Ini aturannya bilang 'iya' pada anak, Parents wajib tahu!

Kapan mengatakan bilang iya boleh ke anak tidak boleh dilakukan?

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Memberikan anak kebebasan untuk mengeksplorasi dunia tentu menjadi salah satu tugas Parents. Tentunya diawali dengan bilang iya ke anak. Meskipun begitu tetap ada batasannya, lho!

“Bunda…. Aku boleh main pasir ini, nggak? “ “Bunda, aku mau kejar kucing itu ya…” “Waaah… Bunda, hujan! Aku mau coba main hujan, dong, Bunda. “Aku bosan dengan bentuk lego yang ini, boleh aku ubah, ya, Bunda?”

Familiar dengan celoteh anak seperti di atas? Atau, Bunda sering mendapatkan pertanyaan seperti itu? Jika ya, jawaban dan reaksi apa yang Bunda berikan?

Melarang anak atau sebaliknya, bilang iya ke anak?

Mendengar pertanyaan anak di atas, sebagian besar Bunda mungkin akan menjawab ‘Tidak’. Hal ini karena permintaan mereka yang tidak masuk akal, tidak mungkin, atau mungkin berbahaya, tetapi itu tidak benar. Atau bisa jadi, Bunda menjawab ‘Tidak’ secara refleks.

Sebagai orangtua, tentu sudah naluri untuk melindungi buah hatinya, tidak ingin sesuatu hal yang buruk menimpa buah hatinya.  Alhasil, apa pun yang ingin dilakukan anak selalu diperhatikan segi keamanannya. Ya, orangtua mana, sih, yang ingin anaknya celaka? Orangtua mana yang ingin anaknya sakit?

Hasilnya, atas nama rasa khawatir, Bunda pun kerap kali melontarkan kalimat, “Jangan, ya, sayang… nanti kamu sakit.”

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Tapi tunggu dulu, sebelum memberikan larangan pada anak, ada baiknya Parents memerhatikan dampak yang bisa ditimbulkan.

Seperti yang dijelaskan psikolog Ratih Ibrahim, “Anak, kalau terus-terusan  dilarang, apa-apa orangtuanya bilang nggak boleh dan jangan, akibatnya anak jadi nggak berani mencoba sesuatu yang baru. Bagaimana mereka bisa belajar dan bereksplorasi?” ungkapnya saat ditemui TheAsianParent Indonesia di acara Nestle Inspiring Mom yang diadakan beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, daripada orangtua sering melarang anak, justru langkah yang lebih tepat adalah memberikan anak kebebasan untuk belajar dan mengeksplorasi mengenal dunia luar dengan bilang iya ke anak. “Tapi, ya tentu saja ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan saat anak hendak menjajaki pengalaman barunya,” tambahnya lagi.

Baca juga : 5 Tanda Anda Memanjakan Anak

Kapan sebaiknya Parents bisa bilang iya ke anak?

Ratih Ibrahim mengingatkan ada beberapa hal yang perlu diingat saat Parents bilang iya ke anak. Yang pertama, perhatikan dan pastikan lebih dulu bagaimana kondisi anak. Misalnya, sehat, atau tidak.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Ya, tidak mungkin, dong, tetap memaksakan bilang iya saat anak main hujan-hujan, merasakan shower terbesar dan alami, jika kondisi anak sedang tidak fit?

Selain sehat, Parents juga perlu memastikan anak aman. Hal ini merupakan bentuk rasa cinta karena Parents ingin melindungi anak.

“Untuk membuat anak sehat, tentu kebutuhan nutrisi harus terpenuhi. Lalu nggak perlu ‘freak out’ karena nanti malah bikin anak jadi penakut, nggak mau coba hal baru. Terakhir orangtua juga perlu memberikan stimulasi yang sesuai. Dalam arti, kita, orangtua memberi stimulasi sesuai usia dan kemampuan anak,” paparnya.

Hal yang  Parents pelajari dengan bilang iya ke anak

  1. Parents punya anak yang baik

Kadang, ketika Anda mengatakan “Tidak” kepada anak-anak, itu sebenanrhya adalah salah satu cara paling mudah untuk membuat semuanya terkendali. Agar anak-anak tidak membuat kekacauan, tak mengotori rumah, dan tidak menimbulkan masalah.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Namun, sadarilah, ketika Anda mulai berkata iya, suasana justru akan menjadi santai. Anak-anak akan berperilaku lebih baik dari biasanya, penurut, dan akur dengan saudaranya. Anda dan mereka pun juga akan ngobrol dan tertawa lebih sering daripada biasanya.

  1. Apa yang sebenarnya diinginkan anak-anak sering kali benar-benar menyenangkan

Kadang, permintaan anak sebenarnya tidak terlalu aneh, kok. Bahkan sebenarnya sangat sederhana, seperti bikin kostum pahlawan dari kertas, melihat hujan, atau sekadar ingin memberi permen favoritnya kepada adik bayi.

  1. Parents tidak selalu harus mengatakan “Tidak” untuk menolak

Ketika anak bertanya apakah dia boleh menggambar di dinding dengan spidol, jawaban seperti apa yang Parents berikan? Alih-alih langsung menjawab “Tidak”, cobalah diskusikan permintaannya. Katakan padanya bahwa spidol yang akan digunakannya adalah spidol permenen yang tak bisa dihapus. Kemudian bahas juga bahwa ia mungkin akan bosan dengan gambarnya di dinding dalam waktu beberapa hari ke depan. Tapi, mengingat ia ingin sekali ‘mendekorasi’ kamarnya, bagaimana cara yang lebih baik untuk melakukannya?

Mungkin solusinya bisa dengan menempelkan kertas putih di dindingnya sehingga ia bisa tetap menggambar di dinding dan nanti menggantinya kalau bosan.

Bagaimana, apakah Parents sudah siap bilang iya ke anak?

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

 

Baca juga :

5 Tanda Anda Membesarkan Si Kecil Menjadi Anak Manja

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan