Cara Berkata Tidak kepada Balita Tanpa Benar-Benar Berkata Tidak

Kaget dengan perubahan sikap balita Anda yang sekarang suka membantah dengan berkata tidak? Yuk, atasi masalah Parents dengan 4 trik berikut ini.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Parents, sebel nggak sih saat balita kita sering berkata tidak untuk semua hal yang kita perintahkan?

Memasuki usia 2-3 tahun, anak balita sudah mampu menyatakan apa yang mereka inginkan. Baginya, mendebat semua keinginan Parents adalah salah satu cara untuk mendapatkan kepercayaan diri.

Wajar bila saat ia berkata tidak, Parents juga mengatakan hal yang sama. Hasilnya adalah sebuah drama yang seolah tidak akan pernah berakhir.

Apa yang harus dilakukan ketika balita terus berkata tidak

Salah satu cara terbaik untuk mengakhiri pertengkaran dengan si balita adalah mengubah kata atau kalimat bernada negatif menjadi kata atau kalimat yang bernada positif.

Balita, seperti kita juga, tidak akan suka mendengar kata ‘tidak’ sepanjang waktu (eh, kira-kira berapa kali ya, kita berkata “tidak” pada anak-anak kita?). Ini karena kata ‘tidak’ menimbulkan sentimen negatif.

Jadi, cobalah katakan apa yang balita ingin dengar, daripada apa yang Parents ingin ia lakukan.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Misalkan “Jangan guling-guling di lantai dengan baju barumu,” ubahlah menjadi “Adik, bisa duduk saja di sofa ini. Jadi, baju adik tidak akan kotor.”

Nada bicara Parents tentu saja berpengaruh. Saat berkata ‘tidak’ atau ‘jangan’, nada bicara pun akan keras.

Beda halnya bila Parents menggunakan alternatif kalimat afirmasi positif, maka nada bicara Parents pasti akan lebih santai. Nada bicara santai, akan lebih mudah ditanggapi dengan baik oleh balita bukan?

Cara melarang balita, tanpa berkata tidak

#Trik 1 Berkata ‘ya’ pada apa yang ia katakan

Misalkan saat si kecil berkata :

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

“Aku tidak mau tidur sekarang,” menjadi, “Oke, Adik masih belum ingin tidur. Bunda mengerti.”
“Aku mau lihat film itu sampai selesai” menjadi, “Oke, Adik masih ingin nonton film itu. Bunda juga mengerti.”
“Aku mau cupcakes ini lagi” menjadi, “Oh, Adik suka cupcakes ini, ya. Baik, Bunda ngerti kok.”

Parents dapat mengganti kalimat di atas (termasuk kata ‘ya’ dan ‘oke’) dengan kalimat apa pun. Intinya, Parents menunjukkan bahwa Parents berada di pihaknya.

Dengan berada di pihaknya, anak-anak akan lebih terbuka untuk usulan-usulan baru. Saat itu ego si anak mulai turun.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Parents bisa memasukkan alternatif pilihan yang sejalan dengan keinginan Parents seperti kalimat pada trik kedua berikut ini.

#Trik 2 Beri alternatif

“Oke, jadi Adik masih belum ingin tidur? Bagaimana bila kita pilih salah satu hari di akhir pekan ini untuk tidur lebih lambat 15 menit dari jam tidur Adik.

Bunda akan memberi tanda pada kalender, jadi kita berdua tidak akan lupa. Sekarang Adik sebaiknya tidur, agar besok cukup kuat untuk tidur lebih lambat dari biasanya.”

“Oke, Adik masih ingin nonton film itu? Tapi coba lihat tanda di ujung kiri itu, tanda di sana adalah ‘R’ itu artinya Adik boleh menonton film itu ketika sudah cukup besar.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Bunda akan buat catatan di buku Bunda, agar kelak kita bisa menonton film itu sama-sama. “

“Oh, Adik masih ingin cupcakes lagi? Baiklah, Bunda akan simpan cupcakes ini untuk Adik makan esok seusai makan siang. Sekarang mari kita makan buah kesukaan Adik dulu.”

Dengan mengalihkan atau memberi alternatif, anak akan teralihkan pikiran dan perhatiannya.

Mengamati emosi buah hati saya dulu, saya melihat bahwa sebetulnya anak-anak itu kadang hanya ingin ‘menang’ dan diikuti oleh orangtuanya.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Jadi dengan memberi pilihan lain, kita sebetulnya menjauhkan anak-anak dari perebutan siapa yang menjadi pemenang; keinginan Parents atau keinginan anak.

#Trik 3 Tunjukkan bahwa Parents mengerti dan memahami keinginan anak

“Adik masih belum ingin tidur, dan sekarang adik benar-benar kesal kenapa ibu bilang sudah waktunya tidur.”
Atau, “Adik ingin nonton film ini, dan sekarang adik sebel karena harus nunggu besar untuk nonton film itu.”
“Adik ingin makan cupcakes, tapi adik kesal ya, karena harus menunggu sampai besok.”

Menunjukkan bahwa Parents memahami emosi anak akan membuatnya mengerti apa yang sebenarnya yang ia rasakan, dan inginkan.

Balita biasanya akan mudah melunak saat orangtuanya memahami dan tahu apa yang ia rasakan. Bersikukuh pada keinginan Parents malah hanya akan membuatnya ngotot dengan keinginannya juga.

#Trik 4 Dengarkan dengan telinga dan melihat dengan mata ketiga

Menjadi penentu aturan di rumah, tidak berarti segala sesuatu harus berjalan sesuai dengan keinginan Parents. Hal inilah yang sebaiknya mulai kita perbaiki sekarang.

 

Anak-anak kadang ngotot dengan keinginannya sebetulnya karena sebab yang lain.

Seperti saat itu, putri kecil saya ngotot untuk menonton film Toys Story sampai pukul 21.30 WIB, yang artinya setengah jam lewat dari waktu tidur yang telah kami sepakati.

Ujung-ujungnya, kami pun bertengkar, saya mematikan TV dan memaksanya ke kamar.

Di lain waktu, saya bertanya, “Kenapa hari itu Adik tidak turuti Ibu?” Ia menjawab, “Aku capek, kerjaan aku (maksudnya check list kegiatannya) banyak banget. Aku mau santai. Bosan dengan jadwal”.

Sejak saat itulah, saya mencoba belajar untuk melihat dan mendengar “dengan mata dan telinga ketiga.”

Alternatif selain berkata tidak

“Tidak Boleh makan es krim lagi!” menjadi “Bunda tahu adik ingin es krim lagi, tapi terlalu banyak es krim bisa membuat adik kedinginan dan akhirnya pilek.”

“Ayo turun dari meja. Tidak boleh berdiri di meja!” menjadi “Meja untuk menulis, adik bisa bermain dan duduk di kursi.”

“Hei, berhenti lempar-lempar makanan!” menjadi “Makanan itu karunia dari Tuhan untuk dimakan, bukan untuk dilempar-lempar.”

“Jangan rusak tanaman itu!” menjadi “Tumbuhan juga makhluk hidup, ia juga ingin tumbuh. Ayo, perlakukan ia dengan baik.”

“Jangan rebut mainan Kakak, Adik!” menjadi “Di keluarga ini, kita menggunakan kata-kata untuk meminjam, bukan tangan. Ayo, bilang baik-baik.”

“Jangan teriak-teriak, diam!” menjadi “Ayah tidak tahu apa mau Adik, kalau Adik teriak-teriak seperti itu. Kemari, coba bilang pelan-pelan, apa yang Adik mau.”

“Hei, itu handphone Ayah, jangan buat mainan,” menjadi “Dik, boleh Ayah minta handphone Ayah? Ayah harus menelepon. Adik mainan ini dulu, ya.”

“Jangan memukul!” menjadi “Coba tunjukkan pada teman-teman Adik anak yang baik kepada orang lain.”

“Jangan buka sepatumu!” menjadi “Saat di luar rumah, kita pakai sepatu. Karena kita tidak tahu ada benda berbahaya atau tidak di jalan. Jadi, pakai kembali sepatu Adik ya.”

“Tidak, Adik nggak boleh makan permen” menjadi “Adik boleh makan permen setelah makan siang nanti. Sekarang kita makan apel dulu ya.”

“Tidak boleh pukul-pukul meja” menjadi “Kakak ingin main musik? Main keyboard mini aja ya.”

“Tidak boleh main bola di dalam rumah” menjadi “Kalo main bola di dalam rumah, bolanya digulirkan saja. Kalo ingin dilempar atau ditendang, mainnya diluar. Adik pilih yang mana?”

“Berhenti bermain dengan makanan!” menjadi “Bunda tahu, Adik sudah bisa makan dengan rapi. Coba tunjukkan lagi pada Bunda.”

“Tidak, Adik tidak boleh bermain dengan pisau” menjadi “Pisau itu tajam Dik, Adik bisa teriris. Bermain yang lain saja, ya.”

“Tidak, Adik tidak boleh bermain di blok seberang” menjadi “Apakah Adik bisa temani Ayah di halaman belakang?”

Jadi, apakah tidak boleh berkata tidak kepada balita?

Tentu saja kita tetap boleh berkata tidak. Seperti yang pernah kami tulis pada artikel “Alternatif Kata Jangan”, untuk hal-hal berbahaya dan prinsip, kita tentu harus berkata ‘tidak’ atau ‘jangan’.

Jujur saja, sangatlah sulit untuk menghindari kedua kata tersebut dalam keseharian kita. Tujuan dari mencari alternatif kata tersebut adalah mengajarkan kepada balita kita akan konsekuensi setiap pilihan.

Tetap berkata “tidak” tanpa membuat si balita tertekan karena tidak memiliki pilihan.

Hal-hal kecil bisa sangat mengubah hubungan kita dengan anak-anak di rumah. Dengan lebih banyak menunjukkan kita paham keinginan mereka, hubungan kita sebagai orangtua akan lebih terjalin erat dengan anak.

Sementara anak pun tahu, ada konsekuensi dari setiap pilihan. Memahami konsekuensi adalah salah satu bekal anak untuk percaya diri.

Bagaimana, ingin mencoba alternatif kata tidak kepada balita Parents hari ini? Jangan lupa, bagikan ceritanya kepada kami, ya.