terbiasa bertemu banyak orang, agar ia menjadi pribadi yang mudah bergaul meski memiliki keterbatasan.

Masa kecilku yang suram, penuh tekanan dan kekerasan, membuatku bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi Radit. Aku tak ingin Radit mengalami kepahitan hidup seperti yang kualami dulu. Namun, aku hanya ingin memberikan kasih sayang, kelembutan serta kebahagiaan. Aku ingin ia tumbuh ceria dan bahagia seperti anak-anak normal lainnya.

Terkadang rasa lelah muncul, setiap kali melihat begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Rasa lelah itu sirna setelah melihat perkembangan luar biasa yang ditunjukkan Radit. Seiring waktu, ia menunjukkan kemajuan yang membuat kami optimis akan masa depannya.

Hydrocephalus yang dideritanya memang membuat perkembangan motorik kasarnya terganggu. Selama 8 tahun kami menyaksikan Radit yang berbaring lemah hingga akhirnya ia bisa bangkit dan duduk sendiri.

Di sisi lain, kemampuan verbal dan inteligensinya berkembang amat baik. Ia sudah bisa bicara sejak usia 1 tahun dan sangat peka. Ia pun sudah bisa memiliki keinginan sendiri dan menunjukkan minat dan bakatnya.

Saat ini Radit berusia 9 tahun. Ia telah tumbuh sebagai anak yang ceria dan mudah bergaul. Pernah suatu hari Radit mengikuti  lomba menyanyi yang diadakan seorang artis untuk merayakan ultah anaknya, dan ia berhasil menjadi pemenangnya. Itulah hadiah yang sangat membahagiakan bagi kami.

Tentu saja, masih banyak yang harus kami lakukan untuk Radit. Meski saat ini Radit sudah bisa sejajar dengan teman-teman di sekolahnya, kami tetap memberikan terapi untuk melaltih sensor motorik kasar dan sensor integritasnya. Kami juga memanggil guru bantu untuk menambah kemampuan akademiknya.

Selama ini, kami tidak pernah menyekolahkan Radit di sekolah khusus bagi anak berkebutuhan khusus. Dari PAUD, TK dan – kini—di SDIT Buah Hati 2, ibunya memilihkan sekolah umum untuk Radit. Elvia berpendapat, Radit layak mendapatkan kesempatan bersekolah dan berteman dengan teman-temannya yang normal.

Aku pun terus mencari pola pengajaran yang pas untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris Radit, karena aku tahu itu termasuk salah satu pelajaran yang ia sukai selain musik dan murotal.

Senyum, salam, sapa, sopan dan santun, merupakan modal dasar yang amat diperlukan anak berkebutuhan khusus agar bisa diterima di tengah masyarakat.

Senyum, salam, sapa, sopan dan santun, merupakan modal dasar yang amat diperlukan anak berkebutuhan khusus agar bisa diterima di tengah masyarakat.

Salah satu modal dasar yang terus kami berikan pada Radit adalah agar selalu menerapkan 5 S, yaitu : Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun kepada siapa saja. Dengan modal tersebut, Radit akan selalu bisa menjalin hubungan dengan siapa pun yang ditemuinya.

Karena itu jangan heran, bila melihat ia menyapa ramah orang-orang yang menatap heran kepadanya, seperti : “Hai, maaf… kenapa kamu melihat saya terus? Aneh ya?”

Ia sungguh anak yang periang dengan rasa percaya diri yang tinggi. Hal itu kuanggap sebagai upah untuk kerja keras kami, terutama ibunya, selama ini. Rasa lelah kami terbayar karena melihatnya tumbuh menjadi anak periang dan bahagia.

Selain mengajarinya untuk selalu menerapkan 5 S, kami pun  mengajarinya mengatakan kata : ”maaf “ dan “tolong” setiap kali ia memulai suatu percakapan. Baik kepada orang yang sudah dikenalnya, maupun belum pernah ditemuinya. Tidak heran bila ia terpilih sebagai Duta 5 S di sekolahnya.

Kami menyadari, sebagai anak berkebutuhan khusus, Radit akan sangat banyak membutuhkan bantuan orang-orang di sekelilingnya untuk bermacam-macam aktivitas yang dilakukannya.

Dalam waktu dekat kami berencana untuk memasukkan Radit ke sekolah musik, karena bakatnya cukup menonjol di bidang ini. Tidak ada yang tidak mungkin. Kami yakin Raditya akan berkembang dengan baik dan mampu menjadi sosok yang mandiri.

Demikian pengalaman yang disampaikan Wendra Basarah pada the AsianParent.com. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah inspiratif di atas.

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner