#CurhatParents: "Suamiku, Diary Berjalanku"

Pandangan dan informasi yang diceritakan di dalam artikel ini merupakan pendapat penulis dan belum tentu didukung oleh theAsianparent atau afiliasinya. TheAsianparent dan afiliasinya tidak bertanggung jawab atas konten di dalam artikel atau tidak bisa diminta pertanggungjawaban untuk kerusakan langsung atau tidak langsung yang mungkin diakibatkan oleh konten ini.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Bukan hal yang aneh, kalau kita mendengar para istri mengeluhkan suaminya. Setidaknya, curhatan seperti ini bisa temukan grup WA, forum, ‘nangkring’ di kolom komentar artikel di Instagram, bahkan kadang langsung didengar dari orang yang baru dikenal.

Kebanyakan dari mereka biasanya memang punya masalah komunikasi dengan suami yang tidak diperbaiki sejak awal. Mungkin juga sudah berupaya tapi tidak ada hasil signifikan.

Bagi saya, seorang istri yang sudah kenal suami saya 14 tahun lamanya – termasuk sebelum menikah merasa sangat diuntungkan dengan durasi ‘kenal’ yang nggak seumur jagung. Tapi ya tetap saja tidak menjami berarti semua berjalan dengan lancar.  

Banyak sekali hal yang kami alami bahkan sebelum menikah. Mulai dari selisih paham,  ribut kecil, hingga ribut besar, debat ringan sampai debat drama kumbara pun rasanya kami sudah khatam. Tapi semakin lama mengenal , semakin tahu apa yang boleh dan apa yang jangan dilakukan supaya tidak semakin memancing api permusuhan.

Setidaknya ada beberapa hal yang kami selalu ingat saat sudah mulai berselisih.

  1. Salah satunya, pantang kabur atau meninggalkan ruangan di tengah-tengah sengitnya keributan.
  2. Kedua , HARUS berdamai betul-betul berdamai sebelum hari berganti.
  3. Ini paling penting, yaitu tidak melibatkan atau cerita ke siapa pun tentang perdebatan yang terjadi sebelum masalah betul-betul selesai dan ada solusi. Termasuk curhat di media sosial!

Kami sejujurnya bukan tipikal pasangan yang salah satunya bisa mengalah, mendinginkan, atau sabar. Kata teman baik kami, kami tuh kalau sedang bertengkar seperi api ketemu LPG. Teruuuusss aja ngegasss sampai gasnya habis, ya, baru berhenti.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Hahahahahhaa….

Kalau ada yang bertanya, kok bisa tahan? Kok, bisa langgeng ? Klise, tapi memang iya,  meminjam kutipan Pak Suami, kami berdua sama-sama berusaha untuk bisa saling membaca untuk bertahan lebih lama

Membaca satu sama lain membuat kami belajar saling mengerti dan memahami bahasa cinta kami seperti apa ? Memahami maunya masing-masing dari kami seperti apa? Membuat kami bisa respect satu sama lain tanpa perlu dijelaskan tentang hierarki suami istri. Kami berdua berteman dalam pernikahan. Itu yang bagi saya salah satu kunci kami bisa bertahan.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Kami memang berteman sejak lama.  Teman akrab yang dipaksa “macarin” anak SMA yang lagi sedih digantungin gebetannya, hahaha. Setelah dekat, hubungan kami tentu saja kami berproses, dari yang dulunya nggak ada perasaan tiba-tiba kami saling membutuhkan. 

Pertemanan kami pun tidak berubah setelah pacaran bahkan menikah. Dari dulu, saya memanggap suamiku, diary berjalanku. Apapun yang saya rasakan, perasaan cemas, ketakutan, harapan dan mimpi besar, semua saya tumpahkan padanya.

Sama dengan pria kebanyakan, meski menganggap suamiku diary berjalanku, tetap saja porsinya  untuk bercerita atau curhat seheboh dan serajin saya. Meski demikan, saya belajar untuk memahami apakah suami sedang ada masalah. Apakah ada yang membuat suami saya tidak nyaman? Atau ada yang berusaha suami saya tutupi? kami sudah terbiasa untuk membaca satu sama lain.

Melatih komunikasi dengan pasangan bagi saya adalah hal paling penting dalam suatu hubungan. Berlatih tidak mengenal hari, bulan dan tahun. Dan tidak ada batasan. Berlatih bicara, mendengarkan pasangan akan pelan-pelan melatih kita untuk percaya pada pasangan.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Tidak perlu lagi ada lagi kasak-kusuk nangis ke Ibu tentang suami, tidak ada lagi mengadu soal suami ke mertua, apalagi ke tetangga. Semua kami selesaikan bersama. Semuanya hanya tentang kami. Masalah kami adalah masalah berdua. Solusinya harus dicari berdua. Bahagianya kita adalah bahagia berdua. Bukan urusan mereka-mereka yang tidah tahu apa-apa.

Setidaknya, saya belajar untuk tidak menceritakan masalah rumah tangga pada siapa pun terutama pada lawan jenis. Jangan!!!

Apalagi sampai melibatkan keluarga besar. Bukannya masalah selesai malah jadi runyam. Selesaikan dulu pokok masalahnya berdua , bicara hati ke hati, ribut sedikit sangat wajar, kok. Asal sudah mencoba bicara dengan ego yang ditekan.

Banyak air mata yang dikucurkan? Tidak ada salahnya juga, kok. Terkadang, menangis bisa menjadi pelepas perasaan yang tepat. Terakhir setelah ribut-ribut yang panjang,  jangan lupa akhiri dengan pelukan dan meminta maaf. Bahkan nggak sedikit pasangan yang mengaku kalau setelah berantem, sesi berhubungan intim makin heboh.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Nah, jadi makin akur kan ?

 

 

Ditulis oleh Nessa Rasyidi, VIPP Member theAsianparent ID

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan